Azka Subhan: Pola Bisnis Modular Menjadi Kunci Daya Saing Baru di Era Digital

Nonton bareng (nobar) pelaksanaan Opening Ceremony yang diselenggarakan oleh Kantor Pusat Bank Indonesia dari Hotel Tugu 5/4 kemarin.

Kota Malang, Bhirawa
Teknologi digital telah hadir di setiap sudut kehidupan. Tren digiitalisasi mempengaruhi perekonomian, mengubah pola transaksi masyarakat, dan mendisrupsi fungsi-fungsi konvensional, termasuk pada sektor keuangan.

Tren digitalisasi diikuti dengan era sharing economy dan platform economy, serta pola bisnis yang semakin modular.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Azka Subhan Aminurrido mengutarakan, pola bisnis modular menempatkan data sebagai aset sekaligus menjadi kunci daya saing baru di era digital.

“Perkembangan digitalisasi menuntut adanya metode pembayaran yang serba cepat, mobile, aman, dan murah,”tandas Azka, disela Nonton bareng (nobar) Opening Ceremony yang diselenggarakan oleh Kantor Pusat BI, dari Hotel Tugu Malang, 5/4 kemarin.

Lebih lanjut ia menyampaikan transaksi ekonomi dan keuangan digital, terus tumbuh sejalan dengan meningkatnya akseptasi masyarakat untuk berbelanja daring.

“Meluasnya pembayaran digital, dan akselerasi digital banking. Tren digitalisasi akan terus berkembang pesat didorong pesatnya digitalisasi, inovasi dan perluasan ekosistem baik secara geografis dan segmentasi,”tukasnya.

Saat ini, akses terhadap infrastruktur digital menjadi semakin mudah dan murah, sehingga tendensi literasi digital masyarakat Indonesia untuk mengakselerasi arus digitalisasi juga semakin kuat.

Di sisi lain, digitalisasi ekonomi dan keuangan juga membawa implikasi risiko yang perlu diwaspadai mengganggu stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan kelancaran sistem pembayaran.

Karena itu, revolusi digital di era Industri 4.0 ini menuntut para Pemangku Kepentingan seperti Pemerintah, Kementerian, Lembaga, otoritas maupun pelaku industri untuk memahami pergesaran kebutuhan masyarakat, peluang, dan dimensi risiko dalam menjaga kualitas layanan publik.

” Digitalisasi di sektor jasa keuangan terbukti dapat mendukung pemulihan ekonomi keuangan global dan Indonesia. Momentum ini harus diikuti dengan upaya bersama untuk mempercepat transformasi digital di berbagai aspek. Kolaborasi antara otoritas, pelaku industri, dan semua pemangku kepentingan utama dalam ekosistem keuangan digital sangat penting untuk keberhasilan pencapaian tujuan ini,”sambungnya.

Dalam rangka mendorong awareness pentingnya digitalisasi ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien untuk perekonomian Indonesia, meningkatkan kolaborasi Otoritas di Pusat dan Daerah, industri dan masyarakat dalam mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan Indonesia, mendorong optimalisasi inovasi dan stabilitas di Bidang Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) serta mendukung pemulihan ekonomi, BI dan Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian menyelenggarakan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2021 dengan mengangkat tema besar “Bersinergi dalam Akselerasi Digitalisasi Ekonomi dan Keuangan Indonesia” yang diselenggarakan mulai tanggal 5 – 8 April 2021 Acara nobar diselenggarakan secara hybrid, yang dihadiri oleh +30 peserta offline di Hotel Tugu Wali Kota Malang, Sutiaji, Kepala OJK Malang, Sugiarto Kasmuri, Forkopimda, OPD Terkait serta Penyedian Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) baik bank dan non bank yang berada di Kota Malang.

Selain itu, ada 70 peserta online melalui aplikasi zoom meeting yang terdiri dari Pemerintah Kota/Kabupaten, PJSP dan Akademisi yang berada di wilayah kerja KPw BI Malang. [mut]

Tags: