Bandara Juanda Jadi Transit Jaringan SS

5-foto SS-ach-1Sidoarjo, Bhirawa
Bandara Internasional Juanda diduga sudah menjadi jaringan transit peredaraan SS di Jatim dan sekitarnya. Pasalnya, setelah petugas Customs Narcotics Team (CNT) dan KPPBC (Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai), serta Kanwil DJBC (Dirjend Bea dan Cukai) Jatim I juga BNN Jatim, menangkap dua pelaku penyelundupan SS. Ternyata barang-barang haram itu akan diedarkan ke Bandung dan Jakarta.
Menurut Kepala BNN Jatim, Iwan Ibrahim, Rabu (21/5), kedua pelaku yang ditangkap berbeda hari itu keduanya dari Hongkong dan Kuala Lumpur. Mengapa tidak langsung turun di Bandara di Jakarta. ”Ditanya soal itu mereka tak memberikan penjelasan yang tepat,” tegas Iwan Ibrahim.
Sementara itu, Kepala KPPBC, Iwan Hermawan menambahkan, kalau pihaknya bersama Tim Petugas Keamanan tanggal 12 Mei 2014 sekitar pukul 22.45 WIB telah menggagalkan penyelundupan SS sebanyak 720 gram, dari tangan pelaku bernama Wong Pai Kay (29) warga Malaysia.
Tersangka menggunakan penerbangan Cathay Pacific CX 781 dari Hongkong menuju Bandara Internasional Juanda. Barang bukti SS disembunyikan di badannya serta dililitkan di kedua pahanya. “Dijahit seperti memasang pembalut,” ungkap Iwan Hermawan.
Dan berikutnya, pada 14 Mei 2014 pukul 01.00 WIB, petugas kembali menggagalkan penyelundupan SS seberat 1.705 gram, dari tangan pelaku seorang warga negara Indonesia Cholifah (27) dari Jakarta.
Modus yang digunakan dengan dikemas dalam plastik dan disembunyikan ke dalam tas tangan sebanyak lima buah, yang dimasukkan lagi ke dalam travel bag warna hitam. Kemasan plastik yang bersisi SS sebanyak 20 bungkus. Pelaku menggunakan penerbangan Air Asia QZ 327 dari Kuala Lumpur menuju Bandara Internasional Juanda.
”Dari penangkapan kedua tersangka, kami telah menyita barang bukti SS sebanyak 2.425 gram. Mereka selanjutnya diserahkan ke Dir Narkoba Polda Jatim untuk dilanjutkan pengembangannya. Jadi pelakunya ada dua orang, sementara yang tiga ini merupakan para kurir atau penadah yang masih kita kembangkan penyelidikannya,” tegas Iwan Hermawan.
Kedua tersangka diancam UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika Golongan I dalam pasal 133 ayat 1 dan 2 dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun penjara, denda Rp10 miliar. ”Bila bukti beratnya melebihi 5 gram, pelaku bisa dipidana mati, pidana seumur hidup atau pidana 20 tahun penjara, denda maksimum Rp10 miliar ditambah 1/3,” pungkas Iwan. [ach]

Keterangan Foto : Petugas saat menunjukkan BB dan tersangka di Halaman KPPBC Sidoarjo, Rabu (21/5) kemarin. [achmad suprayogi/bhirawa]

Tags: