Bendungan Selorejo Alami Sedimentasi, PJT 1 Malang Lakukan Normalisasi

Bendungan Selorejo, Kec Ngantang, Kab Malang, yang dikelola PJT 1 Malang mengalami pendangkalan.

Kab Malang, Bhirawa
Bendungan Selorejo yang berada di wilayah Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, yang kini dalam pengelolaan Perusahaan Jasa Tirta (PJT) 1 Malang, telah mengalami pendangkalan, sehingga diperlukan pengerukan. Sedangkan dampak dari pendangkalan itu, hal ini telah membuat wisatawan enggan berkeliling bendungan dengan menggunakan perahu.
Hal ini dibenarkan, Direktur Utama (Dirut) PJT 1 Malang Raymond Valiant Ruritan, Minggu (12/1), saat dihubungi melalui telepon selulernya, jika Bendungan Selorejo saat ini mengalami pendangkalan atau Sedimentasi dan ini terjadi secara alami hampir di seluruh bendungan yang ada di Indonesia. “Namun untuk Bendungan Selorejo, pihaknya sudah berupaya melakukan pengerukan, agar tidak terjadi pendangkalan,” paparnya.  
Dijelaskan, selama ini kami rutin melakukan pengerukan Sedimentasi atau suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es atau gletser di suatu cekungan. Sehingga hal itu membuat Bendungan Selorejo mengalami pendangkalan. Sedangkan Sedimentasi tidak hanya pada Bendungan Selorejo saja, tapi juga pada bendungan lainnya yang ada di Indonesia.
“Dengan adanya Sedimentasi di Bendungan Selorejo tersebut, PJT 1 Malang terus melakukan upaya untuk normalisasi. Dan pengerukan selama ini dilakukan dalam jumlah mendekati 1,1 juta meter kubik (m3) di dalam bendungan,” ungkap Raymond.
Secara terpisah, salah satu warga di sekitar Bendungan Selorejo Ahmad menyampaikan, pendangkalan di Bendungan Selorejo ini sudah terbilang parah, karena di area mangkalnya perahu wisata merupakan daerah yang paling dalam, yakni sedalam 20-25 meter. Sedangkan saat itu lokasi tersebu sempat dijadikan spot pertandingan sky air, ketika Jawa Timur (Jatim) menjadi tuan rumah Pekan Olahraga (PON), tapi saat ini mengalami pendangkalan.
Menurutnya, Bendungan Selorejo di perkirakan kedalamannya kini hanya 7-10 meter. Sedangkan pendangkalan itu dikarenakan adanya gelontoran material berupa lumpur dan limbah peternakan dari wilayah Kecamatan Pujon, yang masuk saat musim penghujan. “Musim penghujan di tahun 2019 lalu, material lumpur dari wilayah Pujon masuk ke bendungan. Dan dirinya sudah sering menyampaikan kondisi tersebut kepada pengelola. Bahkan, sudah dilakukan pengerukan tapi tetap terjadi pendangkalan,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu pengemudi perahu wisata di Bendungan Selorejo Purnomo mengatakan, akibat pendangkalan di Bendungan Selorejo di tahun lalu, perahu saya hanya bisa dioperasikan selama tujuh bulan saja, dan sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, yang bisa beroperasi selama 11 bulan. Namun, setelah pihak PJT 1 Malang terus melakukan pengerukan bendungan, kini kondisinya berangsur-ansur membaik, karena sudah memasuki musim penghujan. 
“Tapi pada saat musim kemarau, air yang ada pada bendungan surut. Namun saat memasuki musim penghujan seperti sekarang ini, air pada bendungan mulai naik, dan perahu bisa menengah ke bendungan,” terangnya. [cyn]

Tags: