Berbahasa Bagian dari Kesadaran Etika Sosial

Muhamad Himawan SOleh :
Muhammad Himawan S.
Dosen Filsafat Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Selintas kita sering meremehkan istilah atau kosakata yang dipilih dalam berbahasa. Salah satunya adalah dalam lirik-lirik lagu. Sering kita dicekoki lagu-lagu dengan lirik yang secara konotatif mengarah kepada perilaku pornoaksi. Secara umum lagu-lagu tersebut kemudian dengan mudah dihafalkan oleh semua kalangan. Mulai dari anak-anak sampai dewasa. Misalkan kita tidak canggung mendengar anak-anak menyanyikan lagu Oplosan, Bukak Sithik Joss atau Sakitnya Tuh Disini. Pilihan kata yang mudah dihafal mungkin menjadi bagian yang menarik. Tetapi perlu dipertimbangkan juga adalah tafsir atau pemaknaan dari lirik lagu tersebut.
Kita mafhum bahwa lagu melayu adalah lagu-lagu yang merakyat atau lebih mudah diterima masyarakat secara luas. Kelebihan salah satunya adalah bisa dipakai untuk menggoyang badan. Tetapi saya tidak akan membahas goyangan musik melayu. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana syair itu mempunyai kedekatan yang kuat dengan fenomena yang berkembang didalam masyarakat.
Kalau Antropolog Edward T. Hall mengatakan bahwa komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi. Maka syair yang ada diatas tersebut bagian dari gejala komunikasi yang menarik. Syair-syair yang kontroversi dan melawan kepantasan norma masyarakat adalah suatu simbol budaya yang mengejutkan. Apakah betul masyarakat kita sudah sampai tahan seperti itu? Dimana selingkuh atau pacaran atau gendha’an adalah hal yang biasa dan tidak menjadi masalah?
Dalam tradisi strukturalisme bahasa tidak berdiri sendiri tetapi bahasa adalah konstruksi masyarakt itu juga. Bisa anda fahami bagaimana Bahasa Jawa sangat kental dengan stratifikasi penggunaan bahasa, mulai dari Ngoko (egaliter), Kromo Madyo (Halus Menengah) dan Kromo Inggil (Halus tertinggi).
Dalam Tradisi Semiotika sebagai studi tentang tanda juga membenarkan bahwa bahasa juga sangat kental dengan bagaimana budaya secara luas. Budaya menjadi aspek penting dalam memahami fenomena budaya yang menjadi simbol dalam masyarakat. Roland Barthes menjelaskan bahwa konteks budaya tidak bisa lepas dari sebuah simbol.
Dalam hal ini konteks sosio-historis menjadi penting untuk menjelaskan bagaimana simbol muncul. Musik melayu sering diidentikkan dengan musik untuk kelas menengah ke bawah. Artinya dalam konteks Indonesia kelompok ini sering disebut juga sebagai kelompok rentasn putus asa (desperate society)
Menyanyikan Tabu
Mari kita berkaca kepada fenomena yang sering muncul dimedia massa. Sejumlah kasus korupsi ternyata erat hubungannya dengan permasalahan hubungan lawan jenis dalam status yang tidak jelas dengan kata lain selingkuh. Para tersangka koruptor, misalkan Ahmad Fathonah ternyata mempunyai hubungan dengan sejumlah perempuan-perempuan yang bukan istri sahnya. Lutfi Hasan Ishaq juga mempunyai istri yang masih belia yang disembunyikan. Akil Muchtar juga diduga mengirimkan sejumlah uang secara reguler ke penyanyi dangdut. Kemudian Auditor BPKP  Gatot yang mempunyai istri kedua dan berakhir tragis dengan kematian.
Artinya mempunyai pasangan diluar istri/suami sah sekarang ini adalah kelaziman yang ditegaskan oleh kasus-kasus korupsi. Bukan tidak mungkin di dalam masyarakat secara luas perilaku selingkuh adalah hal yang luas terjadi dan kemudian dilazimkan dalam syair-syair lagu. Hubungan perselingkuhan yang terjadi dikalangan koruptor bukan tidak mungkin adalah puncak gunung es dari fenomena perselingkuhan yang sebenarnya lebih luas di masyarakat.
Bisa anda bandingkan dengan lagu-lagu pada masa tahun 1990an yang menekankan kepada kesetiaan, kehangatan keluarga, dan hubungan lawan jenis yang normal. Hubungan diantara lawan jenis memang menjadi salah satu inspirasi membuat lagu. Setidaknya fenomena masyarakat bisa dijadikan inspirasi lagu juga. Sehingga lagu tidak berdiri sendiri, tetapi syair lagu juga adalah bagian dari fenomena masyarakat yang sakit.
Hal tabu seolah sudah bisa dibicarakan secara terbuka. Bahkan bisa menjadi inspirasi untuk perilaku tersebut. Tabu selama ini hanya menjadi ada dalam dunia kognisi semata dan jarang untuk dibicarakan, dijadikan acuan atau perilaku. Tetapi media massa telah membuka perilaku-perilaku tabu tersebut menjadi santapan masyarakat. Maka tabu bukan lagi menjadi tabu sebagaimana tabu itu sendiri. Tetapi tabu sudah menjadi jajanan yang ternyata juga enak untuk disantap bahkan kalo bisa di nikmati setiap hari. Tidak hanya dalam berita tetapi juga dalam nyanyian.
Masyarakat nyata-nyata dalam kondisi putus asa (desperate) musik disamping menjadi hiburan bisa juga menjadi tuntunan bahkan menjadi kurikulum kehidupan. Dalam pendekatan Psikologi Sosial perilaku meniru atau berimitasi adalah salah satu perilaku yang hadir karena adanya model dalam kehidupan. Maka layak kalau sudah ada perilaku tabu yang bisa ditiru, masyarakat akan menirunya pula.
Bahasa adalah Simbol Budaya
Pergeseran masyarakat dari mengkonsumsi musik yang menenangkan kepada musik yang membuat waspada adalah kondisi masyarakat yang bergeser dari masyarakat yang (seolah-olah) matang kepada masyarakat yang rapuh. Norma-norma masyarakat seolah tidak lagi menjadi tuntunan yang kuat dalam hidup manusia. Setidaknya masyarakat menjadi apatis kepada norma sosial bahkan agama. Banyak para pendakwah agama yang kemudian berperilaku secara bertentangan dengan ajaran yang didakwahkan. Menyuruh kepada kesederhanaan tetapi dalam prakteknya sang pendakwah ternyata menjadi konsumen yang sangat konsumtif.
Simbol atau tanda yang paling kuat (transedental sign) dia akan menjadi tanda yang dijadikan rujukan oleh masyarakat. Dialektika tanda tidak hanya pada tanda-tanda yang standar tetapi juga masuk kepada tanda-tanda yang menjadi perhatian atau minat kuat dari masyarakat.
Meminjam pendekatan yang dipakai oleh Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe tentang permainan wacana dan hegemoni. Desain wacana dikembangkan dengan membangun simbol-simbol atau tanda yang saling berhubungan satu dengan yang lain secara fungsional. Maka apa yang terjadi dalam masyarakat kita adalah rangkaian dari rantai tanda-tanda (chain of equivalences) yang tidak terputus begitu saja.
Lagu dangdut atau melayu dengan syair yang melawan kemapanan kehidupan normal seperti itu tidak pernah berdiri sendiri sebagai tanda. Ia akan merujuk kepada tanda-tanda lain yang mempunyai kesesuaian makna. Misalkan tubuh perempuan akan dikaitkan dengan tubuh social. Tubuh menjadi bagian eksploitasi yang berhubungan dengan sistem budaya yang tumbuh dimasyarakat itu sendiri.
Dalam budaya Patriarki tubuh perempuan adalah obyek yang tidak pernah ada habisnya untuk dieksploitir.  Setidaknya ini bisa dilihat dengan lagu “Bukak Sithik Joss”, lagu ini hanya akan menarik apabila dinyanyikan oleh penyanyi perempuan. Artinya Tubuh perempuan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab biologis dan moral mengutip Michel Foucault.

                                                                       ————————- *** ————————–

Tags: