Awal Hujan, Warga Bojonegoro Buru Entung

Tampak-sejumlah-orang-yang-duduk-di-semak-semak-di-bawah-pohon-jati-yang-daunnya-banyak-dimakan-ulat.-Mereka-memunguti-entung-dari-ulat-daun-jati.-[Achmad-Basir/bhirawa]

Tampak-sejumlah-orang-yang-duduk-di-semak-semak-di-bawah-pohon-jati-yang-daunnya-banyak-dimakan-ulat.-Mereka-memunguti-entung-dari-ulat-daun-jati.-[Achmad-Basir/bhirawa]

Bojonegoro, Bhirawa
Kebanyakan orang mengetahui ulat jati atau entung menjijikan.Namun bagi warga Desa Dander Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro munculnya ulat jati setiap awal musim penghujan justru mendatangkan rejeki bagi mereka. Ulat jati yang sudah menjadi kepompong (entung) diburu warga untuk dijadikan lauk pauk yang lezat dan dijual.
Hampir seluruh tanaman pohon jati di hutan diserang hama ulat sehingga daunnya habis sama ketika musim kemarau yang lalu. Ulat jati yang berwarna hitam ini setelah melahap daun turun ke bawah dan berproses menjadi kepompong.
Proses dari ulat menjadi kepompong hanya membutuhkan waktu cukup lama satu hari (24 jam), sehingga pada esok harinya mulai dicari warga. Kepompong atau entung jati ini berada di balik sampah atau daun jati yang kering, sehingga warga yang mencarinya harus jeli.
Namun untuk mendapatkan entung yang berwana hitan kecoklatan mudah di temukan. Ketika melintasi kawasan hutan yang ada di selatan wisata Dander Water Park milik Pemkab Bojonegoro, banyak orang yang duduk di semak-semak di bawah pohon jati yang daunnya banyak dimakan ulat. Mereka memunguti entung dari ulat daun jati.
Candra warga Dusun alang-alang Desa dander kecamatan Dander Bojonegoro Minggu (10/1) mengaku puluhan warga dari desanya setiap hari memburu entung, sampai di luar desa bahkan kecamatan. “Saya baru kali pertamanya mencari entung jati untuk diolah dengan cara digoreng sebagai lauk makan atau sekadar menjadi camilan. Memang ada yang dijual akan laku Rp 5.000 per cangkir,” kata perempuan kelahiran Lamongan yang sudah empat tahun menetap di dusun alang-alang setempat.
Pencari entung lainnya, Wartini mengatakan, sekitar tiga hari ini banyak warga yang mencari entung di bawah pohon jati di pinggir jalan menuju Bubulan. Menurutnya, hasil dari entung biasanya dimasak menjadi oseng-oseng, dan ada yang dijual di Pasar Dander. “Kalau di pasar, sekarang harga satu cangkir entung adalah Rp 7.000. Kadang ada juga yang langsung dijual kalau ada orang kebetulan lewat. Biasanya orang-orang jauh naik kendaraan yang beli,” ucapnya.
Tak hanya di kawasan Dander, di sebagian Desa/Kecamatan Bubulan juga tampak pemandangan serupa. Warga memungut calon ulat warna kecoklatan yang terbungkus daun jati, kemudian mereka memasukkan ke dalam botol aqua maupun daun jati yang sudah dipincuk. “Biasanya dimasak untuk asem-asem atau langsung digoreng,” terangnya.
Menurutnya, cara memasak dimulai dengan membersihkan atau mencuci entung terlebih dahulu, kemudian direndam dalam air panas atau biasa menyebutnya diwedangi. Setelah itu baru diolah atau dimasak sesuai dengan keinginan. “Hampir setiap tahun selalu ada panen entung. Tapi saya baru hari ini mencarinya,” pungkasnya. [bas]

Tags: