Banjir Tak Surut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo Tetapkan Tanggap Darurat

Wakil Bupati meninjau pompa penyedotan di perbatasan Banjarasri dan Kedungbanteng. [achmad suprayogi/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa.
Akhirnya Pemkab Sidoarjo metapkan tanggap darurat, terkait banjir yang melanda dua Desa Banjarasri dan Desa Kedungbanteng Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo hingga kini, hampir dua bulan juga belum bisa surut. Bahkan solusi jangka pendek dengan menempatkan pompa untuk penyedotan pun sulit mencari arah pembuagan yang aman.
Hal tersebut ditegaskan oleh Plt Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin, usai melakukan rapat koordinasi dengan beberapa pejabat terkait. “Kami sudah melakukan rapat koordinasi, dan hasilnya adalah penetapan tanggap darurat untuk kedua desa yang telah mengalami banjir hingga belum surut. Surat penetapan tanggap darurat tinggal saya teken, Insya Alloh hari ini,” jelas Nur Ahmad Syaifuddin, kemarin (19/2/20) ketika ditemui di Pendopo Kabupaten Sidoarjo.
Ia menegaskan kalau pihaknya telah melakukan kerjasama dengan BPBD Propinsi Jatim untuk mensiagakan 8 pompa dengan kapasitas penyedotan yang sangat tinggi, termasuk juga melakukan normalisasi. Kebutuhan kita sekarang ini adalah tempat penampungannya, termasuk pemasangan Kisdam yang hasilnya bisa kita pantau selama dua hari ini dari pemompaan itu.
“Dengan adanya penetapan tanggap darurat itu, kami akan mendirikan Posko sekaligus pendirian dapur umum. Kita juga akan menginventaris semua kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh masyarakat yang berdampak, dan kebutuhan itu nantinya akan menempelnya di OPD mana. Makanya, saya mohon agar segera mengajukan anggaran yang bisa kita bantukan untuk mereka,” tegasnya.
“Kita juga akan mensegerakan untuk merealisasikan bantuan kebutuhan sepatu anak-anak maupun kesehatannya. Kalau anggaran itu di dinas ada maka kita akan tempelkan di sana,” katanya.
Jadi, dengan penetapan tanggap darurat itu nantinya dalam pemakaian BTT (Bantuan Tidak Terduga) itu bisa kita pergunakan dengan baik, dan proses penanggulangan banjirnya bisa dengan maksimal, begitu dalam penanganan dampaknya juga bisa maksimal. Sementara ini kendala penanganan banjir juga agak sulit, karena daerah merupakan daerah cekungan. Kalau kita memompa ke desa lain, desa tersebut warganya juga tidak mau dibuangi air. “Jadi solusinya sementara ini kita sedot banjirnya ke daerah lain, selanjutnya air di daerah tersebut segera kita sedot keluar. Dengan demikian diharapkan kondisi air yang menggenangi dua desa tersebut bisa segera surut,” jelas Cak Nur_sapaan akrabnya.
Menurutnya, proses pembuangannya itu yang agak jauh biar airnya tidak kembali lagi dan tidak menggenangi daerah sebelahnya. “Sehingga kita harus memasang pompa doble, yaitu air kita pompa ke tempat penampungan sementara, dari tempat sementara ini langsung kita pompa keluar, yakni ke sungai besar,” katanya.
Di sisi lain, kejadian banjir yang tidak surut ini banyak diinformasikan dari masyarakat bahwa kedua desa tersebut banyak dilakukan beberapa titik pengeboran PT Minarak Brantas Gas, dan dampaknya kepada lingkungan sekitarnya. “Perlu diketahui sekarang ini kondisi aliran airnya sudah tidak jelas arah. Selain itu kondisi salurannya juga mengalami pendangkalan. Jadi untuk mencari solusinya itu juga harus kerja ekstra keras,” pungkas Cak Nur. [ach]

Tags: