Berinteraksi dengan Hewan Saat Pagebluk

Oleh :
Drh M Chairul Arifin
Dokter Hewan lulusan FKH Unair ; Purna Bhakti Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian

Hubungan erat manusia dengan hewan sudah sejak lama berlangsung setua peradaban manusia. Menurut Wikipedia, hubungan itu telah terjadi sejak berabad abad yg lalu, yg ditunjukkan berdasarkan hasil temuan di situs purbakala. Bukti tertua adanya hewan peliharaan yaitu dengan diketemukannya kerangka anjing yg diduga umur lima bulan disisi seorang perempuan. Penemuan ini ditemukan di dekat Ain Mahalla ( Israel) yg berusia 10.000 tahun yg lalu.

Sedangkan temuan kerangka kucing peliharaan tertua ditemukan di Siprus 6.000 tahun yg lalu. Kucing waktu itu diberitakan sebagai predator alami tikus di lumbung pangan masyarakat kuno. Untuk jenis hewan ternak seperti kambing dan domba diketahui sejak 7.000 tahun yg silam diikuti oleh sapi, ayam dan marmut yang di domestikasi 6.000 tahun yg lalu. Menyusul hewan ternak kuda, Lhama, keledai dan kerbau pada 5.000-4.000 tahun yg lalu. Sedangkan proses domestiksasi angsa, unta, ,Yak dan ikan mas berlangsung sejak 2500 tahun yg silam.

Hewan Peliharaan dan Ternak

Berbagai jenis hewan tersebut memang pada akhirnya telah berfungsi dan berhubungan baik dengan manusia, entah dimanfaatkan sebagai hewan kesayangan dan ternak yg diambil sebagai bahan pangan daging, telur dan susu dan hasil sampingnya berupa kulit, tulang, bulu dan tanduknya untuk manusia.

Tetapi akhir² ini manusia mencoba memanfaatkan pula berbagai satwa liar lainnya untuk hadir dalam kehidupannya. Entah itu dimanfaatkan untuk hewan kesayangan varian baru atau malah sebagai sumber bahan pangan baru yg tidak lazim. Hewan satwa liar ini misal jenis² musang, cerpelai, biawak, ular, kelelawar, tikus telah diburu oleh kerakusan manusia untuk dimanfaatkan sebagai hewan baru peliharaan dan disembelih begitu saja untuk bahan pangannya.

Dengan sendirinya terjadilah perubahan habitat dan ekosistem berbagai hewan yg tergolong satwa liar alami tersebut.

Emerging Disesases Zoonosi

Kemudian keserakahan akan lahan manusia semakin mendekati hutan tempat berbagai satwa liar tinggal. Adanya perambahan hutan dijadikan kawasan budidaya tanaman semakin mempermudah akses manusia mendekati satwa liar semacam harimau, gajah, beruang, monyet besar, orang utan dan satwa lainnya. Daerah yg semula menjadi jelajah si raja hutan dan gajah misalnya telah diterobos begitu saja oleh lahan budidaya tanaman sehingga sering terjadi konflik antara satwa buas dan manusia. Akibatnya, interaksi manusia dengan hewan yg sudah hidup tenang di hutan sudah tak terhindarkan lagi.

Implikasi dari dekatnya hewan varian baru kesayangan dan dimanfaatkannya sebagai sumber bahan pangan baru yg tak lazim serta semakin dekatnya wilayah hutan dengan daerah budidaya maka tak urung telah menimbulkan fenomena baru yg sebelumnya tak terbayangkan. Terutama dimasa pandemi Covid-19 seperti saat ini, fenomena tersebut telah menimbulkan emerging dan re-emerging diseases zoonosis. Terbukti dari timbulnya penyakit menular atau wabah pada manusia selalu 60-70% diakibatkan oleh hewan. Seperti saat ini wabah pandemi Covid-19 diakibatkan oleh melompatnya virus Corona yg tinggal di kelelawar tapal kuda pada inang manusia. Melompatnya virus ini telah menimbulkan kehebohan seisi planet ini. Seluruh sendi kehidupan sosial dan ekonomi umat manusia yg sudah tertata baik di porak porandakan oleh si kecil yg ukurannya 150 nanometer. Satu nanometer sepersejuta milimeter, suatu ukuran yg hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskope elektron.

Dalam masa pagebluk seperti saat ini, tentunya kita diminta mengatur ulang interaksi dengan hewan khususnya dengan hewan kesayangan jenis baru dan jenis hewan² lainnya. Dengan hewan kucing, anjing dan berbagai jenis burung kita sudah sangat kenal satu sama lainnya. Kebiasaannya perilaku, watak sampai jenis peyakitnya telah banyak diketahui. Tetapi untuk jenis Hewan yg varian baru, manusia belum mengenalya sama sekali termasuk perilaku mahluk² yg ada yg menumpang hidup didalam organ tubuhnya.

Pelajaran yg bisa dipetik dari Pandemi telah mengajarkan kepada kita untuk back to nature dalam arti segera melepas liarkan hewan kesayangan varian baru yg terlanjur kita pelihara untuk kembali ke habitat aslinya bukan habitat artificial yg dibuat oleh manusia yg cenderung dalam kurungan apalagi dimanfaatkan sebagai bahan pangan sebagai mana ternak. Ditinjau dari aspek kesejahteraan hewan perlakuan terhadap hewan² ini patut pula dipertanyakan.

Pendapat Pakar

Sambil menunggu penelitian lebih lanjut antara WHO dan otoritas pemerintah China, diduga jenis kelelawar tapal kuda menjadi penyebab awal masuknya novel virus SARS Corona pada inang manusia. Diketemukannya sequence genetik virus pada kelelawar tersebut menjadi bukti bahwa benar virus tersebut telah melompat pada inang manusia sebagai akibat dijadikannya kelelalawar sebagai salah satu bahan pangan setempat yg menyebabkan virus tersebut berkeliaran mencari hidup dan menumpsng sebagai parasit di ekosistem mahluk hidup lainnya yaitu manusia. Paling tidak ini, dikatakan oleh Prof. Rostita Balia seorang guru besar UNPAD Bandung dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia belum lama berselang.

Dikatakan lebih lanjut bahwa terdapat bukti² valid dengan diketemukannya virus Covid SARS- 2 pada hewan buas seperti harimau dan singa dapat berpotensi terjadinya pandemi masa depan. Oleh karena itu pencegahan sementara ini yg dapat dilakukan adalah penerapan biosekuriti yg ketat pada hewan peliharaan kita sebelum jenis² hewan peliharaan baru tersebut dilepas liarkan ke habitat alaminya. Pernyataan ini oleh Prof. Roostita Balia secara tertulis disampaikan pada Jurnal UNPAD.

Selanjutnya menurut Dr. Soeharsono dalam bukunya Zoonosis dari Hewan Liar (2018), telah mengamati bahwa selama seperempat abad belakangan ini muncul sejumlah zoonosis baru ( new emerging Zoonosis ) yang berasal dari hewan liar. Beberapa kejadian yg menyebabkan agen penyakit keluar ( spill out) dari hutan ke wilayah pemukiman penduduk adalah kerusakan lingkungan (hutan) seperti kebakaran/pembakaran hutan , alih fungsi hutan, pemburuan hewan liar,pemanfaatan hewan liar terutama satwa primata untuk hobi dan penelitian dan sebagainya (Soeharsono, 2018), sehingga dapat terjadi serangan balik dari alam atas perbuatan manusia yg merusak alam.

Vaksin Sebagai Dewa Penyelamat ?

Dalam rangka mengatasi pagebluk ini, berbagai upaya telah banyak dilakukan oleh berbagai negara. Dari tindakan 3 M (memakai Masker, Mencuci tangan dengan sabun, Menjaga Jarak) dan 3 T ( Testing, Tracing dan Treatment.) sampai vaksinasi massal.

Tapi sejauh ini belum ada obat untuk pandemi Covid-19 ini, walakin obat Dexamethazone terbukti dari banyak testimoni, ampuh untuk mengusir covid-19. Sehingga banyak bersileweran di berbagai medsos obat² alternatif herbal dan kimiawi juga dapat membantu penyembuhan.

Vaksin diakui sebagai upaya preventif yg dilakukan untuk mengejar terjadinya kekebalan komunitas. Namun tidak serta merta dapat memutus mata rantai penularan karena pada dasarnya vaksin untuk meningkatkan level antibodi individu. Jadi, yg dapat memutuskan rantai penularan adalah isolasi dan karantina dengan penerapan 3 M. Vaksin merupakan upaya individu untuk membentengi terhadap serangan virus yg setiap saat dapat terjadi. Tetapi vaksin Covid 19 masih menghadapi adanya ancaman mutasi yg menimbulkan virus baru dengan daya tular cepat sekali, lebih cepat dari pendahulunya. Dengan tingkat Efikasi sebesar 65.3% sudah dinilai lebih baik dari standar WHO yg besarnya 50%. Apakah vaksin sebagai upaya penyelamatan ? Jawabannya ‘ya” sebaga salah satu upaya menyelamatkan bangsa ini. Tapi yg lebih penting lagi adalah perubahan peri laku hidup bersih kita untuk masa depan termasuk peri laku kita berinteraksi dengan hewan.

——– *** ——–

Tags: