Berakal Sehat Jalan Berislam Rasullah

Judul : Berislam dengan Akal Sehat
Penulis : Edi Ah Iyubenu
Penerbit : Diva Prees
Cetakan : April 2020
Tebal : 352 Halaman
ISBN : 978-602-391-958-1
Peresensi : Ra_Junaidi
Mahasiswa Instika Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Jurusan
Pendidikan Agama Islam. Aktif di PMII GuluK-Guluk.

Manusia diciptakan diberikan akal untuk berfikir. Manusai juga sebagai khalifah di muka bumi. Manusia dengan akalnya dituntut selalu berpikir. Orang-orang yang menggunakan akalnya untuk dekat dengan Tuhan. Yakni yang bisa mengambil hikmah dari setiap tanda kebesaran Allah di sekitarnya. Namun, jangan lantas kita lancang melampaui batas dengan membekap-bekap kemahakuasaan –Nya meski begini atau harus begitu berdasarkan keterangan-keterangan dalil apa pun dalam menentukan apa pun yang hendak diterjadikan-Nya. (hlm.36). dalam artian melakukan sesuatu kita melampaui kekuasannya.
Berakal dalam alquran diperuntukan dalam hal menerima kebeseran Allah, ke Esa-an Allah dan seluruh fenomena alam semesta ini hanya mampu ditangkap, diterima atau dicerna dengan baik oleh orang-orang yang menggunakan akalnya (ulul albab). Bagaiamana bisa orang yang tidak sama sekali percaya akan ke Esa-an Allah disebut telah memaksimalkan akalnya dengan dengan baik (berakal). Artinya, jika belum bisa menerima ke Esa-an Allah berarti ia belum berakal. Bahwa perihal menundukkan ego akal yang belum bisa menerima ke Esaan Allah adalah bagian dari cara berakal, tapi di situlah letak keimanan orang pada Tuhannya. Ketika mampu mengerti kecerdasan akalnya tidak untuk meniadakan ke Esa-an Allah meski kadangkala masih terus berdialektika dalam pikirannya.
Buku ini hadir dengan judul” Berislam dengan Akal Sehat” yang ditulis oleh Edi Ah Iyubenu. Saya kira buku-buku yang ditulis sebelumya cukup berbeda dengan buku terbitan kali ini. Karena terbitan kali ini, sejumlah besar bagiannya mengulik khazanah Ushul Fiqh sebagai penggalian hukum islam. Buku ini mengupas panjang lebar, mengajak pembaca untuk mengembangkan jalan berislam yang kritis rasional yang bermoral dalam memahami dan mempraktekkan warisan-warisan Rasullah Saw. dengan spirit kajian ilmu, utamanya ilmu ushul fiqh.
Maka dari itu, untuk mencapai dan percaya ke Esaan Allah. Abdul Wahab Khalaf mengatakan :”Ilmu ushul fiqh ialah ilmu perihal kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan (kajian-kajian) yang menjadi penghubung bagi lahirnya pemahaman-pemahaman terhadap hukum-hukum syariat yang dikandung dalil-dalilnya (hlm. 70) ”.
Apabila melakukan sesuatu harus memperhatikan kaidah-kaidah yang dijadikan dasar pengambilan keputusan hukum agama melalui dalil-dalil umum. Apabila hal ini dilakukan dalam melakukan sesuatu, memperhatikan kaidah yang menjadi kesepakatan maka dalam kehidupan bermasyarat, bersosial dan kemanusian universal akan terjalin. Betapa indahnya. Oleh karena itu, buku yang tebalnya 352 halama ini, begitu cocok untuk dibaca siapa saja dengan berbagai sub bab disertai contohnya dapat begitu dimengerti bagi siapa saja.

Rate this article!
Tags: