Banyak Guru Bermasalah, Bupati dan Wabup Prihatin

Para CPNS yang kebanyakan guru, bergembira usai mengikuti pembekalan ilmu pemerintahan dan kedisiplinan. [achmad suprayogi/bhirawa]

Para CPNS yang kebanyakan guru, bergembira usai mengikuti pembekalan ilmu pemerintahan dan kedisiplinan. [achmad suprayogi/bhirawa]

Sidoarjo, Bhirawa
Para petinggi Pemkab Sidoarjo mulai bupati dan wakil bupatinya merasa heran dan prihatin melihat kondisi guru yang notabene seorang pendidik justru banyak masalah, mulai perselingkuhan hingga perceraian.
Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah SH MHum dihadapan 1055 pegawai yang telah mendapatkan SK Kepangkatan, akhir pekan lalu mengatakan, dengan tegas, kalau di atas meja ruang kerja masih banyak sekali map-map yang menumpuk masalah. Sementara masalah tentang pelanggaran kedisiplinan PNS lebih sedikit sekali.
”Saya heran mengapa para guru banyak terjadi seperti itu. Makanya map-map yang menumpuk di meja, saya biarkan saja, saya ‘olor-olor’ biar mereka menunggu. Maksud saya bukan apa-apa, saya berharap mereka yang ingin bercerai bisa rujuk kembali,” Saiful Ilah.
Terpisah, Wakil Bupati Sidoarjo, MG Hadi Sutjipto juga mengingatkan kepada para CPNS yang masuk formasi guru agar menjadi pendidik yang baik, berikan motivasi kepada anak-anak kita pendidikan yang baik pula untuk membangun bangsa dan negara ini.
Pendidikan tentang moral juga harus diperkuat, pendidikan tentang budi pekerti juga arus dilakukan tiap hari. Karena hal tersebut, menurut mantan Kepala Dinas Pendikan Kab. Sidoarjo ini menegaskan materi itu di sekolah memang tak ada. ”Maka para guru harus mampu memberikan hal itu. Termasuk bela negara dan pendidikan karakter agar disampaikan kepada anak-anak didik,” tegasnya.
Agar tak terjadi permasalahan, termasuk perselingkuhan seperti yang diungkapkan Bupati  Saiful Ilah. Dihadapan para CPNS, Pak Tjip (sapaan sehari-hari), menegaskan guru harus menjadi contoh yang baik. Guru harus bisa memberikan wawasan yang baik, disamping tugas pokoknya sebagai guru mata pelajaran supaya ditambahi tentang pendidikan moral, selain yang dilakukan oleh guru agama.
”Maka jangan terpaku pada guru agama saja, guru mata pelajaran maupun guru BP juga harus mampu memberikan pelajaran tambahan pendidikan berkarakter. Diantaranya pendidikan moral dan budi pekerti juga harus dilakukan. Karena guru agama itu memang sangat terbatas,” katanya.
Sementara untuk menindaklanjuti tentang Perda Pendidikan yang isinya antara lain anak-anak lulus sekolah dasar, bagi yang beragama Islam itu harus sudah bisa baca tulis Al Qur’an. ”Harapan kami Perda itu harus segera bisa kita tindaklanjuti secara bertahap. Makanya, kalau sistem pendidikan moralnya selalu diterapkan dengan baik, kejadian seperti apa yang diungkapkan Pak Bupati kemarin tak akan terjadi,” tegas Hadi Sutjipto. [ach]

Tags: