Bangkitkan Imaji Lewat Cerita Inspiratif

Bambang Bimo Suryono

Bambang Bimo Suryono

(Belajar Story Telling Bareng Pakar Pendongeng)
Surabaya, Bhirawa
Dongeng bisa menjadi sarana ampuh untuk menyampaikan mata pelajaran kepada anak didik. Semangat kurikulum pendidikan baru mengantarkan anak-anak agar dapat memiliki imajinasi tinggi serta pemahaman yang tajam. Itulah sebabnya guru dipandang sebagai yang paling punya peran untuk membangkitkan potensi itu.
Pakar Pendongeng Berkarakter Bambang Bimo Suryono asal Jogjakarta memiliki satu tawaran  metode bercerita ini. Bagi Bimo, Salah satu metode paling efektif yang dapat dipakai untuk membangkitkannya potensi dan semangat anak ialah dengan bercerita. Bercerita tidak hanya sebatas yang bertemakan dongeng maupun legenda.
Mata pelajaran yang diajarkan sehari-hari di sekolah juga bisa disampaikan dengan metode bercerita. Para guru juga jangan takut untuk menggunakan cara ini. Dengan catatan, guru mampu menyajikannya dengan menarik.
“Coba banyangkan, kalau cerita itu menarik, siswa bisa berkonsentrasi dengan mata yang tajam untuk melihat si pencerita. Sementara imajinasinya bisa melayang menggambarkan apa yang diceritakan,” kata Bimo saat saat menjadi narasumber dalam Workshop Mendongeng “Character Building with Story Education” di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Senin (7/4).
Pria yang akrab dipanggil Kak Bimo ini menyatakan, keahlian menjadi pendongeng bisa dimiliki oleh siapa pun. Masalahnya, ketakutan yang dimiliki seseorang bisa menghambat kreasinya dalam memulai menjadi pencerita. Tak jarang pula, ketakutan ini berasal dari anggapan bahwa menjadi pencerita butuh keahlian khusus.
Padahal, menjadi pendongeng bisa menggunakan alat bantu maupun tidak. Kak Bimo mencontohkan, sebagai permulaan, pencerita dapat dibantu dengan buku cerita. Apalagi saat ini sudah banyak bertebaran buku cerita yang bertemakan Sains, ilmu sosial, dan lain sebagainya. Pencerita tinggal mengemasnya dengan baik saat disampaikan.
“Guru yang menjadi pencerita harus pandai meletakan cerita supaya menyentuh motivasi, rasa ingin tahu, dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa,” ujar pemilik rekor pendongeng dengan suara terbanyak pada Musium Rekor Indonesia (MURI) ini.
Dia mengatakan, hasil dari bercerita kepada anak tidak berorientasi kepada hasil belajar saja, melainkan juga terhadap bagaimana membangkitkan budaya belajar. Jadi, perlu usaha dan penyadaran bersama agar jumlah pencerita di Indonesia terus bertambah.
Saat ini, lanjut Kak Bimo, budaya mendongeng atau bercerita sudah tumbuh pesat jika dibandingkan dengan 15 tahun yang lalu. Beberapa indikatornya, antara lain dengan semakin banyaknya jumlah buku cerita dan munculnya para pencerita-pencerita baru.
“Saat ini di Surabaya saja sudah ada lima pendongeng, sedangkan di Yogyakarta ada 70 orang. Yang jadi impian saya, setiap kabupaten/kota minimal ada 3 pendongeng,” tandasnya. [tam]

 

Tags: