Atasi Pengangguran – Pengiriman PMI Ilegal, BLK Desak Pemerintah Turun Tangan

Jakarta, Bhirawa.
Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dulu dikenal TKI Luar Negeri (TKLN), yang dielu-elukan dengan sebutan Pahlawan devisa. Ternyata, kehidupan keluarganya di tanah air, tak semanis sebutan Pahlawan devisa, yang disematkan ke ibu/bapaknya yang PMI. Banyak juga PMI purna kerja, yang uang tabungan nya lumayan besar, kerepotan menentukan langkah hidup seterusnya.

Sementara, banyak tenaga kerja berminat jadi PMI, tak kesampaiann karena terhalang minim nya penguasaan bahasa asing. Dilandasi kenyataan ini, provinsi Jawa Barat membuka Balai Latihan Kerja (BLK) PMI. Disini, para calon PMI bisa memperoleh pelatihan bahasa Inggris, Jepang, Korea, Arab dll.

Bagi PMI purna kerja yang ingin menjadi wirausaha, diberikan pelatihan ber wirausaha. Termasuk pelatihan management nya. Bukan itu saja, BLK PMI juga memberi perlindungan bagi keluarga nya yang berada ditanam air.

“Sebenarnya, banyak hal yang bisa dilakukan BLK PMI untuk membantu para calon PMI maupun PMI purna kerja. Sayangnya, semua peralatan disini sudah out of date, sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masa kini. Ruang pelatihan juga hanya 2 unit. Jangankan untuk membangun asrama, buat calon PMI dari luar kota Bandung,” tutur Kepala BLK PMI Disnaker Jabar di Bandung, Cucu Cahyati Ranita didepan wartawan Ketenagakerjaan (Forwaker), Rabu (7/4).

Cucu Cahyati menyadari,  untuk pengelolaan BLK PMI, dana APBD dari Pemda Jabar memang tidak mencukupi. Seorang calon PMI memerlukan anggaran sebesar Rp17 juta hingga Rp19 juta untuk satu paket pelatihan. Untuk satu periode pelatihan, diikuti 20 hingga 40 orang peserta dalam tempo 21 hari atau 3 minggu.

“Semua anggaran tersebut, diperoleh dari APBD Jawa Barat, yang tentu saja kecil. Maka saya berharap, pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja, memberi tambahan anggaran. Agar BLK PMI ini bisa lebih banyak lagi membantu para calon PMI dalam meningkatkan penguasaan bahasa maupun ketrampilan,” ucap Cucu Cahyati.

Disebutkan, selama ini, pengiriman PMI selalu kalah bersaing dengan pekerja asal Filipina, Vietnam maupun negara ASEAN lainnya. Kekalahan PMI terutama oleh minimnya penguasaan bahasa asing. Apabila PMI dilengkapi dengan penguasaan bahasa asing dan ketrampilan memadai, dipastikan pemberangkatan PMI secara illegal akan berkurang. 

Menurut Cucu Cahyati, perlindungan bagi keluarga PMI diwujudkan dalam bentuk mengurus mereka dari hulu hingga hilir. Lewat kerjasama dengan Dinas Sosial, keluarga PMI yang terlantar diurus dan dilayani oleh Dinas Sosial. Sedang bagi PMI purna kerja yang berkemauan buka usaha, bisa memperoleh pelatihan di BLK PMI. Seperti pelatihan produksi makanan, pengemasan sampai pemasaran.

BLK Mandiri Disnakertrans Jawa Barat, DI Bandung, menyasar para pengangguran berpendidikan SD dan SMP yang besar jumlahnya di Jabar. Sasaran pelatihan di BLK Mandiri ini ditujukan pada sekitar 1,12 juta orang atau 47,48% atau hampir separuh dari jumlah pengangguran di Jabar.

“Quota pelatihan BLK Mandiri Disnakertrans Bandung tahun 2021 ini adalah sebanyak 360 orang. Pelatihan kerja akan dilaksanakan 12 angkatan, dengan perincian setiap angkatan diikuti 30 orang peserta. Setelah pelatihan, peserta bisa membuka usaha sendiri atau mandiri,'” tutur Kepala BLK Mandiri Disnakertrans Jabar di Bandung, Tina Puspita didepan wartawan Forwaker.

Kelebihan BLK Mandiri Jabar, dalam hal menyasar para pengangguran di pelosok desa di Jabar, yakni dengan cara jemput bola. Mobil Training Unit milik BLK Mandiri Jabar berkeliling di desa-desa untuk memberi pelatihan bagi warga desa yang memerlukan. Pelatihan memakai Mobil Training diselenggara kan di desa-desa yang lokasinya jauh dari BLK.

“Masyarakat di pelosok desa atau daerah terpencil atau perbatasa, bisa mendapat pelatihan dari Mobil Training ini. Namun karena keterbatasan dana yang dikucurkan dari APBD Jabar, pelatihan dari Mobil Training ini masih sangat minim,” ungkapnya. (ira)

Tags: