Bakal Jadi Stasiun Pariwisata Penunjang Bromo dan Madakaripura

Stasiun Bayeman segera jadi stasiun transit.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Stasiun Transit Bayeman Tunggu Persetujuan Menhub
Probolinggo, Bhirawa.
Kejelasan menjadikan Stasiun Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, sebagai stasiun transit masih menggantung. Karenanya, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Probolinggo berencana melayangkan surat ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI untuk mempertanyakan kejelasannya.

Semua proses pengajuan untuk menjadikan Stasiun Bayeman, sebagai stasiun transit sudah dilakukan. Mulai dari kajian sampai melengkapi berkas dan pesyaratannya. Bahkan, proses terakhir tinggal menunggu persetujuan Kemenhub.

“Sebenarnya proses pengajuan menjadikan Stasiun Bayeman, sebagai stasiun transit tinggal menunggu persetujuan dari Pak Menteri Perhubungan. Kami sudah ajukan dan berkoordinasi tahun kemarin, termasuk melengkapi berkas-berkas persyaratannya,” hal ini diungkapkan Kepala Dishub Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto, Rabu (20/1).

Heri mengatakan, pihaknya akan berupaya menjemput bola dengan melayangkan surat ke Kemenhub. Sebab, sampai saat ini proses persetujuan dari Kemenhub jalan di tempat. “Makanya kami akan kembali coba mengirimkan surat ke kementerian. Dengan harapan bisa segera direspons dan disetujui oleh Pak Menteri,” harapnya.

Heri berharap pengajuan Stasiun Bayeman menjadi stasiun transit ini bisa secepatnya disetujui. Jika nantinya stasiun ini resmi beroperasi, diharapkan juga sudah ada kendaraan pendukung. Yaitu, kendaraan khusus untuk mengantarkan wisatawan dari Surabaya hingga ke Sukapura. “Itu justru menjadi pelengkap dan rutenya juga bisa mampir ke Stasiun Bayeman, Tongas. Harapannya seperti itu. Apalagi saat ini juga sudah persiapan reaktivasi destinasi wisata di Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Dengan adanya peningkatan Stasiun Bayeman, diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo dan destinasi wisata lainnya di Kabupaten Probolinggo. Juga semakin mudah dijangkau melalui jalur kereta api. Selama ini, wisatawan yang menggunakan kereta api turun di Stasiun Probolinggo. Lokasinya lebih jauh dibandingkan dengan jarak antara Stasiun Bayeman ke Bromo.

Stasiun Bayeman merupakan stasiun kereta api kelas III atau kecil yang terletak di Desa Dungun, Tongas, Probolinggo. Lokasi stasiun ini terletak paling barat dan utara di Kabupaten Probolinggo dan termasuk dalam Daerah Operasi (Daop) IX Jember.

Sepintas, dari tepi jalan raya Tongas, Stasiun Bayeman ini tampak kurang tampak. Apalagi sering kali kendaraan besar (truk) parkir di lapangan. Namun, berbeda saat sudah masuk ke dalam Stasiun Bayeman tersebut. Hampir sama dengan stasiun pada umumnya, petugas penjaga. Meski tidak ada pengunjung. “Kalau mau tanya soal stasiun ini, langsung saja pada Daop 9 Jember, Mas. Kami tidak berlaku, “kata salah satu petugas Stasiun Bayeman, Suparman.

Mahendro Trangbowono, Manajer Humas Daop 9 Jember mengatakan, Stasiun Bayeman itu kelas III atau kecil dan hanya memiliki dua jalur kereta api. Yaitu dengan jalur 1 sebagai kereta api melaju lurus dan jalur satunya, untuk berhenti persilangan. Meskipun diberi nama Bayeman, stasiun ini tidak terletak pada wilayah administratif Desa Bayeman. Stasiun ini terletak di Desa Dungun.

“Tidak semua kereta api yang berhenti di stasiun sini. Saat ini satu-satunya kereta api yang berhenti di Stasiun Bayeman hanya KA Wijayakusuma tujuan Surabaya bersambung Cilacap untuk bersilang dengan KA Sri Tanjung tujuan Banyuwangi yang melintas langsung,” terangnya.

Mahendro mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung Pemkab Probolinggo yang menghidupkan dan menjadikan Stasiun Bayeman menjadi stasiun transit. Karena, tidak ada aturan yang melarang dalam satu wilayah wilayah beberapa stasiun. Sehingga, sangat terbuka Stasiun Bayeman itu menjadi stasiun transit. “Stasiun Bayeman itu masuk kelas III. Nanti bisa dinaikkan kelas II maupun I seperti Stasiun Kota Probolinggo,” tuturnya.

Hanya saja, bisnis Mahendro, dalam peningkatan stasiun itu dibutuhkan pembangunan. Salah satunya, memang jumlah jalur rel KA harus memiliki lebih dari dua jalur. Seperti di Stasiun Jember, masuk stasiun besar memiliki 8 jalur. “Kebutuhan jalur itu berapa, baru bisa dinaikkan kelas berapa. Yang pasti perlu infrastruktur, salah penambahan jalur kereta api,” paparnya.

Terpisah, Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo mengaku, pihaknya masih proses melakukan kajian. Namun, pihaknya siap untuk menambah atau membangun infrastruktur di Stasiun Bayeman, sebagai upaya untuk menaikkan status stasiun atau menjadikan stasiun transit. “Memang perlu penambahan pembangunan jalur kereta api. Kemudian infrastruktur lainnya. Tetapi, untuk bangunan stasiunnya akan kami pertahankan. Jika memang dibutuhkan, ditambah bangunan baru saja,” ujarnya.

Tutug mengungkapkan, rencana pemkab menjadikan stasiun transit bukan tanpa alasan. Tetapi, upaya mendorong sektor pariwisata dan mendekatkan transportasi KA ke masyarakat. Dimana, saat menjadi stasiun transit, pemkab optimistis akan jadi tempat tumbuhnya perekonomian pula. Karena penumpang KA bisa naik turun di Stasiun Bayeman tersebut.

“Yang paling penting, Stasiun Bayeman menjadi stasiun transit, mendekatkan dan memudahkan wisatawan yang berada di tempat wisata di Kabupaten Probolinggo. Sektor pariwisata di wilayah barat. Ada Gunung Bromo, Air Terjun Madakaripura, dan banyak destinasi wisata lainnya di Sukapura-Sumber,” ungkapnya.

Apalagi selama ini wisatawan yang pergi ke Bromo, paling turun di Terminal Bayuangga. Banyak pula yang membawa kendaraan pribadi dan langsung menuju Bromo. Jika stasiun transit ini mampu direalisasikan, maka tempat pemberhentian akan semakin banyak.[wap]

Tags: