Bahaya Miras – Narkoba Diredukasi Lewat Kesenian Teater

23- foto pentas keliling 2 kota (1)Surabaya, Bhirawa
Bahaya oplosan minuman keras, narkoba, HIV/AIDS, korupsi dan peredaran uang palsu yang tengah marak di negeri ini dihadirkan dalam dua pementasan Teater yang dipentaskan keliling dua kota di Jawa Timur oleh Teater Lingkar Surabaya. naskah ‘Peldoi Setan’ yang diangkat dari ide gagasan dan naskah ‘Malam Botak’ yang memperkuat karakter keaktorannya.
Kedua naskah yang bersinergi dan mampu mengedukasi masyarakat dengan suguhan dan sentuhan seni dengan gaya ‘Pledoi setan’ karya M. Afrizal Jijay Akbar sekaligus mensutradarai pementasan. Dan naskah ‘Malam Botak’ karya A.B Asmarandana di sutradarai oleh Syarif ‘Tebo’ Wadja Bae.
Pementasan yang digelar di Gedung Kesenian Mbatu Aji Kota Wisata Batu, Rabu (14/5), dan Gedung Kesenian Cak Durasim Jawa Timur, Rabu (21/5) juga menggandeng berbagai sponsor pendukung seperti dari Bank Indonesia (BI) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) serta sponsor pendukung yang lainnya.
Menurut sutradara pementasan ‘Pledoi Setan’, M. Afrizal Jijay Akbar, pementasannya menceritakan surga yang menjadi tempat Adam, Hawa dan setan yang harus menyembahnya. Seperti yang dijelaskan dalam Alquran bahwa setan menentang perintah Tuhan saat diminta bersujud pada Nabi Adam.
Karena itulah, Tuhan mengutuk para setan dan setanpun bersumpah akan menggoda anak cucu Adam hingga hari kiamat. Hingga saat itu muncullah larangan Adam dan Hawa memakan buah khuldi yang menjadi simbolik dari surga. Tetapi kami tidak menampilkan khuldi dalam bentuk buah, melainkan dalam bentuk tarian.
” Tarian-tarian itulah yang menggoda membuat Adam dan Hawa diturunkan di bumi dan setan terus menghasut manusia sampai hari akhir,” katanya.
Kemudian Adam dan Hawa diturunkan ke bumi karena membangkang perintah Tuhan. Tetapi ternyata, faktanya manusia lebih sesat daripada godaan setan, dan setan merasa resah karena menganggur.
“Setelah itu adegan warung kopi, dimana adegan ini dikemas dengan gaya ludrukan yang menggelitik para penonton. Disitulah para setan menunaikan sumpahnya bahwa akan menggoda anak cucu Adam hingga hari pembalasan yang menghasut manusia,” katanya.
Manusia juga lebih menuhankan setan dibandingkan Tuhannya melalui jimat. Setan pada akhirnya bertanya mengajukan pembelaan diri dalam bentuk pledoi setan dan bertanya pada manusia, “Saya setan, Anda siapa?”
“Naskah ini mencoba mengingatkan manusia akan tugas dan fungsinya. Jadi manusia jangan kesetanan dan kembali ke relnya yaitu ke jalan sebagai manusia yang berakal dan menghindari miras oplosan, HIV/AIDS, pengedar Upal dan anti korupsi,” ujarnya.
Ketua Umum UKM Teater Lingkar Enny Suryani mengatakan, menandai usia Teater Lingkar yang ke-17, pihaknya kembali mengadakan program tahunan pentas keliling. Setelah di tahun pertama pentas di Solo, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, maka kota berikutnya yaitu Bandung, Jawa Barat. Kemudian di tahun ketiga, Teater Lingkar mendapat kesempatan tampil di Kota Batu.
Lewat pentas ini, dia melanjutkan, pihaknya berusaha menyajikan pertunjukan yang edukatif.  Sarat akan pesan moral untuk para penonton.
“Proses panjang pentas keliling juga merupakan bentuk kekhawatiran kami, mengingat saat ini beberapa media televisi kian gencar menghasilkan produk hiburan yang cenderung instan nyaris tanpa pesan,” katanya Enny.
Pimpinan Produksi Teater Lingkar, MS Hadiarsa, mengatakan, persiapan pementasan dilakukan selama lima bulan terakhir. Persiapan dilakukan termasuk pemilihan naskah.
Dari sekian naskah yang ada, dipilihlah dua naskah yaitu “Malam Botak” dan “Pledoi Setan”. Dia menambahkan, dua pementasan yang digelar malam ini karena pihaknya ingin memberikan spirit agar generasi muda tidak menggunakan narkoba,oplosan, HIV/AIDS, dan melakukan tindakan korupsi. [geh]

Tags: