Banyuwangi Tambah Saham di Tumpang Pitu

Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi  menyimpan nilai tambang emas dan perak sekitar Rp 50 triliun. Kawasan ini diperkirakan mulai dieksploitasi pada 2016 dengan operator  PT Bumi Suksesindo.

Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi menyimpan nilai tambang emas dan perak sekitar Rp 50 triliun. Kawasan ini diperkirakan mulai dieksploitasi pada 2016 dengan operator PT Bumi Suksesindo.

Banyuwangi, Bhirawa
Pemkab Banyuwangi menambah akumulasi saham (modal) dalam bentuk golden share ke PT Bumi Suksesindo (BSI), operator tambang emas di Gunung Tumpang Pitu Kecamatan Pesanggaran. Penambahan modal usaha ini tertuang dalam revisi kelima Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Penyertaan Modal Daerah kepada Pihak Ketiga yang disahkan pada Senin (30/6) lalu.
Sejak tahun 2013, Pemkab Banyuwangi mendapatkan jatah golden share sebesar 10 persen dari PT BSI. “Golden Share tahun ini setara Rp 22 miliar. Pada 2013 hanya Rp 10 miliar ada tambahan golden share Rp 12 miliar,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Selasa (1/7).
Menurut Anas, Pemkab  Banyuwangi mendapatkan saham non delusi. Artinya, meski ada penambahan jumlah saham, tidak mengurangi 10 persen saham jatah Pemkab Banyuwangi. Selain itu, kata Anas, pihaknya juga memiliki hak  sepenuhnya untuk menjual atau mempertahankan sahamnya setelah PT BSI go public atau Initial Public Offering (IPO). Setiap penambahan modal usaha dalam skema golden share tersebut, Pemkab Banyuwangi tidak harus menyertakan duit tunai kepada PT BSI. “Ini sejarah,” klaim Anas.
Lantaran golden share ini termasuk keputusan penting, Anas berkewajiban menyampaikan kepada DPRD untuk mendapat persetujuan lewat pengesahan raperda. Ia menegaskan, permasalahan izin penambangan emas PT BSI di Gunung Tumpang Pitu juga sudah klir. “Saya kira perizinan tidak ada masalah. Rakyat Banyuwangi punya saham di situ,” ucap Bupati Anas.
Pada 2014, kata Anas, PT BSI menambah modal sebesar Rp 229 miliar. Jumlah itu naik dibandingkan modal usaha pada 2013 sebesar Rp 100 miliar. Ke depan, Anas yakin kapitalisasi modal PT BSI semakin besar. Dia tidak akan mengonversi golden share itu dalam bentuk pembangunan jalan atau infrastruktur lainnya. “Ini warisan Banyuwangi. Ke depan, saya ingin kapitalisasi Banyuwangi di PT BSI semakin besar seiring penambahan modal usaha,” ujarnya.
PT BSI sebagai operator tambang emas di kawasan Gunung Tumpang Pitu memulai eksploitasi pada 2016 mendatang. Penambangan emas itu dilakukan secara terbuka setelah mendapat restu dari Menteri Kehutanan terkait alih fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi seluas 1.900 hektare.
Diperkirakan potensi mineral emas di kawasan hutan Gunung Tumpang Pitu mencapai 2 juta ons. Adapun potensi perak mencapai 80 juta ons. Potensi diketahui dari hasil eksplorasi di tiga dari lima zona eksplorasi pada 2009 lalu.
Sementara nilai tambang di Gunung Tumpang Pitu mencapai Rp 50 triliun, luas area yang diproduksi mencapai 4.998 hektare sesuai dengan Surat Keputusan No 188/10/KEP/429.011/2010 tertanggal 25 Januari 2010.
Selain mengesahkan Raperda Penyertaan Modal, Pemkab Banyuwangi dan DPRD setempat juga mengesahkan dua raperda lainnya, yaitu revisi Perda Nomor 7 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan revisi Perda tentang Perusahaan Daerah Aneka Usaha dan Perhotelan. [mb5]

Seputar  Gunung Tumpang Pitu
Potensi emas      : 2 juta ons
Potensi perak      : 80 juta ons
Estimasi nilai tambang    : Rp 50 triliun
Luas area yang diproduksi  : Mencapai 4.998 hektare
Estimasi awal eksploitasi  : Mulai 2016
Operator      : PT Bumi Suksesindo (PT BSI)
Sumber : Pemkab Banyuwangi

Tags: