Boarding School dan Ponpes Harus Mempunyai SOP Covid-19

Drs Martadi

Kurikulum Transisi Harus Disiapkan dalam Sistem Pembelajaran
Surabaya, Bhirawa
Pendidikan berbasis boarding school dan Pondok Pesantren (Ponpes) menjadi tantangan dalam penerapan tatanan baru atau new normal dalam menghadapi pandemi Covid 19. Terlebih dalam sistem pendidikan ini, peserta didik ataupun santri berlatar dari daerah yang berbeda. Sekitar lebih dari 28.900 pesantren dan sekolah berasrama di Indonesia yang perlu dipersiapkan dengan beragam kelaziman baru agar tidak menjadi titik penyebaran baru atau cluster baru Covid 19.
Menurut pakar pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Drs Martadi, perlu adanya Standart Of Prosedure (SOP) protokol Covid 19 saat masuk kembali. Sebab adanya pandemi akan mempengaruhi jumlah siswa yang akan memilih untuk sistem pendidikan boarding school.
“Bisa jadi jumlahnya akan bergeser. Orang tua jika tidak yakin bisa jadi mereka memilih untuk berpikir lebih baik menyekolahkan anaknya. Akan tetapi saya yakin hal ini tidak akan mengurangi Ponpes yang sudah settle,” urainya, dikonfirmasi Bhirawa.
Namun, bagi Ponpes yang belum siap, maka evaluasi diri perlu disiapkan. Hal itu untuk memastikan, apakah seluruh standar untuk menjamin berjalannya protokol Covid 19 dipenuhi atau tidak. Selain itu, juga harus disiapkan kurikulum transisi pesantren dan boarding school dalam tatanan baru. Seperti bahan ajar, media pembelajaran dan modul sesuai pilihan media pembelajaran. Terakhir, menyusun model penilaian perkembangan belajar anak di rumah.
“Sebaiknya di Ponpes atau boarding ini mengecek dirinya. Selain dari sisi protokol kesehatannya, juga sistem pendidikan yang akan diterapkan. Setiap point harus dicek kesiapannya. Kalau sudah siap, silahkan dibuka. Tapi kalau tidak, saya tidak menyarankan pembelajaran dibuka kembali. Karena saya khawatir akan ada cluster baru,” jelasnya.
Ditambahkam Martadi, untuk sistem pendidikan baik boarding school atau pondok pesantren harus menyiapkan sistem shif untuk mengurangi jumlah siswa yang berlebih untuk menerapkan physical distancing. Misalnya, jumlah ada 500 siswa, 250 di dalam kelas sisanya di asrama. ”Yang di asrama ini akan belajar apa dan ini diputar. Karena itu sistem shif harus diatur betul,” katanya.
Sedangkan dari sisi protokol kesehatan, Martadi menekankan jika pesantren harus mengadakan skrining bagi peserta didik atau santri yang baru datang. Seperti pengecekan suhu, penyediaan sarana cuci tangan, ruang makan dan tempat tidur. Serta berkoordinasi dengan Dinkes untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, jika terdapat indikasi Covid 19 harus disiapkan isolasi khusus.
“Selain itu saat berkumpul dari berbagai tempat, karena pila boarding school dan Ponpes ini komunal maka kebiasaan seperti sering tukar alat makan. Ini juga berpotensi adanya cluster baru. Jika tidak siap jangan dipaksakan. Agak diundur dulu. Lalu kemudian yang harus dilakukan menyiapkan sistem pembelajaran di rumahnya. Termasuk anak – anak dari luar Pulau Jawa jangan dimasukkan dulu,” kata dia. [ina]

Tags: