Bencana Nagari Sumbar

Seantero tanah nagari Malayu berduka, karena disergap banjir, dan tanah longsor. Batu material besar luruh dari gunung disertai lahar dingin hujan. Perkampungan tertimpa material longsor, menyebabkan 35 orang korban jiwa. Sebanyak 70 ribu warga dievakuasi ungsukan. Jalan negara juga longsor, terputus total. Menyebabkan evakuasi (dan bantuan) semakin sulit berjalan. Tetapi sebenarnya tiada bencana datang tiba-tiba. Melainkan telah terdapat tanda-tanda kerusakan alam, menyebabkan daya dukung lingkungan makin menyusut.

Pemerintah (dan Pemerintah propinsi, serta Pemerintah Kabupaten) patut segera menyelenggarakan audit lingkungan. Terutama infrastruktur alam yang berupa hutan lindung. Juga perlu meng-audit bukit, ngarai, dan sungai. Sumatera Barat, memiliki Taman Nasional Kelinci Seblat (TNKS), nan elok. Luasnya sekitar 1.425 kilometer-persegi (per-tahun 1982). Di dalamnya terdapat empat ribu spesies tumbuhan. Termasuk sejenis unga tertinggi di dunia, Amorphophallus titanium, lebih dikenal sebagai Bunga Bangkai.

Juga terdapat bunga terbesar di dunia, Rafflesia Arnoldii, yang sangat unik. Hanya berupa bunga, tanpa akar, tanpa batang, tanpa daun. Sekaligus sebagai endemik, hanya tumbuh di TNKS. Konon Bunga ini terancam punah. Karena semakin berkurangnya daya dukung lingkungan, penggundulan kawasan hutan yang sangat masif. Penghuni lain kawasan hutan TNKS juga terancam aksi penggundulan hutan. Diantaranya, harimau Sumatera, badak Sumaatera, gajah, macan dahan, tapi Melayu, dan beruang madu. Ditambah 370 spesies burung.

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, merupakan gabungan dari 17 kelompok hutan yang semuanya merupakan bagian hutan lindung register tahun 1921-1926 serta cagar alam dan suaka margasatwa yang ditetapkan dalam kurun waktu 1978-1981. Melingkupi propinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan. Diterimanya “Warisan Hutan Hujan Troipis Sumatera” sebagai situs Warisan Dunia oleh UNESCO, menjadikan TNKS otomatis masuk pula sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Sebagai Warisan Dunia UNESCO, seharusnya dipelihara baik-baik. Dijaga sebagai Kawasan lindung, dan konservasi. Tetapi berdasar catatan LSM Lingkungan Hhidu (Walhi), di-indikasi telah terjadi deforestasi yang makin luas. Terakumulasi selama bertahun-tahun pula. Berdasar pantauan citra satelit, terdapat area pembukaan lahan di Nagari Padang Air Dingin, kabupaten Solok, seluas 50 hektar. Temuan yang sama terjadi di Nagari Sindang Lunang, kabupaten Pesisir Selatan, seluas 16 hektar.

Kawasan bukit yang gundul, niscaya gampang tergerus curah hujan tinggi. Selama dua hari (Jumat dan Sabtu) hujan tiada henti di kabupaten Agam, dan Tanah Datar. Menyebabkan banjir (galodo) yang dipicu lahar hujan gunung Marapi. Tangis pilu pecah seketika diketahui banyak warga tertimbun tanah longsor. Berbagai pertolongan, dan bantuan sudah mulai berdatangan. Namun tidak mudah menjangkau titik-titik lokasi bencana.

Namun sebenarnya, dampak pedih banjir tanah longsor bisa dihindari. Karena selalu terdapat warning alamiyah. Lebih lagi pada masa perubahan iklim (menjadi ekstrem tak terduga) memaksa seluruh daerah lebih waspada bencana hidro-meteorologi. Potensi bencana banjir, dan longsor, wajib telah dideteksi. UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, meng-amanat-kan mitigasi.

Pada pasal 38 huruf a, diwajibkan adanya “identifikasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana.” Bahkan bencana hidro-meteorologi dapat diprediksi dengan tingkat presisi cukup baik. Kefatalan bencana bisa dicegah. Juga pada pasal 38 huruf b, dinyatakan, “kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana.”

Kini saatnya menyokong warga terdampak bencana, sebagai hak korban. Harus terealisasi cepat, bermutu, dan bermartabat. Serta tidak terkendala birokrasi.

——— 000 ———

Rate this article!
Bencana Nagari Sumbar,5 / 5 ( 1votes )
Tags: