Beberapa Siswa Masih Trauma dan Jalani Hipnoterapi

Seluruh siswa saat menjalani trauma hearling di lingkungan Madin Al-Islamiyah Al-Ghofuriyah yang berada di Jalan Kiai Sepuh, Kota Pasuruan, Kamis (14/11). [Hilmi Husain]

Korban Atap Sekolah Ambruk Ingin Kembali Bersekolah
Pasuruan, Bhirawa
Kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SDN Gentong di Kota Pasuruan sudah dilaksanakan, namun masih sangat ringan. Disisi lainnya, trauma healing dari Pemkot Pasuruan dan dibantu petugas lainnya masih terus dilakukan hingga hari keempat, Kamis (14/11) kemarin paska ambruknya atao sekolah.
Metode trauma healing dilakukan agar seluruh siswa bisa mengatasi trauma pasca ambruknya atap kelas SDN Gentong yang menelan dua korban jiwa hingga 11 siswa mengalami luka-luka. Hasilnya dari metode trauma healing itu, ternyata ditemukan beberapa siswa masih trauma atas peristiwa itu. Kini, sejumlah siswa yang kondisinya trauma atau ketakutan menjalani hipnoterapi. Terapi hipnoterapi ini dilakukan di lingkungan Madrasah Diniyah (Madin) Al-Islamiyah Al-Ghofuriyah yang ada di Jl Kiai Sepuh, Kota Pasuruan.
“Memang ada beberapa siswa yang terpantau masih trauma. Sehingga siswa itu menjalani hipnoterapi,” ujar Kepala Bidang Tenaga Pendidik Dinas Pendidikan Kota Pasuruan, Amin Jakfar.
Dalam terapi hipnoterapi itu, lanjut Jakfar panggilan akrabnya, dilakukan secara kelompok. Yakni, kelompok hipnoterapi terbagi menjadi dua yakni, hipno klasikal dan personal. Untuk tipe klasik, diperuntukkan siswa yang mengalami trauma ringan dan sedang, Sedangkan, untuk yang personal menjalani trauma berat.
“Untuk yang personal lebih ke siswa yang mengalami trauma berat. Disisi lainnya, ini juga menambah semangat bagi siswa – siswi untuk bersekolah,” tutup amin.
Sementara itu, salah satu siswa kelas 5B, Firman, mengikuti terapi mengaku ia diberi semangat terlebih dahulu. Agar rasa trauma hilang. ”Sudah hilang traumanya. Sehingga, lebih semangat untuk bersekolah,” kata Firman.

Korban Atap Sekolah Ambruk Ingin Sekolah
Dalam kesempatan yang sama, Abdul Mukti (11) siswa kelas 5B SDN Gentong, korban atap kelas ambruk ingin bersekolah kembali.
“Saya ingin sekolah lagi. Sangat ingin bertemu dengan teman – teman sekelas,” kata Abdul Mukti sembari duduk di kursi roda di rumahnya di Jl Slamet Riyadi, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.
Hanya saja, keinginannya untuk belajar dan bertemu dengan teman sekolah saat ini tak memungkinkan. Karena kondisi kaki kirinya yang patah, belum sepenuhnya pulih. Abdul Mukti adalah salah satu siswa yang menjadi korban ambruknya atap sekolahnya. Pada saat kejadian yang menewaskan seorang teman serta gurunya itu, ia berada di dalam kelas. Kaki Abdul Mukti tertimpa blandar yang terbuat dari beton.
“Waktu itu kejadiannya sangat mendadak. Saya kejatuhan tembok besar kena kaki kiri,” kata Abdul Mukti bercerita sambil menangis.
Bapak Abdul Mukti, Sumardiono menyatakan anaknya masih trauma dengan kejadian atap kelas SDN Gengtong yang ambruk pekan kemarin. ”Anak saya masih trauma dengan kejadian atap kelas yang roboh seminggu yang lalu. Aslinya ingin sekolah dan ingin ketemu dengan teman-temannya. Tapi, kelihatannya belum berani,” kata Sumardiono.
Sumardiono mengharapkan, agar pihak sekolah atau yang lainnya membantu pemulihan anaknya. Setidaknya ada trauma healing dilaksanakan di tiap rumah para korban. Sehingga, kejadian yang naas tersebut bisa hilang. ”Sehingga, anak saya bisa ceria kembali. Dan bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah nantinya,” tutur Sumardiono. [hil]

Tags: