Bitcoin dan Lunturnya Peradaban Ekologis

Oleh:
Finka Novitasari
Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Alma Ata Yogyakarta.

“Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan, lan kemareman.” Demikian Sunan Kalijaga memberikan petuah.
Mata uang crypto tengah santer di masyarakat. Tanpa mengenal usia, semua berlomba-lomba memiliki mata uang tersebut di dalam dompet digitalnya. Mata uang crypto yang paling diminati ialah Bitcoin, meski banyak mata uang crypto lainnya, namun Bitcoin sudah menjadi primadona sejak awal kemunculannya. Tokoh misterius yang menamai dirinya sebagai Satoshi Nakamoto telah berhasil membuat tren baru dalam dunia pembayaran. Bila mata uang konvensional bersifat terpusat atau sentralisasi, berbeda halnya dengan mata uang crypto yang penerbitan dan operasionalnya menggunakan teknologi blockchain.
Kendati demikian, mata uang yang digadang-gadang akan menjadi mata uang masa depan tersebut, tidak selamanya berdampak positif. Nyatanya, Bitcoin memberikan ancaman serius terhadap kelestarian lingkungan. Sebagaimana dikutip dari cuitan CEO mobil listrik kenamaan, Tesla pada pertengahan Mei lalu, “Tesla telah menangguhkan pembelian kendaraan menggunakan Bitcoin. Kami prihatin dengan peningkatan pesat penggunaan bahan bakar fosil untuk penambangan dan transaksi Bitcoin, terutama batu bara, yang memiliki emisi terburuk dari bahan bakar apa pun,” kicau Elon Musk pada akun Twitter-nya.
Dalam proses mining atau penambangan Bitcoin, diperlukan seperangkat komputer canggih untuk memecahkan teka-teki Algoritma dan kalkulasi kriptografi. Tentu hal ini membutuhkan konsumsi listrik yang tidak sedikit, mengingat komputer yang digunakan juga membutuhkan daya besar agar dapat bekerja dengan optimal.
Merujuk laporan Bitcoin Energy Consumption Index yang dirilis Digiconomist, proses mining satu keping bitcoin membutuhkan daya 1.820 kWh. Sebagai pembanding, angka tersebut setara dengan pemakaian rata-rata listrik rumah tangga di Amerika Serikat selama 62 hari.
Penggunaan listrik berlebihan, berdampak negatif terhadap lingkungan. Sebab, akan berimbas pada meningkatnya gas rumah kaca dan polusi udara. Konsumsi listrik besar-besaran lama-kelamaan akan mengeruk habis sumber daya alam yang ada, karena untuk menghasilkan listrik sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil.

Peradaban Ekologis
Perhatian terhadap krisis ekologi sudah dimulai sejak lama. Orang-orang mulai menerka dan menafsirkan kondisi alam serta keterkaitannya dengan segala hal yang diperbuat oleh manusia.
Berangkat dari paper yang ditulis Lynn White Jr. yang dipublikasikan dalam Jurnal Science berjudul “The Historical Roots of Our Ecological Crisis” pada tahun 1960-an, ia menekankan bahwa penyebab makin masif, dramatis, serta kompleksnya kerusakan lingkungan adalah ketika cara pandang yang berpusat kepada manusia, kemudian didukung oleh berbagai penemuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang terbukti lebih banyak bersifat destruktif terhadap alam.
Contoh sederhana dari peradaban ekologis di masa lalu adalah nenek moyang yang mampu menjaga alam dengan baik. Kepercayaan terhadap mitos, seperti larangan menebang pohon dan merusak alam, mereka pun tidak akan berani melanggar larangan tersebut. Secara tidak langsung, itu termasuk bentuk peradaban ekologis. Dampaknya pun sangat nyata, yang mana mereka mampu menjaga hingga mewariskan alam kepada generasi berikutnya-sebelum akhirnya dunia modern perlahan mengubah cara berpikir manusia.

Cara Pandang Dunia Modern
Bilamana hanya dengan mitos saja yang belum tentu benar adanya, mampu mendoktrin cara berpikir nenek moyang dulu, hal ini sangat kontras dengan kondisi yang terjadi saat ini. Pelbagai bencana tampak nyata di depan mata, namun manusia zaman sekarang masih saja beradu tanya dan tunjuk salah. Padahal, secara tidak langsung mereka turut andil sebagai penyebab bencana. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh modernitas yang sudah banyak memengaruhi pola berpikir manusia.
Tak dapat dimungkiri, perkembangan sains telah memberikan kemajuan yang cukup pesat dalam peradaban manusia. Keberadaanya begitu dielu-elukan, dengan harapan segala problematika manusia dapat terselesaikan dengan keberadaan teknologi-sebagaimana tujuan teknologi ialah membantu menyelesaikan problematika manusia.
Meskipun demikian, perkembangan sains yang ditandai dengan kemajuan teknologi tersebut, tidak seluruhnya menyelesaikan segala problematika yang ada. Justru, timbullah permasalahan baru yang semakin pelik.
Tanpa disadari, modernitas turut melahirkan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakpedulian terhadap lingkungan hidup. Hal tersebut semakin kompleks dengan munculnya permasalahan ekologis, seperti pencemaran lingkungan, polusi udara, pemanasan global, hingga permasalahan ekologis lainnya yang mengancam eksistensi manusia.
Kendati demikian, cara berpikir manusia modern sudah dipenuhi materialisme dan kapitalisme. Semua berlomba-lomba memuaskan hasrat duniawi, tanpa mempedulikan dampak yang akan terjadi di kemudian hari.

Ekologi dan Ekonomi
Ekologi dan ekonomi adalah dua hal yang saling berkaitan. Hendaknya keduanya saling mendukung guna keberlangsungan kehidupan. Alam menyediakan sumber daya, sementara manusia memanfaatkannya sebagai pemenuhan ekonomi. Akan tetapi, lagi-lagi kenyataannya tidaklah demikian. Ketika mengejar keuntungan besar sebagai aspek pemenuhan ekonomi, justru yang terjadi adalah mengabaikan aspek ekologi.

Lunturnya Peradaban Ekologis
Menilik realitas yang terjadi, perlahan peradaban ekologis kian tergerus seiring berkembangnya zaman. Kilas balik terhadap ancaman krisis ekologis yang boleh jadi disebabkan oleh Bitcoin di kemudian hari, banyak yang tidak peduli akan hal itu. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk lunturnya peradaban ekologis dari peradaban manusia.
Fakta dalam lapangan menyatakan bahwa peminat Bitcoin semakin hari semakin banyak. Permintaan yang terus bertambah, meningkat pula emisi karbon, yang akhirnya menambah efek pemanasan global.
Mengikuti perkembangan teknologi merupakan hal yang lumrah dilakukan. Tuntutan perkembangan zaman memaksa manusia mau tidak mau harus ikut dalam arus modernitas. Namun, jangan sampai modernitas yang diakselerasi dengan perkembangan ekonomi justru membuat moralitas terlupakan, karena ketamakan dengan mengorbankan segala hal demi pemenuhan nafsu sesaat.
Meminjam kembali petuah Sunan Kalijaga yang bermakna: sebagai manusia jangan sampai terkukung oleh keserakahan untuk memperoleh kedudukan, sesuatu yang bersifat kebendaan (memiliki harta), dan kepuasan duniawi. Tidak berlebihan jika petuah ini harus ditanamkan kembali pada diri tiap individu.
Sudah saatnya manusia menjadikan kesadaran lingkungan sebagai suatu hal yang tidak bisa diremehkan. Keterlibatan dalam upaya menjaga keseimbangan alam merupakan keharusan dari setiap individu. Bagaimana pun, manusia tidak bisa melepaskan diri dari alam. Ketika manusia mampu memperlakukan alam dengan baik, maka alam akan memberikan kebaikan terhadap keberlangsungan hidup. Namun, jika manusia tidak dapat menjaga alam, maka alam akan mengganggu keseimbangan kehidupan, tidak hanya kehidupan manusia, melainkan juga keseluruhan kehidupan yang ada di dalamnya.

——— *** ———

Rate this article!
Tags: