BPBD Jatim Libatkan Relawan dalam Mitigasi Bencana Hidrometereologi

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Gatot Soebroto (tengah) bersama tim relawan dan pentahelox dalam mitigasi bencana hidrometereologi, Kamis (15/10). [abednego/bhirawa]

BPBD Jatim, Bhirawa
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menggandeng tim relawan dalam upaya mitigasi (mengurangi risiko bencana) kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometereologi.

Itu menyusul surat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tanggal 3 Oktober 2020, perihal kondisi iklim Jatim di 2019 dan 2020.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, mitigasi bencana sudah dilakukan jauh-jauh hari. Untuk itu pihaknya melakukan mitigasi secara pentahelix, dengan menggandeng semua eleman. Seperti tim relawan, akademisi, Pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan media.

“Menindaklanjuti pengumuman dari BMKG terkait dengan informasi adanya kemungkinan badai La Nina dengan potensi hujan 40 persen. Upaya mitigasi kami lakukan secara pentahelix dan koordinasi dengan tim relawan maupun semua elemen,” kata Gatot Soebroto kepada Bhirawa, Kamis (15/10).

Gatot menjelaskan, relawan ini ada unsur-unsur kelompok-kelompok kecil. Seperti relawan SRPB maupun yang di luar SRPB, yakni FPRB dan LPBI NU. Dengan penanganan secata pentahelix, pihaknya berharap adanya soliditas dalam mitigasi bencana ini. Sebab mereka inilah yang merupakan lembaga-lembaga yang ada di kelompok-kelompok masyarakat saat ini.

“Bencana hidrometereologi ini diantaranya banjir, longsor, angin puting beliung dan gelombang tinggi di laut. Selama ini yang paling dekat adalah masyarakat dan dalam hal ini termasuk relawan. Sehingga mereka bisa membantu upaya mitigasi dan penanganan oleh BPBD,” jelasnya.

Gatot menambahkan, pihaknya berharap kelompok tersebut bisa memberikan dukungan dan bantuan serta Suport kepada BPBD maupun masyarakat. Apabila terjadi bencana, mereka diharapkan bisa ikut turun membantu. Dalam hal ini membantu dari sisi membangun Huntara (hunian sementara), dapur umum, kesehatan.

“Kami berharap dukungan dari teman-teman relawan untuk bisa saling bahu membahu dan solid dalam kegiatan kemanusiaan. Ini juga salah satu bentuk dari Nawa Bhakti Satya yang ke sembilan, yaitu Jatim harmoni. Itu juga dasar kami mengumpulkan teman-teman relawan untuk menghadapi potensi adanya bencana hidrometeorologi,” harapnya.

Pihaknya menambahkan, diperkirakan mulai September sampai akhir tahun intensitas hujan akan tinggi. Kalau intensitas hujan tinggi, maka potensinya akan terjadi bencana banjir. Tidak menutup kemungkinan adanya angin puting beliung dan tanah longsor.

Koordinasi ini, sambung Gatot, salah satu bentuk mitigasi yang bisa dilakukan sehingga masyarakat dalam hal ini relawan bisa mempersiapkan diri. Seperti mempersiapkan peralatan, logistik apa yang dibutuhkan. Sehingga pada saat nanti dibutuhkan sudah bisa bergerak bersama dengan BPBD.

“Kesiapsiagaan dan soliditas sangat dibutuhkan dalam upaya mitigasi bencana hidrometereologi. Serta dilakukan secara pentahelix, sehingga bersama-sama dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana,” pungkasnya. [bed]

Tags: