Blustopper, Alat Terapi Penggerak Jari untuk Pasien Stroke

Basyara Al Faizan dan tim menunjukkan cara kerja robot tangan yang dibuat untuk pasien stroke.

Surabaya, Bhirawa
Pandemi Covid 19 bukan menjadi penghalang bagi mahasiswa berhenti belajar apalagi prestasi. Hal ini dibuktikkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya yang meraih gold medal dalam event international berkat Bluetooth Sensor Tool Post Stroke Helper (Blustopper) yang dibuat Rafly Basyara Al Faizan dan tim.
Menurut Rafly, inovasi ini dilatari oleh pasien stroke yang mengalami gangguan gerak motorik, seperti sulit berjalan atau menggerakkan tangan. Karenanya, terapi rehabilitasi dibutuhkan oleh pasien stroke agar bisa kembali mengontrol fungsi tubuhnya dengan baik.
“Diantara sekian terapi stroke, rehabilitasi konvensional adalah salah satu yang paling terkenal. Saat melakukan terapi stroke yang satu ini, pasien akan dibantu oleh terapis untuk dapat kembali mengontrol fungsi gerak tubuhnya. Dan alat kami akan menunjang terapi ini,” jelas Rafly.
Bulstoper ini dibuat untuk terapi jari penderita stroke. Pasien stroke kan memakai robot yang bentuknya menyerupai tangan untuk rehabilitasi. Sementara terapisnya memakai sarung tangan yang sudah dipasang sensor, sehingga setiap gerakan yang dibuat terapis akan diikuti robot tangan yang dipakai pasien.
“Kini robot buatan tim kami masih memakai daya powerbank, jadi terapi yang dilakukan terbatas waktunya. Selain itu, ukuran robot tangan juga masih custom sesuai ukuran jari pasien,” lanjutnya.
Dengan alat ini, pasien dan terapis juga bisa mengurangi kontak sehingga sangat efektif jika digunakan saat pandemi. Meskipun masih perlu penyempurnaan, inovasi mahasiwa angkatan 2019 ini mampu meraih berbagai prestasi di ajang internasional bersaing dengan 20 negara. Atas capaian nya ini, Rafli Basyara dan tim mendapat penghargaan dan apresisi dari UMSurabaya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Ma’ruf Sya’ban menambahkan, capaian yang diraih para mahasiswa sudah seyogyanya mendapatkan apresiasi dari pihaknya. Apresiasi dan penghargaan ini sebagai penyemangat bagi mahasiswa untuk terus berkreasi dan berinovasi di masa pandemi.
“Karena seluruh aktifitas salah satunya perkuliahan cenderung dilakukan di rumah. Perkuliahan juga secara daring. Ini mengakibatkan kecilnya inovasi baru yang muncul,” ujar dia.
Ma’ruf menambahkan, penghargaan diberikan oleh kampus dilihat dari beberapa poin. Diantaranya keterbarun inovasi, dampak inovasi kepada lingkungan, dan dampak inovasi terhadap teori yang dikembangkan. [ina]

Tags: