Bahaya Laten Media Sosial

Judul: Ilusi Media Sosial: Sepuluh Argumen tentang Paradoks Medsos
Pengarang: Jaron Lanier
Penerjemah: Elvan Adiyan Wijaya
Penerbit: Cantrik Pustaka
Cetakan: Pertama, Juli 2019
Tebal Buku: 204 halaman
ISBN: 978-602-0708-21-8
Peresensi : Aan Afriangga
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik, dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Islam (2019-2020) di Universitas Mpu Tantular..

Di era perkembangan telekomunikasi saat ini. Industri komunikasi semakin berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Semua menjadi mudah. Semua menjadi instan. Tak perlu memeras tenaga lebih. Tak perlu bersusah payah mengirim informasi dengan secarik kertas-sehelai amplop beserta perangkonya, dan tak lupa-bantuan layanan jasa kantor pos. Sedangkan saat ini, masyarakat kita dimudahkan dengan ponselnya ketika hendak berkomunikasi.

Namun, semua perkembangan telekomunikasi tersebut-tentu tak selalu mendatangkan kemudahan dan kelebihan bagi kita. Ada bahaya laten yang tidak kita ketahui. Ada maksud tersembunyi yang tidak terdeteksi.

“Kami perlu seperti memberikan sedikit suntikan dopamin sesekali, karena seseorang menyukai atau mengomentari sebuah foto atau sebuah postingan atau apa pun. Hal tersebut merupakan sebuah lingkaran umpan balik validasi sosial. Persis seperti hal yang akan dihasilkan seorang peretas seperti saya, karena Anda mengeksploitasi kelemahaan psikologi manusia. Para penemu, pencipta-adalah saya, Mark Zuckerberg, Kevin Systrom di Instagram, seluruh orang-orang ini-memahami hal ini dengan sadar. Dan kami tetap melakukannya. Hal tersebut secara harafiah mengubah hubungan Anda dengan masyarakat, dengan satu sama lain. Hal tersebut mungkin mengganggu produktivitas dengan cara-cara yang aneh. Hanya Tuhan yang tahu apa yang dilakukan hal tersebut dalam otak anak-anak kita.” pengakuan ini berasal dari Presiden pertama Facebook, Sean Parker. (hlm 19)

Melalui buku ini, Lanier mengurai sekaligus mengajak pembacanya merenung sejenak, menarik diri dari ingar-bingar tersebut, dan mempertanyakan kepada diri kita sendiri: apakah kita ‘sudah’ menyadari, bahwa tidak semua hal di dunia maya itu bersifat nyata-atau bahkan benar? Bukankah saat ini kita sedang kesulitan membedakan; mana informasi benar dan mana informasi salah?

Kecanggihan telekomunikasi sedang membentuk persepsi kita tentang dunia. Persepsi kita tentang antar manusia. Persepsi kita, yang di mana-dari keseluruhan hal itu, akan bermuara kepada cara pandang kita-serta tindak-tanduk kita ketika merespon sesuatu atau menerima sebuah informasi dari pihak yang menyebarkan informasi tersebut.

Sesuatu yang sepenuhnya baru sedang terjadi di dunia. Hanya dalam lima atau sepuluh tahun terakhir, hampir setiap orang mulai membawa sebuah gawai kecil yang disebut ponsel pintar (smartphone) sepanjang waktu yang cocok untuk memodifikasi perilaku algoritmik. Banyak di antara kita juga menggunakan gawai yang terkait yang disebut pengeras suara pintar (smart speaker) di meja dapur atau dasbor mobil. Kita dipantau dan diukur secara konstan, dan menerima umpan balik yang telah direkayasa setiap waktu. Sedikit demi sedikit, kita dihipnotis oleh teknisi yang tidak dapat kita lihat, untuk tujuan yang tidak kita ketahui. Sekarang ini, kita semua adalah hewan lab. (hlm 15)

Buku ini menarik. Menggugah rasa ingin tahu. Laksana menghendaki pembacanya-supaya menelusuri serangkaian argumen yang disajikan lebih lanjut lagi. Kemudian, buku ini juga provokatif dan agresif, tapi tidak memaksakan kehendak. Mengagitasi, tapi tidak berharap diikuti. Dan memberikan analogi sederhana yang sering kita jumpai. Akan tetapi, karena kemilau dan kecanggihannya-kita jadi tidak menyadarinya.

Barangkali, Lanier memiliki keperdulian lebih terhadap kita; siapa pun diri kita-terlepas dari latar belakang kita siapa. Bahwa kita harus saling memberdaya, dan berwaspada terhadap perkembangan telekomunikasi canggih ini-terutama, perkembangan media sosial dari waktu ke waktu.

Seperti ungkapan selanjutnya dalam buku ini. “Lingkaran umpan balik jangka pendek yang didorong oleh dopamin yang telah kami ciptakan menghancurkan bagaimana masyarakat berfungsi. Tidak ada percakapan sipil, tidak ada kerja sama; informasi salah, kebenaran salah. Dan hal tersebut bukan hanya masalah Amerika-ini bukan tentang iklan-iklan Rusia. Hal ini merupakan masalah global. Saya merasa sangat bersalah. Saya pikir kita semua tahu di lubuk pikiran kita-meskipun kita berpura-pura merasa seluruh hal ini, seperti, mungkin tidak ada konsekuensi buruk apa pun yang tidak diinginkan. Saya pikir di balik, dalam, ceruk yang dalam, kita mengetahui bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Jadi, menurut saya, kita sedang berada di situasi yang benar-benar buruk saat ini. Hal tersebut mengikis fondasi inti dari bagaimana orang-orang berperilaku dari dan di antara satu sama lain. Saya tidak memiliki solusi yang baik. Solusi saya hanyalah saya berhenti menggunakan alat-alat ini. Saya sudah tidak menggunakannya selama bertahun-tahun.” ucap Mantan Wakil Presiden Pertumbuhan Pengguna Facebook, Chamath Palihapitiya (hlm 19-20)

Masih ada hal penting selanjutnya yang diurai oleh Lanier. Tentu dengan menggunakan kredibilitasnya sebagai seorang ilmuwan komputer, bukan sebagai seorang ilmuwan sosial atau psikolog. Bahwa menurutnya, kita sudah terlalu sering kehabisan waktu. Dunia berubah dengan cepat atas perintah kita, sehingga tidak melakukan apa pun-bukan menjadi sebuah pilihan.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang tertarik kepada kajian telekomunikasi. Pembaca akan menemukan istilah-diskursus bernuansa digitalisasi, teknologi dan juga informatika: bagaimana telekomunikasi (media sosial) tersebut terbentuk, dioperasikan, dan uraian argumen yang berangkat dari riset empiris.

———— *** ————–

Rate this article!
Bahaya Laten Media Sosial,5 / 5 ( 2votes )
Tags: