Belajar Daring Setengah Hati

Oleh :
Didin Mujahidin
Peneliti RBC Institute A. Malik Fadjar UMM, Mahasiswa Pascasarjana UM

Sudah setahun pembelajaran daring berlangsung di saat pandemi. Namun, tak ada perubahan yang dapat dirasakan. Selain keluhan atas keresahan pembelajaran yang terus mewarnai sepanjang waktu.

Seorang anak bertanya pada Ibunya, “Buk, kapan aku masuk sekolah lagi?” Ibunya menjawab dengan lirih, “Sebentar lagi, Nak.” Sang anak pun menggerutu, “Bosan. Di rumah terus!” Sebab belum ada kejelasan tentang waktu masuk sekolah.

Meski beberapa waktu yang lalu Presiden kita Ir. H. Joko Widodo menyatakan keinginannya untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah pada Juli mendatang. Kepastian tersebut belum nyata adanya, sebelum terbit surat resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pada Maret ini, pembelajaran daring atau #belajardarirumah sudah tepat satu tahun dilaksanakan. Ditinjau dari keterangan pers dan imbauan Presiden pada 15 Maret 2020 mengenai penanganan pandemi virus Corona yang menyatakan, Dengan kondisi ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah. Inilah saatnya bekerja bersama-sama.

Pembelajaran daring yang telah berjalan satu tahun ini patut dievaluasi. Mulai dari persiapan pelaksanaan, praktik di lapangan, hingga evaluasi pembelajaran. Keluhan tentang pelaksanaan pembelajaran daring dirasakan banyak pihak. Masyarakat silih berganti menyampaikan keluhannya.

Sebagian orang merasakan kesulitan mendampingi buah hatinya belajar di rumah, sebab rutinitasnya bertambah. Namun, kesulitan juga dirasakan oleh para penyelenggara pendidikan. Ketidakjelasan keputusan atas kondisi pendidikan di kala pandemi membuat sekolah ketakutan mengambil tindakan.

Di awal pandemi, pembelajaran sekolah berhenti total. Pembelajaran dari rumah tidak dapat dirasakan oleh semua siswa. Sebab tak ada persiapan yang matang untuk mengubah pola belajar dari tatap muka menuju daring.

Respon penanganan pendidikan Indonesia cenderung lambat. Dilihat dari kemunculan panduan pembelajaran yang baru terbit pada 29 Mei 2020. Artinya, hampir setengah semester lewat begitu saja tanpa arah yang jelas. Proses belajar dari rumah pun berjalan ala kadarnya.

Sebelum masuk tahun ajaran baru 2020, ada kabar baik tentang terwujudnya wacana penghapusan ujian nasional (UN). Berita baik selanjutnya disusul dengan Kemendikbud yang menerbitkan Siaran Pers Nomor: 137/sipres/A6/VI/2020 pada 15 Juni 2020 yang menyatakan pembelajaran tatap muka boleh dilakukan di daerah zona hijau.

Sayangnya, kabar baik tersebut tidak dibersamai dengan pengawalan yang baik dan tegas. Hingga muncul beberapa kasus penyebaran, serta ada beberapa sekolah di luar zona hijau yang memaksa melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Selain itu, tidak adanya jaminan rasa aman di zona hijau tersebut. Sehingga membuat rasa was-was terus membayangi para pendidik, siswa dan wali siswa. Hingga pada 12 Juli 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) kembali tegaskan pembukaan sekolah di zona hijau harus mengedepankan protokol kesehatan.

Sampai di sini, langkah Mendikbud cenderung menginginkan untuk segera melakukan pembelajaran tatap muka dan tidak terlalu memperhatikan pembelajaran daring. Sebab, belum adanya kejelasan mengenai usulan kurikulum pembelajaran di masa pandemi. Seharusnya kurikulum tersebut segera diluncurkan dalam kondisi darurat ini.

Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan Mendikbud, prioritas kami di Kemdikbud yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan ke sekolah tatap muka seaman mungkin. Itu adalah prioritas kita. Prioritasnya bukan untuk memperpanjang PJJ, tapi prioritas yang terpenting adalah bagaimana kita bisa secara aman mengembalikan anak-anak kita ke pembelajaran tatap muka.

Pada aktivitas pembelajaran, kurikulum menjadi kunci kesuksesan ketercapain pembelajaran. Kondisi pembelajaran normal dan daring jelas berbeda, sudah semestinya Kemendikbud mengeluarkan kurikulum dalam kondisi darurat.

Pada 18 Juni 2020, Dirjen GTK menyatakan bahwa ketuntasan kurikulum tidak perlu dipaksakan di masa pandemi Covid-19. Artinya, belum ada kurikulum yang disiapkan untuk kondisi darurat.

Baru pada 7 Agustus 2020, Mendikbud menerbitkan kurikulum darurat. Namun, kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus hanya memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk memilih kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa.

Kurikulum darurat tersebut hanya berisi tentang penyederhanaan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran. Sehingga berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.

Nantinya, kurikulum akan memberikan fleksibilitas bagi satuan pendidikan untuk menentukan kebutuhan pembelajaran. Ada beberapa pilihan yang ditawarkan, seperti 1) Tetap mengacu pada Kurikulum Nasional; 2) Menggunakan kurikulum darurat; atau 3) Melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri. Setiap jenjang pendidikan dapat memilih dari tiga opsi tersebut.

Dengan berbagai runtutan yang berlaku hingga sekarang, tepat satu tahun pembelajaran daring dilakukan dengan setengah hati. Belum tampak keseriusan untuk membangun pembelajaran daring yang bermakna dan efektif dalam kondisi darurat ini. Bahkan Nadiem Makarim selaku Mendikbud menyatakan PJJ via daring adalah cara belajar yang tidak ideal.

Semakin hari, jika kondisi pembelajaran tetap dilaksanakan dengan demikian, gelombang besar akan menghampiri para peserta didik generasi pandemi Covid-19. Para peserta didik telah mengalami pemotongan fase belajar, diakibatkan tidak efektifnya pembelajaran daring. Risiko ini cepat atau lambat akan dirasakan semua pihak.

Ketidakefektifan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah diakui semua pihak. Pembelajaran daring benar dilakukan setengah hati. Selama ini, proses pembelajaran dilakukan sekadar melaksanakan tugas belajar dan mengajar. Selebihnya hanya mempertahankan keberlangsungan pembelajaran, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki sistem pembelajaran daring.

Hanya setengah hati, baiknya tak berharap lebih pada pendidikan jarak jauh selama ini. Selain terus mendorong generasi untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: