Bertemu Eksportir Terbaik Jatim, Perempuan HKTI Diskusi Ekspor Impor

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim Lia Istifhama mendukung langkah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang menolak impor beras masuk Jatim.

Surabaya, Bhirawa
Setelah sebelumnya bersikap bahwa keputusan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menegaskan tidak memerlukan beras impor lantaran pasokan Jawa Timur saat ini cukup dan aman hingga akhir Mei 2021 sebagai sikap yang sangat bijak dan tepat, Perempuan Tani HKTI juga memberikan pemikiran terkait ekspor impor.

“Kita harus mengakui, keputusan Ibu Gubernur sangat tepat karena berbicara konteks regional harus disesuaikan supply skala regional. Jadi tidak melebar kemna-mana. Bahkan, Jatim memang membuktikan berhasil melakukan ekspor pertanian yang sangat besar, yaitu senilai 140 milliar. Ini wajib diapresiasi dan menjadi kebanggaan masyarakat Jatim,” terang Lia Istifhama.

Ketua Perempuan Tani HKTI Jatim tersebut juga menjelaskan tentang ekspor impor.

“Kami pernah berkunjung di PT Chiel Jedang Indonesia yang beberapa waktu lalu mendapatkan penghargaan sebagai eksportir terbaik se Jatim. Selain merupakan salah satu perusahaan yang keberadaannya sangat penting untuk membuka lahan pekerjaan bagi masyarakat lokal, CJI juga membantu serapan produk pertanian lokal, diantaranya tetes tebu yang disuplai melalui PTPN. Namun, ada beberapa produk yang bahan bakunya diambil dari luar (impor), yaitu ketela pohon,” katanya.

“Dari sini, penting untuk menjadi perhatian, bahwa ekspor produk jadi tentu menambah pendapatan yang signifikan bagi negara. Namun, penting juga dikaji agar produk-produk ekspor mendapatkan bahan baku dari lokal juga. Sehingga secara holistic memberikan efek produktivitas bagi petani,” ujarnya lagi.

“Oleh sebab itu, ketika saat ini muncul polemik impor garam, penting untuk diperhatikan bagaimana agar produksi garam lokal memang sesuai kebutuhan industri. Pendampingan dari calon whole seller, yaitu industri, harus ada sehingga bisa terkontrol produksi sesuai kapasitas (industri ekspor). Tentunya, peran pemerintah juga diperlukan selama proses produksi pertanian dari petani hingga panen untuk kemudian didistribusikan pada pabrik selaku whole sellernya,” pungkasnya.

PT. CJI melalui GM Umum Warih Prabowo, menjelaskan harapannya agar bisa semakin menyerap produksi pertanian petani lokal.

“Dulu pernah kami mengambil bahan baku ketela pohon dari petani lokal Lamongan. Namun karena secara kuantitas tidak mencukupi dimana kami setiap harinya membutuhkan 1000 ton, akhirnya kami impor. Jadi kunci penyerapan bahan baku ada pada konsistensi kuantitas dan kualitas. Tentu akan lebih efisien dan efektif jika bahan baku dari regional seperti halnya SDM yang selalu kami utamakan masyarakat lokal”, pungkas Warih.

Sedangkan Hj. Nikmah Jamilah selaku Ketua Kabupaten Pasuruan, menjelaskan bahwa Perempuan Tani HKTI ingin turut membangun penguatan spirit agraris sesuai lokalitas pengurus, minimal secara pemikiran.

Perempuan Tani sendiri, merupakan organisasi sayap HKTI naungan Jenderal TNI Dr. H. Moeldoko, S.I.P. Secara organisasi, Ketua Umum PTHKTI adalah Dian Novita Susanto, Chief of Director Kantor Hukum Moeldoko 81 & Partners. Dalam tingkat kepengurusan regional Jawa Timur, Perempuan Tani HKTI pernah mendapatkan dua penghargaan, yaitu Organisasi Perempuan Penggerak Pertanian dari DP3AK Jatim dan PTHKTI propinsi terbaik se Indonesia pada 2020 lalu. (iib)

Tags: