Banjir, Umrah (lebih) Berkah

UmrohKota Jeddah (65 kilometer) arah barat kota Makkah, Arab Saudi, dilanda banjir hebat, Ahad, pekan lalu. Ini bagai siklus tiga tahunan di Jeddah. Syukur, bandara di Madinah telah dibuka. Sehingga jadwal ibadah umroh, terutama jamaah dari Indonesia tidak terganggu. Meski begitu, setiap maskapai penerbangan harus tetap waspada. Karena otoritas ke-cuaca-an di Arab Saudi, me-warning masih adanya badai dan angin kencang. Juga bisa sampai di Makkah, seperti tragedi 11 September di masjidil Haram.
Bandara King Abdul Aziz (di Jeddah), kadangkala ditutup. Tetapi jadwal umroh tidak pernah ditutup. Bahkan pada bulan Desember, antrean umroh lebih panjang dibanding bulan-bulan sebelumnya (kecuali bulan Ramadhan). Pendaratan umroh akan berpusat bandara AMAA di Madinah. Dalam bahasa lokal bandara ini disebut, Mathar al-Amir Muhammad bin Abdul Aziz ad-Dualy). Inilah bandara terbaik di Arab Saudi, dan tahun ini memperoleh predikat terbaik kedua se-dunia (kategori paling ramah lingkungan).
Walau banjir di Jeddah biasa menyebabkan korban jiwa (karena kelalaian), namun tetap disyukuri. Korban jiwa umumnya disebabkan human error (ke-teledor-an), sehingga sebenarnya bisa dicegah. Tahun ini korbannya sebanyak delapan orang, dua diantaranya tersengat aliran kabel listrik. Pada sisi lain, suplai air hujan yang banyak sangat ditunggu sebagai berkah. Sebab, hujan besar biasanya datang tiap tiga tahun sekali.
Tahun 2012 lalu (Selasa, 17 April 2012), hujan besar melanda Jeddah. Menyebabkan korban meninggal (dan hilang) sebanyak 21 orang. Seluruh jalan-jalan tergenang air sampai satu meter. Bahkan bandara Jeddah juga ditutup sementara karena tidak bisa dipakai landing maupun take-off. Padahal saat itu bandara di Madinah belum selesai dibangun. Sehingga seluruh wisatawan, termasuk jamaah umroh terkumpul di Jeddah.
Saat itu angin kencang dan hujan juga menghambat evakuasi reruntuhan korban jembatan yang ambruk diterjang badai. Helikopter yang membawa relawan dan peralatan juga tak berani terbang. Cuaca buruk ini juga melanda sebagian profinsi Thaif (selatan Mekkah), beberapa bukit longsor. Jalur Jeddah-Thaif-Mekkah, yang biasa menjadi rute jamaah umroh, dalam status awas!. Peringatan kewaspadaan ini cukup beralasan karena angin kencang muncul cukup kerap.
Selama tiga hari, sejak Selasa hingga Kamis (17 – 20 April 2012 lalu), jalan tol diberi warning, karena cuaca buruk dan angin sangat kencang. Angin yang membawa debu bercampur butiran air hujan semakin membatasi jarak pandang. Bahkan (karena kencangnya) bisa menyapu apa saja yang berpapasan. Mobil dan beberapa benda-benda, berserakan di jalan. Pada cuaca normal, tornado kecil nampak bagai menari di pinggir jalan.
Anomali cuaca lebih dahsyat terjadi pada 25 November 2009, persis musim haji, menewaskan sedikitnya 83 orang. Ribuan jamaah haji yang akan melakukan wukuf di Arafah ketar-ketir, khawatir tidak dapat melakukan ritual ibadah yang paling substansial itu. Rombongan petugas haji yang kembali dari persiapan wukuf, mengabarkan akses Mekkah-Arofah terputus.
Semestinya, Jeddah maupun Mekkah, bukanlah daerah bencana. Tidak pernah dilewati Tornado (seperti seluruh kawasan Amerika serikat), juga tidak pernah dilanda tsunami (seperti seluruh kawasan Jepang). Hanya sesekali, Mekkah dilanda hujan sangat deras, dan mengakibatkan banjir. Misalnya tahun 1941, sampai merendam Ka’bah sampai ketinggian setengah meter.
Sekitar 200 ribu jamaah umroh Indonesia bulan Desember ini sudah mempersiapkan diri. Tidak akan melalui Jeddah (kawasan udara cuaca buruk). Melainkan seluruh jamaah akan mendarat di bandara AMAA, Madinah. Hanya perlu perjalanan selama 20 menit tiba di hotel sekitar masjid Nabawi.  Dan, seluruh jamaah yakin, bahwa setiap kesulitan akan membawa berkah lebih besar.

                                                                                                                   ———   000   ———

Rate this article!
Tags: