Berdamai dengan Kesedihan

Judul Buku : Sadness, Teman Bersedih
Penulis : Wafi Hakim Al-Shidqy
Penerbit : Republika
Cetakan : I, 2020
Tebal : xvi + 226 halaman
ISBN : 978-623-279-087-2
Peresensi : Sam Edy Yuswanto
Penulis lepas mukim di Kebumen.

Sedih dan bahagia merupakan dua hal yang berseberangan tapi saling berkaitan erat dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan umat manusia. Biasanya seseorang dapat merasakan nikmat kebahagiaan setelah sebelumnya pernah mengalami kesedihan. Adalah hal yang sangat mustahil seseorang mengharapkan kebahagiaan secara terus-menerus sepanjang usianya. Pasti suatu saat dia akan berhadapan dengan hal-hal yang membuat jiwanya terluka dan digelayuti kesedihan. Saat terserang virus penyakit, ketika berhadapan dengan persoalan yang pelik, atau saat orang terdekat kita meninggal dunia misalnya, tentu akan mengundang rasa sedih di hati.

Hal yang juga penting selalu direnungi, ketika kita sedang merasakan kebahagiaan, berusahalah jangan terlalu berlebih-lebihan. Artinya, bahagialah sekadarnya saja. Begitu pun saat kesedihan sedang melingkupi kehidupan kita, tak perlu kita berlebihan dalam menyikapinya, bersedihlah sewajarnya saja. Ketika kita mampu menyeimbangkan rasa ketika berhadapan dengan kebahagiaan dan kesedihan, percayalah, atas izin Yang Maha Kuasa, hidup yang kita jalani akan baik-baik saja. Dengan kesabaran, ketakwaan, dan juga ikhtiar, insya Allah tak ada kesedihan yang membuat hati kita hancur sehancur-hancurnya. Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya. Dan setiap kesedihan saya yakin pasti ada batas akhirnya.

Wafi Hakim Al-Shidqy dalam buku ini menguraikan bahwa kita adalah manusia yang diciptakan dengan beragam perasaan. Ada rasa bahagia, takut, marah, jijik, hingga sedih. Namun setiap dari kita selalu menginginkan kebahagiaan. Wajar saja, karena bahagia adalah rasa yang paling menyenangkan. Namun yang paling penting adalah tentang bagaimana kita mengelola rasa tanpa takut kehilangan untuk bisa bahagia.

Orang yang sedang bersedih artinya dia sedang tidak baik-baik saja. Mungkin dia merasa sudah tak kuat menanggung beban di punggungnya, merasa ada kenyerian di lubuk hatinya, merasa kesakitan pada jiwanya. Maka dari itu, mereka bukan hanya sekadar butuh kata sabar, juga bukan hanya sekadar butuh kalimat “Jangan sedih!”. Orang-orang yang bersedih pun sebenarnya sadar, bahwa dirinya harus sabar, kuat, dan bahagia. Mereka hanya butuh teman untuk bersandar, mencurahkan perasaan, mengembalikannya pada keceriaan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, saat sedang berhadapan dengan hal yang membuat sedih, segera cari teman atau sahabat yang dapat dipercaya mampu menjaga rahasia saat kita menceritakan kesedihan kita. Keberadaan teman di sini menjadi hal yang sangat penting, karena ia dapat mendengarkan serta menunjukkan kebenaran. Jangan lupa untuk mencurahkan kesedihan kita kepada Tuhan, karena hanya Dia yang mampu menghadirkan ketenangan, menyelesaikan persoalan, serta memberikan perlindungan kepada kita semua (halaman 3-5).

Dalam buku ini, penulis yang lahir di kota Bogor, 10 Januari 2000 dan memiliki hobi menulis ini memberikan saran yang bagus dan memotivasi pembaca, agar menjadikan kesedihan sebagai sarana mediasi diri, agar menjadi lebih dewasa. Agar bisa mengerti keadaan, mampu mengontrol rasa, serta peduli dengan diri sendiri, juga terhadap lingkungan. Bersedihlah dan jadilah mansusia yang lembut hatinya, yang mampu menyadari setiap kesalahan yang pernah dilakukannya, tidak egois hanya sekadar untuk bahagia, juga tidak keras kepala karena selalu mengedepankan egonya.

Jangan Hindari Kesedihan

Mungkin ada sebagian orang yang berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan kesedihan-kesedihan yang dirasakannya dengan cara yang kurang tepat, yakni berlari menghindarinya atau bahkan melukai diri sendiri dengan cara bunuh diri. Nauzubillahi min dzaaliik. Semoga kita semua terhindar dari berperilaku demikian. Kita harus selalu mengingatkan diri kita, bahwa yang namanya kesedihan itu tidak akan pernah hilang dengan cara menghindarinya. Kesedihan baru perlahan-lahan menghilang bila kita berusaha berdamai dengannya. Berdamai di sini artinya kita berusaha menghadapinya dengan pikiran terbuka, bahwa kesedihan adalah hal wajar yang pasti dirasakan oleh semua makhluk hidup di dunia ini.

Benar apa yang disampaikan oleh Wafi Hakim Al-Shidqy, bahwa kita takkan pernah mampu menghindari kesedihan. Kesedihan selalu bersama kita. Artinya, selama kita ada, kesedihan pun akan selalu ada. Meskipun kita telah tiada, kita pun masih bersedih karena mengingat apa yang telah diperbuat selama di dunia. Menyesal karena tidak memaksimalkan kebaikan dan selalu tenggelam dalam keburukan. Sedih selalu menjadi teman yang baik untuk bahagia. Sebab dia hadir di saat-saat apa pun. Sedih mampu mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Kesedihan, secara tidak langung, memang diperlukan oleh setiap orang agar kita tidak sombong dan selalu ingat terhadap kuasa Tuhan. Tapi, jangan sampai menyalahgunakan kesedihan untuk melakukah tindakan-tindakan yang keji. Karena kesedihan tidak diciptakan untuk hal-hal yang mengerikan. Penting dicatat di sini, kesedihan itu berbeda dengan depresi. Kesedihan itu biasanya berawal dari kesalahan, lalu berpikir hal yang bersangkutan (apa masalahnya) dan menghadapinya dengan kelembutan. Sehingga dirinya dapat mengambil keputusan. Sedangkan depresi itu berawal dari ketakutan, lalu berpikir hal yang bersangkutan dengan pikiran yang liar atau berlebihan dan menghadapinya dengan kemarahan. Sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan yang baik bahkan tidak mampu mengontrol dirinya sendiri (halaman 29-30).

Kesedihan sangat diperlukan ketika kita telah melampaui batas dalam menjalani kehidupan ini. Misalnya, ketika kita terlalu merasa gembira dan berlebih-lebihan menggunakan harta benda, sampai-sampai lupa bahwa sejatinya kita hidup untuk menghamba pada-Nya, beribadah dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita menjalani kehidupan di akhirat kelak. Karenanya, bersedihlah bila hari-hari yang kita lewati tanpa diwarnai dengan kebaikan dan selalu merasa asyik dengan gelimang kemaksiatan. Bersedihlah ketika kita tak memiliki kepedulian dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih mereka yang sedang membutuhkan uluran pertolongan kita sementara kita bersikap acuh tak acuh.

Buku genre motivasi ini layak dijadikan salah satu bacaan yang dapat membantu generasi muda lebih bersemangat menjalani kehidupan yang diwarnai hal-hal yang mendatangkan rasa bahagia sekaligus rasa sedih. Yang jelas, saat kita sedih, bukan berarti kita sedang lemah. Seperti kata penulis, “Bersedih bukan tanda lemahnya seseorang, tapi sebagai tanda bahwa seseorang punya hati”.

——- *** ——-

Rate this article!
Berdamai dengan Kesedihan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: