Berbagi Untung Penjualan, Homeless Pun Ikut Menulis

Patrick Witton berbagi pengalaman tentang perjalanannya bersama tuna wisma mengembangkan media jalanan. [tam/bhirawa]

Patrick Witton berbagi pengalaman tentang perjalanannya bersama tuna wisma mengembangkan media jalanan. [tam/bhirawa]

(The Big Issue Berkembang Bersama Tuna Wisma)
Surabaya, Bhirawa
Satu jenis media informasi baru diperkenalkan di Surabaya. Media berbasis citizen jurnalism  di Australia dikenal dengan street magazine. Salah seorang contributor The Big Issue(TBI), salah satu  street magazine Australia mengenalkannya di Universitas 17 Agustus 1945, Senin(7/4) kemarin.
Menariknya konsep street magazine ini mempekerjakan kalangan homeless alias tuna wisma dan juga penyandang cacat. Jalan ini dipilih lantaran para jurnalis Australia  melihat jumlah tuna wisma dan penyandang cacat yang semakin banyak terpinggirkan.
Para tuna wisma itu dijadikan partner untuk menjual TBI secara langsung ke pembeli. Padahal sejak 30 tahun lalu, penjualan semacam ini, atau lebih dikenal media jalanan sudah tidak ada lagi di Australia.
“Mencari uang dengan menjual majalah seperti ini lebih baik bagi tuna wisma dari pada harus mengemis,” tutur Contirbuting Editor TBI Patrick Witton, saat berbagi pengalaman dengan mahasiswa FISIP Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, Senin (7/4).
Tidak hanya sebagai penjual, kata Patrick, mereka juga bisa ikut menulis bahkan diulas profilnya dalam majalah. Tentu itu tidak cuma-cuma, ada bayaran yang bisa diterima homeless yang tulisannya termuat.
Jumlahnya pun lumayan, TBI menghitung tulisan yang termuat dengan nilai 20 sen per kata atau rata-rata 30 dolar Australia per tulisan. “20 persen halaman kami diisi oleh Homeless. Ini bisa buat tambahan mereka untuk sewa rumah,” ungkap dia.
Meski bisa dikatakan ketinggalan zaman, TBI ternyata memiliki cukup banyak pembaca. Setiap edisi, atau dua minggu sekali TBI dicetak sebanyak 33 ribu eksemplar. Per eksemplar dijual dengan harga 6 dolar, dan hasil penjualan dibagi fifty-fifty, antara penjual dengan perusahaan.
TBI sendiri sejatinya tidak  hanya dalam bentuk majalah jalanan, ada pula yang berbentuk digital. Namun untuk bisa menikmati dalam bentuk digital ini, pembaca tetap harus membeli voucher langsung ke penjual.
“Jadi mereka tidak dirugikan dengan adanya media baru ini. Voucher itu yang nanti digunakan untuk mengakses TBI digital,” kata dia.
Hingga saat ini, Patrick mengaku telah berhasil menggandeng sebanyak 500 tuna wisma untuk bergabung sebagai penjualnya. Tak hanya itu, keberhasilan TBI memberdayakan homeless juga dapat terlihat dengan klub sepak bolanya yang telah sukses hingga ke piala dunia homeless.
Kedatangan kontributor TBI ke Untag ini benar-benar dimanfaatkan oleh para mahasiswa. Dekan FISIP Untag Prof Agus Sukityanto mengatakan, pengalaman berharga TBI dapat menjadi materi kuliah umum yang menarik bagi mahasiswa. Upaya-upayanya untuk membangun media baru dan media jalanan secara bersamaan bisa menjadi wawasan tambahan bagi mahasiswa.
“Terlebih media yang besar bersama para masyarakat termarjinalkan adalah hal yang belum ditemui di negara kita,” kata dia. [tam]

Tags: