Bahasa, Budaya, dan Pola Sikap

Oleh:
Achmad Santoso
Pemerhati bahasa, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)
Sastrawan Pujangga Baru Sutan Takdir Alisyahbana (STA) pernah mengutarakan bahwa bahasa suatu bangsa bisa merepresentasikan budaya bangsa itu sendiri. “Tiap-tiap yang dipikir, tiap-tiap yang terbuat, tiap-tiap yang dialami, malahan tiap-tiap yang tertangkap oleh pancaindra suatu bangsa dengan sadar akan menjadi kata. Dan kata-kata yang berpuluh-puluh atau beribu-ribu jumlahnya itu sekali lihat rupanya tampak terpisah-pisah, cerai berai, tetapi pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan sebagai jelmaan yang nyata dari kesatuan kebudayaan bangsa yang empunya bahasa itu,” kata pengarang Layar Terkembang dan Tak Putus Dirundung Malang tersebut.
Bahasa dan Budaya
Bahasa yang digunakan seseorang bisa menunjukkan siapa seseorang itu. Bahasa yang dimiliki suatu suku atau masyarakat tertentu juga hampir pasti menjadi representasi suku atau masyarakat itu sendiri dalam pelbagai urusan kehidupan yang mengiringi. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ajining diri gumantung ana ing lathi (harga diri seseorang terlihat dari tutur kata). Hal demikian pernah dikemukakan Benyamin L. Whorf, linguis pengusung teori principle of linguistic relativity.
Misalnya, orang Eskimo di kutub utara sana memiliki sedikitnya tiga varian untuk lema salju. Sementara itu, Inggris hanya mengenal kata snow. Indonesia juga tidak punya kata lain di luar salju. Kalaupun ada varian, itu pun salju baru, salju embus, salju lama, salju layang, salju melalang, saljur tiupan, dan salju tua. Sederhana saja pasalnya: mereka tiap saat bersentuhan dengan entitas itu. Banyaknya khazanah pengetahuan tentang salju menjadikan bangsa Eskimo memunculkan variasi kata dengan makna yang berbeda untuk menyatakan objek salju.
Hal itu hampir serupa dengan lema unta di Jazirah Arab. Tentu saja kita mesti percaya bahwa binatang dengan nama Latin Camelus dromedarius itu tidak hanya disebut jamal, nama yang paling galib. Ada berjibun nama lain yang kategorisasinya didasarkan pada aspek-aspek tertentu. Yusnindar Abd Gani dan Sugeng Sugiyono dalam artikelnya, Sinonim Kata Jamal dalam Kamus Al-Munawwir Arab-indonesia, menulis ada 144 kata yang bersinonim dengan kata jamal dengan 55 komponen makna yang berbeda. Klasifikasi tersebut didasarkan pada karakter dan kondisi fisik unta, aktivitas dan peralatan unta, usia unta, serta warna unta.
Dari aspek karakteristik, misalnya, ada naqah yang merupakan unta betina berfisik kuat dan ba’ir sebagai anak unta yang mulai tumbuh gigi taringnya. Dari segi kondisi fisik, terdapat atmat untuk unta yang lamban jalannya, ajad sebagai unta yang kuat, ushus untuk unta betina yang gemuk, dan mubkhabkhah yang dimaknai unta yang besar perutnya. Dilihat dari aktivitasnya, antara lain ada athith untuk suara unta yang menahan beban berat dan mujanib yang bermakna unta yang dituntun di sebelahnya. Kemudian, berdasar usia ada afil sebagai anak unta dan bul’aq untuk unta yang tua. Ditilik dari warnanya, antara lain dahma’ untuk unta berwarna hitam legam dan armak yang berarti unta berwarna kelabu (abu-abu).
Beras di Nusantara segendang sepenarian. Jenis makanan yang statusnya “dinaikkan” menjadi makanan pokok saat era Orde Baru untuk menggantikan, antara lain, sagu dan jagung itu rupanya juga punya varian yang lebih kompleks ketimbang rice untuk orang Barat. Kita mengenal istilah padi, gabah, beras, dan nasi. Klasifikasi tersebut berdasar “metamorfosis” dari yang paling “dasar” menuju “sempurna”.
Padi adalah entitas paling dasar saat masih berbentuk tumbuhan dan ditanam di sawah. Gabah ialah butir padi yang sudah lepas dari tangkainya dan masih berkulit (antah). Lalu, beras merupakan padi yang telah terkelupas dari kulitnya untuk menuju bentuk “paripurna”: nasi. Nasi sendiri adalah beras yang sudah dimasak. Jadi, ketika ada yang bilang menanak nasi, sudah pasti itu menentang nalar karena nasi itu sudah ditanak/dimasak. Katakanlah, kendati kurang populer, menanak beras. Nah, orang Hanunoo di Filipina sana, konon, malah bisa menyebutkan 92 variasi nama untuk rice.
Jika ditelusuri hingga ke bahasa daerah, bahasa dan budaya itu terasa kental sekali. Bahasa Jawa, sebagai penyumbang kosakata terbanyak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, termasuk yang memiliki banyak kosakata untuk menunjukkan suatu konsep. Anda yang asli Jawa, khususnya, tentu tidak asing dengan istilah cempe, gudel, pedhet, kirik, gembluk, krete, meri, sawiyah, bledug, belo, tobil, precil, cemeng, gogor, kuthuk, dibal, dan cindhil. Ya, anak-anak kambing, kerbau, sapi, anjing, babi, buaya, bebek, cicak, gajah, kuda, kadal, katak, kucing, harimau, ayam, singa, dan tikus.
Selain menunjukkan kekayaan kosakata, hal di atas merepresentasikan bahwa orang-orang Jawa adalah tipe masyarakat peternak atau katakanlah menghabiskan banyak waktu dengan hewan –di samping petani dan pelaut. Perlu bukti? Usah jauh-jauh, saya sendiri sewaktu kecil mengalami apa yang disebut “angon”. Bukan “angon kebo” (menggembala kerbau), melainkan “angon wedus” (menggembala kambing).
Bahasa dan Pola Sikap
Agus Mulyanto dalam artikelnya, Bahasa sebagai Representasi Budaya, menjelaskan bahwa selain mencerminkan pengetahuan, bahasa suatu bangsa juga merefleksikan pola sikapnya. Bahasa Indonesia secara tidak langsung telah mencerminkan sikap bangsa yang kurang menghargai waktu. Kita tentu biasa mengucapkan waktu berjalan atau maksimal berkata waktu berjalan cepat guna mengekspresikan keterburu-buruan. Bandingkan, misalnya, dengan orang Barat yang menggunakan a clock runs. Ada beberapa idiom yang seolah mengamini pola sikap semacam itu. Di antaranya, alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal terwujud), tidak akan lari gunung dikejar, dan biar lambat asal selamat.
Dilihat dari kacamata negatif, idiom tersebut memengaruhi sikap seseorang yang menjalani hidup dengan santai saja, selow. Orang Jawa tidak bisa terima begitu saja dengan pelabelan sepihak seperti itu. Sebab, dari kacamata positif, alon-alon asal kelakon adalah ejawantah dari filosofi sikap yang sabar, tekun, berhati-hati, penuh perhitungan, dan tidak grusa-grusu dalam menggapai suatu keberhasilan. Tidak akan lari gunung dikejar dan biar lambat asal selamat juga dapat dimaknai supaya tidak patah semangat untuk meraih impian dan cita-cita.
Agus Mulyanto juga mengemukakan bahwa bangsa Barat lebih mengutamakan perempuan dalam kata sapaan umum jika dibandingkan dengan bangsa kita. Dalam suatu pidato, misalnya, sapaan umum yang sering digunakan orang Indonesia adalah Bapak-Bapak, Ibu-Ibu…, Saudara-Saudari…, dan seterusnya. Kaum adam lebih dahulu disapa daripada kaum hawa. Bangsa Barat sebaliknya. Mereka terbiasa menyapa kaum hawa lebih dahulu ketimbang adam: Ladies and Gentlemen…
Apakah hal itu memperlihatkan bahwa bangsa Barat lebih menghormati perempuan daripada bangsa kita? Pendapat tersebut tentu masih sangat bisa diperdebatkan. Namun, melihat kabar populer terkini tentang poster kepengurusan badan eksekutif mahasiswa dan lembaga dakwah kampus sejumlah perguruan tinggi yang memberikan efek blur atau mengganti dengan gambar animasi untuk pengurus perempuan, secuil kesimpulan di atas tampaknya perlu kita telaah lagi.
———- *** ————

Rate this article!
Tags: