Ayo, Kita Mulai

Oleh:
Joe Hasan

Ayo, Kita Mulai
dia sudah menunggu di pesawat
sejak beberapa jam lalu
aku mengaturnya
dia membutuhkan
kata-kata dari mulut terlalu memancing
udara liar menghiasi wajah
ayo, kita mulai. katanya
berbincang mengenai sejarah
mataku melirik heran
inikah wartawan terbaik itu
dan dia tersipu
bergerak canggung memperbaiki wajah
gurauan
hidup memang harus bergurau
katanya lagi

ayo kita mulia,
berbincang menanyakan bentuk hati masing-masing
bertanyalah segera
ada pertarungan yang menungguku
ring di bawah tanah
yang mencabik dengan pandai
kelemahan harus tersembunyi
ibu di rumah berdoa dalam-dalam
tanpa waktu menjeda

kau melongo tanpa suara
politik bisa membunuhmu
pelankan suaramu
kau tahu mereka punya mata di mana-mana
hari sudah sempit
ayo kita mulai : katakan

{Bau-Bau, 2020)

Biarkan Aku Meminangmu dengan Sepotong Puisi
lagi-lagi
ada peminangan di kamar mandi
pada jam-jam sunyi
malam menangis
minta dikawini
lelaki tanpa baju
bajunya dikoyak habis oleh bulan
esoknya
giliran kau yang datang
membawa seruan
membawa harap
kapan kau menikahiku? tanyamu
aku tak punya mahar. jawabku

kita beradu gagasan
hingga lupa melewati malam
tak sadar pakaian kita telah tanggal
satu persatu
aku berhasil mengawinimu
dengan sepotong puisi
yang lebih tajam dari mulutmu
(Surabaya, 2019)
Cerita Tanpa Ujung
sore itu menjulang tinggi menyapa senja
membaca makna di bibir penulis
bagaimanalah kita harus membandingkan senja yang bising
dan pagi yang teduh
keributan hanya milik mereka pekerja luar
lalu terjalinlah cerita di ruang tamu
lanjut ke kamar pengantin
berhari-hari, berbulan-bulan
tanpa menemui ujung

pengelana sibuk mencari tuan
pagi ini bertemu lagi
dengan cerita-cerita baru dari sangkar burung
menghayati sebuah suara
juga tanpa ujung
dan kemanakah kita kan membawa kisah
yang hanya terlunta-lunta di mata pembaca

barangkali sedikit rehat adalah kekuatan
kesadaran sejak malam tumbuh kokoh
kita telah berdiri di panggung
siap menyambut
ujung cerita yang masih harus dipikirkan
(Bau-Bau, 2020)
Jodoh
kemarin pagi-pagi sekali
kata orang tua masih buta
ia bertemu jodohnya
diantara sebuah pusara
dan rintik hujan yang tak ada
seharusnya ia bisa berjingkrak
dalam ruangan yang hanya bisa dibikin tidur
namun tertahan di tenggorokan
biar ia memasang wajah bahagia
menanti kabar lainnya
hari ini sudah datang
puing-puing senang itu masih ada
hingga hari ini melukis sejarah
dua tahun silam
ternyata jodoh memang bisa menemui rumahnya sendiri
meski sudah berkali-kali hilang

lagu itu masih asyik
apalagi yang di tunggu
berdendanglah bersama pagi
jangan hiraukan kambing-kambing yang kurang ajar
mereka sama dengan tuannya
kelak kita akan seperti syair
yang menemukan jodoh sendiri
pada suatu pagi
(Bau-Bau, 2020)

Kampung Muaif
Demta, kampung muaif
suara terujung Jayapura
disana tak ada sinyal
lampu pun satu dua
nyamuk bergerigih berlomba menusuk aura
apalah daya, kami pasrah, kami pendatang
mengunjungi kampung untuk tugas sebagai pendidik
dan ternyata perjalanan adalah didikannya
menyusuri pantai, hutan, menyabati lintah semak-semak

hari itu sudah senja
perahu menunggu untuk menyeberang
ada rakit kemudian
tahanlah tangis dan lelah sebentar saja
disini alam benar-benar menyerahkan dirinya
kau lihat,
penyu menyisakan telurnya
bukankah ini hal langkah
tak ada kehidupan penyu dalam kota berisik
ya, disini kami pun mencari hidup
bersahabat dengan pohon, lumpur pantai
telah tercatat sebuah sejarah kita
dalam lumpur kampung muaif

kenangan itu tak menua
bersama angkatan anggota mencret
kita sudah di awan-awan
mencapai langit sendiri-sendiri
memandang ke bawah dengan dasar yang sama
hutan dan pantai yang sama
kampung muaif
(Bau-Bau, 2020)

Tentang Penulis: Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya. Pecinta Olahraga Taekwondo. Beberapa puisinya pernah dimuat di media lokal dan nasional.

Rate this article!
Ayo, Kita Mulai,5 / 5 ( 1votes )
Tags: