BI Beri Pelatihan Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan

Pelatihan Inovasi Padi Organik oleh BI Malang

Kembangkan Klaster Padi Organik
Kota Malang, Bhirawa
Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang mengembangkan Klaster Padi Organik di Desa Sumberngepoh Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, pada petani “Sumber Makmur II”.

Kepala BI Malang, Azka Subhan Aminurrido, mengatakan penggunaan pestisida kimia dalam jangka waktu panjang akan merusak unsur hara dalam tanah yang sangat merugikan lingkungan ekosistem.

“Penggunaan pupuk kimia adalah polusi tanah, air dan udara, hilangnya unsur mikro, peningkatan keasaman tanah dan berdampak negatif terhadap perubahan iklim. Maka perlu dilakukan perubahan mindset kesadaran dari petani untuk lebih memperbanyak mengolah lahan dari semi organik dan anorganik untuk menjadi lahan organik,”tutur Azka.

Karena itu, peningkatan keahlian petani dalam hal konsep pertanian teknologi ramah lingkungan diperlukan untuk optimalisasi kualitas dan produktivitas budidaya padi organik dalam rangka meningkatkan produksi BI Malang mengadakan pelatihan inovasi teknologi ramah lingkungan yang berjudul “Capacity Building Optimalisasi Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan dan Manajemen Organik”.

Disampaikan Azka pelatihan itu, untuk mengatasi degradasi lingkungan yang terus menerus menurun akibat akumulasi limbah kimia. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 4 Maret 2021, kepada Kelompok Tani Sumber Makmur II di Desa Sumberngepoh Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.

BI Malang menggandeng Tim PKPHT (Pusat Kajian Pengelolaan Hama Terpadu) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang sebagai Narasumber dalam pelatihan tersebut. Pelatihan ini terbagi dalam 2 (dua) konsep yaitu teori dan praktek. Materi teori yang diajarkan meliputi, Sertifikasi Organik,

Pengantar Tentang Agens Hayati (Definisi, Peran dan manfaat),

Perbanyakan Agens Hayati,

Manajemen Produksi dan Kontrol Kualitas Agens Hayati, Peningkatan Kualitas Pupuk Organik.

Ia menyebut pelatihan sangat bermanfaat karena banyaknya petani yang mempunyai ternak, namun pemanfaatan kotoran ternak kurang maksimal bahkan dibuang begitu saja.

Petani menggunakan sebagian kecil pupuk organik dengan kotoran sapi yang dibeli dari luar daerah. Dampak selanjutnya adalah efisiensi biaya produksi apabila petani dapat menggunakan pupuk organik dari hasil kotoran ternak milik sendiri.

“BI Malang bersama-sama dengan Pemerintah Daerah dan stakeholders terusn bersinergi mengembangkan UMKM sesuai dengan sasaran kebijakan berkontribusi nyata pada perekonomian Indonesia yang kuat, berimbang, berkelanjutan, dan inklusif,”tambahnya.

Peran BI diharapkan dapat menciptakan iklim berusaha yang sehat, mendorong pengembangan potensi ekonomi lokal, mendorong peningkatan akses keuangan, mendorong peningkatan akses pasar, dan mendorong pemanfaatan fintech dan e- commerce. [mut]

Tags: