Bentuk Karakter Siswa dengan Festival Dolanan di Pasuruan

Pimpinan Pesantren Terpadu Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan, KH M Nailur Rochman (kedua dari kanan) bersama, putri pertama KH Abdurrahman Wahid Alissa Wahid dan Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf di acara Festival Dolanan Yok. [hilmi husain]

Pasuruan, Bhirawa
Ponpes Terpadu Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan menggelar Festival Dolanan Yok di Kota Pasuruan. Festival digelar untuk mempertahankan budaya dan dolanan khas Indonesia dijaman digitalisasi ini.
Menurut Pimpinan Pesantren Terpadu Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan, KH M Nailur Rochman, Festival Dolanan Yok merupakan cara mendidik dan membentuk karakter siswa dengan menyenangkan.
“Ini sebagai ruang aspirasi bagi budaya permainan khas nusantara, yang penuh dengan filosofi pendidikan. Sekaligus mempertahankan budaya dan dolanan khas Indonesia dijaman era digital saat ini,” ujar KH M Nailur Rochman, Senin (27/1).
Adapun peserta Festival Dolanan Yok ke empat diikuti ribuan peserta yang berasal dari masyarakat umum dan pelajar MI atau SD hingga MTS yang ada di wilayah Pasuruan. Sedangkan jenis permainan tradisional yang dilombakan, yakni gasing, egrang, gobak sodor, bentik, benteng-bentengan dan lainnya.
“Pesertanya luar biasa dan melebihi target. Dari target 1.700 peserta menjadi 2.100 lebih peserta,” jelasnya.
Tentu saja, festival dolanan itu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Alissa Wahid, putri pertama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). ”Kegiatan ini sangat menarik. Hebat sekali untuk Bayt Al Hikmah, pokoknya bagus,” ujar Alissa Wahid.
Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, kegiatan Festival Dolanan Yok sebagai sarana pengenalan dan mempertahankan budaya dan dolanan khas Indonesia di era digitalisasi.
“Kegiatan ini sangat bagus dan kemasannya menarik. Karena mempertahankan budaya dan dolanan khas Indonesia,” papar Irsyad Yusuf.
Ponpes Terpadu Bayt Al-Hikmah merupakan salah satu ponpes yang tetap melestarikan dan mempertahankan dolanan tradisional. Pihak ponpes menyadari, di tengah perkembangan zaman, santri dan santriwatinya tidak boleh gagap teknologi. [hil]

Tags: