Biaya Besar, Petani Pilih Bertanam Padi dan Jagung

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo

Penyebab Produksi Kedelai Minus
Pemprov, Bhirawa
Produksi kedelai di Jatim pada tahun 2020 diperkirakan 57.235 ton. Produksi kedelai selalu minus dikarenakan merupakan tanaman sub tropis, sehingga jika menanam maka membutuhkan biaya yang lumayan besar.Sehingga akhirnya petani beralih ke tanaman komoditi lain seperti padi dan jagung.
Untuk lokasi sentra kedelai di Jatim , berada di wilayah Banyuwangi, Jember, Lamongan, Nganjuk, Bojonegoro, Blitar, Trenggalek, Pasuruan, dan Nganjuk. Untuk luas panen kedelai tahun 2020 diperkirakan 37.378 Ha (hektar are), sedangkan proyeksi 2021 luas panen 75.539 Ha.
“Untuk produksi kedelai di Jatim pada tahun 2020, masih mengalami defisit dengan diperkirakan sekitar 390 ribu ton dalam tahun 2020. Saat ini untuk kedelai masih cukup besar ketergantungan terhadap impor,┬┤kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Hadi Sulistyo, Senin (4/1).
Dijelaskannya, ada beberapa dugaan penyebab kedelai di pasaran diduga menghilang, diantaranya kedelai untuk kebutuhan Jatim masih impor. Kemudian, dari catatan Bloomberg, kondisi cuaca kering di Amerika sebagai produsen kedelai telah menjadi faktor utama proyeksi kenaikan harga kedelai.
Selanjutnya, kondisi kekeringan yang dapat memberi tekanan produksi dan pasokan. Selain itu, adanya second wave Covid 19 di banyak negara produsen dan di Indonesia menyebabkan terhambatnya pasokan dan keluar masuknya ekspor impor. Begitupula dengan distribusi antar wilayah di Indonesia mulai tersendat karena mulai ada pembatasan. Dan akhirnya daya beli turun, harga terkontraksi.
Selain itu, kata Hadi, ada beberapa kendala dalam upaya meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri, salah satunya adalah sejumlah petani beralih fungsi lahan dan menahan laju produksi.
“Secara nyata dari sisi petani, menanam tanaman padi dan jagung masih lebih menguntungkan ditingkat biaya usaha tani dari pada kedelai yang kurang mendapatkan intensif dari pemerintah,” katanya
Selain permasalahan kedelai diatas, kata Hadi, ada permasalahan kedelai secara umum yang terjadi di Jatim, seperti terjadi penurunan luas panen yang disebabkan oleh adanya peralihan fungsi lahan dari lahan pertanian ke non pertanian seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.
Disamping itu, tahun 2019 dan awal 2020 terjadi kemarau panjang merupakan penyebab turunnya luas panen kedelai. Kemudian, respons petani terhadap usaha tani kedelai tergolong lemah karena persepsi petani secara ekonomi usahatani kedelai kurang menguntungkan dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti padi dan jagung.
Ditambahkannya, dengan banyaknya kedelai impor yang harganya lebih murah, maka petani memilih untuk tidak menanam kedelai. Meskipun harga acuan berdasarkan Permendag Noor 27/M-DAG/PER/5/2017 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani untuk kedelai Rp. 8.500/kg, tetapi pada awalnya harga jual kedelai di lapangan sekitar Rp.6.500 s/d Rp.7.000/kg.
Dikatakannya, harga ini salah satunya dipengaruhi oleh mutu yang kurang baik, ukuran biji kedelai yang beragam dan tercampur varietas lain, disamping produktivitas kedelai di lahan kering sangat rendah baru berkisar antara 1-1,5 t/ha. Tetapi nantinya, untuk tahun 2021 ada proyeksi potensi pertumbuhan. [rac]

Tags: