BNNP Jatim Amankan Tiga Kilogram Sabu Jaringan antar Provinsi

Kepala BNNP Jatim, Brigjen Pol Mohamad Aris Purnomo (tengah) menunjukkan barang bukti sabu jaringan Jakarta-Mataram. [Abednego]

BNNP Jatim, Bhirawa
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim berhasil menggagalkan peredan narkotika jenis sabu jaringan antar provinsi. Sekitar 2.994 gram atau hampir 3 kilogram sabu disita dari dua tersangka jaringan narkotika Jakarta-Mataram.
Kedua tersangka yang diamankan berinisial IP warga Lombok Barat dan SK warga Banten. Dari kedua tersangka petuga BNNP Jatim menyita barang bukti 3 bungkus narkota jenis sabu dengan berat 2.994 gram atau hampir 3 kilogram, 1 unit mobil Toyota Rush, uang tunai total Rp 3.180.000 dan 4 unit handphone bermacam merek.
“Kedua tersangka ini merupakan jaringan narkotika Jakarta-Mataram. Keduanya juga merupakan residivis kasus serupa, yakni kasus narkoba,” kata Kepala BNNP Jatim, Brigjen Pol Mohamad Aris Purnomo, Senin (6/12).
Aris menjelaskan, keduanya ditangkap di Pintu Exit Tol Waru Gunung pada tanggal 25 November lalu. Saat digeledah, petugas kami mendapati tiga bungkus sabu-sabu berwarna hijau bertuliskan Guan Yin Wang (teh china) yang disimpan di dalam laci mobil depan sebelah kiri dengan total 2.994 gram.
Saat diperiksa, sambung Aris, SK mengaku mengajak temannya IP untuk mengantarkan barang haram tersebut ke Mataram, Nusa Tenggara Barat. Setelah sampai di Mataram, IP baru akan diberi tahu siapa penerimanya. Tersangka SK dan tersangka IP juga mengakui sudah dua kali mengantar sabu-sabu ke Mataram dengan imbalan sejumlah uang. “Tersangka SK ini residivis kasus narkoba pada 1998 silam. Sedangkan tersangka IP ini residivis kasus serupa pada 2013,” jelasnya.
Masih kata Aris, kedua tersangka mengaku sudah 2 kali mengantar narkotika jenis sabu ke Mataram. Tak hanya itu, SK juga mengaku dijanjikan upah sebesar Rp 50 juta untuk setiap pengiriman barang. Bahkan dalam menjalankan aksinya, sambung Aris, kedua tersangka juga mendapat uang transport dari bos yang memerintahnya.
“Kami sudah mendapat upah untuk biaya transport ke Mataram sebesar Rp 5 juta. Sisanya dijanjikan setelah pengiriman barang selesai ke tempat tujuan,” ungkap SK di depan Kepala BNNP Jatim dan awak media.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 114 ayat (2) Subs Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Tindak Pidana Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika. [bed]

Tags: