Bahasa Mimpi

Oleh :
Rofiatul Adawiyah

Mula-mula, aku ingin mengatakan bahwa “setiap anak harus memiliki mimpi tentang masa depan yang lebih baik”. Frasa tersebut, yaitu “lebih baik” merupakan hasil dari pengalaman yang terbangun dengan kesadaran penuh sebagai seorang anak yang telah tumbuh dan berkembang, tetapi tidak luput dari berbagai kesalahan; yang memengaruhi; bahkan sangat memengaruhi tumbuh-kembang seorang anak menuju remaja di usianya yang ke-tigabelas, empatbelas, hingga limabelas tahun. Adalah masa setiap remaja berada dalam kondisi pencarian jati diri sehingga cenderung membawa diri ke arah yang akan memuaskan rasa ingin tahunya.
Hal itu masih melekat betul dalam ingatan, berawal dari hasil tes yang menunjukkan bahwa aku dan temanku yang bernama Fadil dinyatakan lolos masuk kelas Excellent di Sekolah Menengah Pertama, yaitu salah satu sekolah negeri; tempat kami mendaftarkan diri yang terletak tidak jauh dari rumah kami. Sekolah tersebut dapat dikategorikan sebagai satu-satunya sekolah favorit di daerah kami dengan keberadaan satu kelas Excellent pada setiap angkatannya yang banyak diminati sebagai ajang bergengsi. Dengan demikian, kami harus bersaing untuk dapat bergabung menjadi bagian dari siswa-siswi di sekolah tersebut. Meski tidak dapat dipungkiri bahwasannya masih banyak juga anak-anak yang sekadar memenuhi keinginan daripada kedua orang tuanya. Hal tersebut tampak dari gerak-gerik mereka dalam mengerjakan psikotes hingga pengumuman hasil tes yang menentukan siapa saja siswa terpilih untuk masuk di kelas Excellent, bahkan lebih banyak siswa yang justru senang karena dirinya dinyatakan tidak lolos sehingga mereka cukup mengikuti pembelajaran di kelas reguler. Sebab, menurut mereka; kelas tersebut merupakan kelas yang menampung siswa-siswi dengan kategori biasa-biasa saja serta tidak ada persaingan ketat yang akan membuat mereka harus bersusah payah dalam belajar; mengontrol nilai; dan berambisi untuk menjaga eksistensinya.
“Ya Tuhan, mengapa aku lolos?” Ucap seorang teman perempuan yang berdiri tepat di sampingku. Sementara teman-teman yang lainnya mengucap rasa syukur karena dua hal, yaitu mengucap syukur karena telah dinyatakan lolos dan mengucap rasa syukur karena tidak lolos.
“Lho, memangnya kenapa? Bukankah itu kabar baik untukmu?” tanyaku penasaran karena tampaknya ia menyesali sekaligus tidak menginginkan keberhasilan tersebut.
“Aku takut orang tuaku tidak mau membayarnya.” Ucapnya dengan nada ketakutan. Aku pun terdiam mendengar keluhannya. Sebab, aku belum mengetahui informasi apa pun mengenai pembayaran yang ia maksud tersebut.
“Aku mendapat kabar bahwa kalau kita masuk kelas Excellent, kita harus membayar SPP per bulan sebesar lima puluh ribu.” sambungnya. Ucapan tersebut cukup memberikan jawaban atas penasaranku sekaligus memberiku kegelisahan yang sama dengannya. Akan tetapi, aku tidak memutuskan untuk menyerah sebelum berperang.
“Bagaimana kalau kita mengundurkan diri saja, Her?” tanya teman yang lain; yang juga tampak khawatir kedua orang tuanya tidak bersedia untuk membayar uang tersebut.
“Ide bagus, Fat.” balasnya. Tanpa berpikir panjang dan berkenalan denganku, mereka pun pergi meninggalkan tempat; meninggalkanku; meninggalkan pengumuman itu; menuju ke ruang guru untuk menindaklanjuti keputusannya. Sementara, aku mulai memikirkan, mencari, hingga merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada keluarga agar mereka dapat menerima sekaligus mendukung keinginanku untuk tetap melanjutkan sebagai salah satu siswa di kelas Excellent tersebut.
“Tidak masalah.” ucap Bapak yang sedang mencabuti sisa-sisa jenggotnya. Sementara, aku duduk di teras rumah; tepat di samping Bapak sembari membuka sepatuku.
“Bapak bersedia membayarnya, asal kamu bisa berjanji untuk belajar dengan sungguh-sungguh.” sambungnya.
“Iya, Pak. Aku pasti akan belajar dengan sungguh-sungguh.” ucapku meyakinkan.
“Terima kasih, Pak.” sambungku. Dukungan Bapak memang selalu berhasil membuatku merasa tidak ada lagi yang dapat menghalangi mimpi-mimpiku. Meski di samping itu, Ibu tidak memberikan dukungan sepenuhnya, tetapi semua berjalan dengan mudah berkat dukungan dari keduanya.
Hari itu, aku merasa begitu terpuji dan terlindungi karena dapat menjadi bagian dari siswa yang terbilang pandai dengan nilai yang harus selalu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal sebagai ketentuan untuk siswa kelas Excellent. Selain mendapat pujian dan apresiasi dari keluarga, aku pun merasa beruntung karena akan mendapatkan waktu belajar di sekolah lebih lama dari kelas lainnya, yaitu sekitar dua hingga tiga jam waktu tambahan untuk mata pelajaran Matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sehingga tidak ada celah untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri, seperti menghabiskan waktu bermain game online di warnet.

—- *** —–

Satu tahun berlalu, semua tampak berjalan dengan baik. Mulai dari kegiatan pembelajaran maupun dalam pertemanan; yang semakin hari, semakin mengenal satu dengan yang lainnya. Bahkan wali kelas menganjurkan agar hubungan kami menjadi seperti keluarga sehingga tidak ada lagi dinding pembatas diantara kami. Kemudian, hal tersebut berhasil membentuk kebiasaan kami yang saling mengasihi dan menjaga satu sama lain, hingga kebiasaan buruk dari seorang teman pun kami sembunyikan bersama; mengingat bahwa kelas kami harus menjadi teladan bagi kelas yang lainnya. Kebiasaan buruk yang tidak sepantasnya kami jaga bersama, seperti kebiasaan dari seorang teman yang mulai sering membolos, tetapi kami justru menuliskan surat izin untuknya. Begitu pun yang terjadi padaku, aku hampir terjerumus kebiasaan tersebut dengan alih-alih kesetiakawanan, kekompakan, serta solidaritas yang sesungguhnya kusadari bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan.
“Mbak Wid, aku balik ke kelas saja ya.” ucapku kepada seorang teman bernama Widya yang kebetulan usianya setahun lebih tua dariku.
“Aku takut, Mbak.” sambungku.
“Takut kenapa?” tanyanya.
“Sudahlah, kita di sini saja.”
“Lagi pula, kita sudah terlambat untuk masuk ke kelas. Bisa-bisa kita dihukum oleh Pak Halim. Beliau kan tidak menerima alasan apa pun.” sambung teman yang lain bernama Dinda.
Saat itu adalah waktu mata pelajaran Geografi yang biasa diajarkan oleh seorang guru laki-laki bernama Abdul Halim. Beliau merupakan guru paling disiplin di sekolah sehingga banyak siswa yang seringkali menjadikan keterlambatannya sebagai alasan untuk terus membolos, baik sekadar berdiam diri di kamar mandi, mengisi perut di kantin, maupun nongkrong di tempat-tempat yang cukup jauh dari pantauan guru-guru di sekolah. Sementara aku yang belum pernah melakukannya, penuh dengan ketakutan dan rasa bersalah, baik pada diriku sendiri, guru-guru, maupun Bapak yang telah memberiku kepercayaan.
“Aku belum pernah bolos sebelumnya, Din. Kalau nanti guru-guru tahu, lalu memberikan informasi kepada Bapakku, beliau pasti akan marah besar padaku.” balasku.
“Kamu jangan terlalu naif. Ini kan kamar mandi perempuan, jadi mana mungkin Pak Guru datang kemari. Yah… kecuali ada yang melaporkan kita di sini.” tegasnya.
“Betul Din.” sahut Widya.
Aku pun memilih untuk tidak berdebat dengan mereka. Aku berusaha menjadi teman yang sering mereka sebut memiliki solidaritas. Namun, hati kecilku menolak untuk tetap berada di sana. Bahkan, pikiranku ikut serta menggambarkan kegagalan-kegagalan masa depan yang tentu tidak diinginkan oleh semua orang. Seolah-olah Tuhan membahasakan kembali mimpi-mimpiku di ruangan itu. Dengan demikian, aku memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan mereka dengan kesiapan menerima segala konsekuensinya.
“Maafkan aku, teman-teman. Aku ingin di kelas saja.” pamitku.
“Aku yakin, suatu saat kalian juga akan memahami Bahasa Mimpi kalian masing-masing.” gumamku di sepanjang perjalanan menuju ruang kelas.

—- *** —-

Tentang Penulis:
Rofiatul Adawiyah
Seorang anak perempuan yang terlahir dari kecil di Situbondo, 18 Agustus 1998. Pemilik blog Jalanpikiran @rrofiatul.blogspot.com

———- *** ———–

Rate this article!
Bahasa Mimpi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: