Budaya Doa Rajabiyah

Suasana politik makin panas jelang akhir masa kampanye bersamaan libur panjang. Tetapi bersyukur adat budaya Nusantara (Indonesia) memiliki budaya perayaan (sekaligus pemuliaan) bulan Rajab. Selain puasa pada bulan Rajab, masyarakat seantero Indonesia memiliki adat budaya menyemarakkan Rajab, dengan berbagai ke-guyub-an sosial. Terasa strategis sebagai media mem-bersatu-kan masyarakat, selama dua bulan terombang-ambing isu Pilpres.

Berbagai atraksi adat budaya ditampilkan kembali, bisa membangkitkan ekonomi kreatif. Di berbagai keraton Jawa terdapat budaya Nyadran, dan Rajaban. Ada Rejeban Peksi Buraq di Yogyakarta. Ada Nganggung di Bangka Belitung. Serta di Lombok (Nusa Tenggara Barat) ada Ngurisan. Pesta budaya rakyat mulai digelar. Kegiatan ekonomi kreatif, dan per-ibadat-an berjamaah komunitas sosial mulai semarak. Juga diselenggarakan doa bersama tanpa benderfa parpol, dan tanpa kehadiran tim sukses Paslon.

Bulan Rajab menandai bulan ketujuh dalam kalender Islam (Hijriyah). Menjadi salahsatu diantara 4 bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Periode bulan lain yang dimuliakan, adalah Zulkaidah. Tradisi Jawa disebut wulan Sela, masyarakat Sunda menyebut bulan Hapit. Juga terdapat bulan Zulhijjah (bulan ke-12 dalam kalender Hijriyah, waktu pelaksanaan Haji), dan bulan bulan Muharram (bulan pertama, awal tahun baru Islam).

Sebagai periode waktu yang dimuliakan, ke-4 bulan disebut dalam Al-Quran, surat At-Taubah ayat ke-36. Juga tercantum dalam surat Al-Maidah ayat ke-2. Disebut sebagai bulan haram, dengan perintah memperbanyak ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Terutama puasa, shalat sunnah, dan sedekah. Hampir seluruh tempat ibadah, menjelang shalat 5 waktu, dilantunkan syair doa. Berisi permohonan ampunan, serta harapan bertemu bulan Ramadhan.

Dalam bulan Rajab terdapat peristiwa Isra’ mi’raj. Yakni perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari sisi Ka’bah (Makkah) menuju masjid Al-Aqsha (di Yerussalam, petilasan Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa a.s.). Dilanjutkan perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad SAW ke langit tujuh hingga Sidratil Muntaha. Suatu tempat penghujung langit ketujuh, ditandai dengan sebuah pohon Bidara besar (pada keyakinan lain disebut “pohon kehidupan”). Sebagai batas akhir yang tidak bisa dilampaui seluruh makhluk).

Peristiwa Isra’ Mi’raj, terjadi pada malam tanggal 27 Rajab, sekaligus menjadi uji ambang batas keimanan, dan kesaksian kebenaran Nabi Muhammad SAW. Jarak dari Makkah ke Yerussalem, pada masa lalu biasa ditempuh dengan perjalanan onta selama sebulan. Tetapi kanjeng Nabi Muhammad SAW bisa menempuhnya dalam satu malam. Tidak sedikit umat Islam pada periode pertama (para sahabat), awalnya meragukan kebenaran Isra’ Mi’raj.

Namun setelah diperkuat dengan cerita (kesaksian) Kanjeng Nabi SAW tentang 3 kafilah (rombongan), masyarakat baru percaya adanya mukjizat dalam Isra’ Mi’raj. Nabi Muhammad SAW kenal dekat dengan anggota rombongan yang kehilangan onta. Bahkan Nabi Muhammad SAW juga turut minum dari wadah air besar yang dimiliki anggota kafilah kedua. Cerita pertemuan Nabi SAW dengan tiga rombongan, seluruhnya benar. Termasuk berbagai detil warna jubah, dan pembungkus barang.

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, bukan fiktif. Pada intinya adalah pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Ilahi sang Maha Pencipta. Khusus menerima perintah shalat lima waktu. Di berbagai daerah di Indonesia, Isra’ Mi’raj dirayakan sebagai ibadah menyongsong bulan Ramadhan. Perayaan bulan Rajab berbalut adat budaya. Misalnya, Nyadran, yang dilaksanakan warga kecamatan Gunungpati, Semarang.

Pelaksanaan Rajabiyah tahun ini, bersamaan dengan penyelenggaraan Pilpres, dan Pemilu Legislatif. Maka doa bersama dalam istighotsah kubro (kolosal) diharapkan bisa membersatukan kembali masyarakat yang terbelah karena pilihan Paslon.

——— 000 ———

Rate this article!
Budaya Doa Rajabiyah,5 / 5 ( 1votes )
Tags: