BPBD Tuban Kukuhkan Desa Tangguh Bencana

Bersama BPBD, JOB PPEJ serta Muspika Kecamatan Soko Tuban, tim saat melakukan simulasi pengunaan HT dalam koordinasi penangulangan Bencana Kegagalan Teknologi Industri. (khoirul huda/bhirawa)

Tuban, Bhirawa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban bersama Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ) kembali melaksanakan kegiatan simulasi terkait Bencana Kegagalan Teknologi Industri (17/1), pada kesempatan tersebut Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban yang merupakan lokasi industri Migas juga dikukuhkan sebagai Desa Tangguh Bencana Kegagalan Teknologi Industri.
Simulasi yang merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan kegiatan sebelumnya ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa (Pemdes) sekitar perusahaan untuk melakukan antisipasi kegagalan industri.
“Ini bagian dari tindak lanjut simulasi sebelumnya yang di selenggarakan antara JOB PPEJ dan BPBD, Sekaligus pengukuhan Desa Rahayu sebagai Desa Tangguh Bencana Kegagalan Teknologi Industri,” kata Joko Ludiono, sebagai Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban (18/01).
Diterangkan, bahwa pelaksanaan simulasi tersebut lebih ditekankan peningkatan kapasitas warga masyarakat, pemerintah desa (Pemdes), pihak Muspika dan instansi lainnya yang ada di wilayah kecamatan. Sehingga dengan adanya komunikasi yang baik dan kecepatan informasi akan bisa mengurangi dan meminimalisir resiko terjadinya korban.
“Untuk kali ini kita titik beratkan untuk peningkatan kapasitas. Ini sebagai upaya pengurangan resiko bencana bagi masyarakat dan stakeholder supaya tahu bahayanya,” sambung Joko.
Dalam simulasi kali ini digambarkan bagaimana proses pelaporan dan juga koordinasi antar instansi jika terjadi bencana kegagalan teknologi industri di JOB PPEJ yang ada di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban.
Setelah ada laporan, pihak BPBD langsung melakukan koordinasi dengan instansi terkait mulai dari pihak desa, Polsek, Koramil, Puskesma untuk melakukan langkah awal melalui saluran komunikasi Handy Talki (HT) radio milik BPBD Tuban.
“Kita juga menghitung kerentanannya dan meningkatkan kapasitas diri. Koordinasi dilakukan dengan menggunakan radio (HT) sebagai sarana komunikasi antar stakeholder dalam penerapan skenario seandainya terjadi bencana yang sesungguhnya,” sambungnya.
Dengan adanya kegiatan simulasi yang melibatkan semua pihak diharapkan nantinya semua punya gambaran dan langkah taktis jika terjadi bencana industri sesuai dengan tugas masing-masing. Dari beberapa kali simulasi yang digelar JOB PPEJ dengan BPBD itu semua pihak mampu menguasai, menghitung durasi waktu dan target penanganannya.
“Simulasi ini adalah bentuk pelaksanaan Undang-undang nomor 24 tahun 2007,  bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab tidak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat dan dunia usaha,” pungkas Kepala BPBD Kabupaten Tuban ini. (hud)

Tags: