Bereskan Sindikat Mafia Pupuk Subsidi

Karikatur Ilustrasi

Persoalan pupuk subsidi hingga kini masih terus menjadi pekerjaan rumah yang tidak kunjung terselesaikan, sehingga menjadi masalah klasik yang selalu menjadi persoalan dan keluhkan petani. Ada sejumlah masalah terkait pupuk subsidi yang selalu dikeluhkan petani mulai dari persediaannya yang langka, hingga harganya yang jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Wajar adanya jika, persoalan pupuk subsidi ini menarik untuk disorot. Terlebih, merujuk temuan Ombudsman Republik Indonesia (RI) mengenai manipulasi data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tani, bawasannya ada 369.688 warga yang meninggal dunia masuk data awal RDKK tahun 2021. Berbagai laporan pun terungkap bahwa, pupuk bersubsidi banyak bocor ke jalur tidak resmi dan dikuasai tengkulak, calo, joki, hingga juragan pupuk yang bukan bagian dari jalur distribusi resmi. Selain itu, ada juga temuan warga yang masih remaja masuk ke dalam RDKK, (Republika, 31/1/2022).

Realitas tersebut, tentu tidak bisa terbiarkan. Pasalnya, ada data warga yang sudah meninggal namun masuk dalam RDKK tani. Oleh sebab itu, kini saatnya Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) bisa melakukan pengawasan terhadap distribusi pupuk subsidi agar tepat sasaran. Terlebih, pupuk Indonesia saat ini memiliki stok pupuk bersubsidi secara nasional pada awal tahun 2022 sebesar 1,13 juta ton. Rinciannya, pupuk Urea sebesar 512 ribu ton, NPK 305 ribu ton, SP-36 103 ribu ton, ZA 135 ribu Ton, dan Organik 80 ribu ton.

Stok pupuk bersubsidi tersebut tentu harus terkawal dan terdistribusikan sesuai sasaran. Jadi, apapun bentuk praktik sindikat mafia penyelewengan pupuk subsidi haruslah dibasmi. Pasalnya, praktik mafia ini berpotensi merampas hak petani kecil yang notabenenya adalah pahlawan pangan bangsa. Dan, kini saatnya pemerintah harus sesegera mungkin membereskan keberadaan sindikat mafia pupuk bersubsidi. Salah satunya, dengan mengintesifkan kerja sama dengan pihak kepolisian dan kita publik saatnya bersatu padu memberantas mafia pupuk bersubsidi karena petani adalah motor ketahanan pangan kita semua.

Gumoyo Mumpuni Ningsih
Dosen FPP Universitas Muhmammadiyah Malang.

Rate this article!
Tags: