Bukan Penentu Kelulusan, Siswa Mulai Remehkan UN

Kepala Dindik Jatim Dr Saiful Rachman melihat para siswa yang terlambat datang di SMAN 10 Surabaya di UN hari pertama, Senin (13/4).

Kepala Dindik Jatim Dr Saiful Rachman melihat para siswa yang terlambat datang di SMAN 10 Surabaya di UN hari pertama, Senin (13/4).

Dindik Jatim, Bhirawa
Ketegangan yang terjadi setiap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tidak terlihat pada diri peserta tahun ini. Siswa lebih santai menghadapi UN di hari pertama, Senin (13/4) kemarin. Saking santainya, mereka bahkan datang lebih lambat dari jadwal yang seharusnya ditentukan.
Keterlambatan siswa dalam jumlah besar nyaris tak pernah ditemui pada UN di tahun-tahun sebelumnya. Namun tahun ini, keterlambatan siswa seakan menjadi pemandangan biasa. Di SMAN 10,  rombongan sidak Dindik Jatim melihat secara langsung siswa yang terlambat datang ke sekolah. Ada sekitar sepuluh siswa datang tergopoh-gopoh ke sekolah melalui parkiran motor di samping sekolah.
Para siswa itu datang sekitar pukul 07.45, padahal jadwal UN sudah dimulai pukul 07.30. “Jangan mentang-mentang UN tidak jadi penentu kelulusan, terus anak-anak meremehkan gini. Seharusnya siswa bisa datang lebih awal,” ungkap Saiful sembari melihat siswa SMAN 10 yang berlari-lari.
Saat ditanya, alasan keterlambatan mengikuti UN hanya karena siswa mengira UN dimulai pukul 08.00. Sehingga, para siswa berangkat dari rumah pukul 07.30. “Mungkin sosialisasi jadwal UN masih kurang. Saya minta sekolah dan guru terus memberi tahu siswanya untuk tidak terlambat di hari selanjutnya,” ujar Saiful.
Kepala SMAN 10 Surabaya Hasanul Faruq mengakui sudah berkali-kali memberitahu seluruh siswa untuk datang 10 menit sebelum ujian berlangsung. “Tapi, namanya anak-anak selalu ada pelanggaran,” tandasnya.
Di SMAN 10 ada 302 siswa normal dan inklusi yang mengikuti UN baik Computer Based Test (CBT) dan Paper Based Test (PBT). Sebanyak 299 siswa mengikuti UN CBT. “Ada dua siswa tuna daksa yang mengikuti UN CBT,” jelasnya.  Sisanya, empat siswa inklusi mengikuti PBT. Dengan rincian, satu siswa tuna netra, satu siswa tuna rungu dan dua siswa autis. Selain itu, ada tiga siswa yang mengalami keterlambatan mental untuk mengikuti Ujian Sekolah  (US). “Kalau ikut UN tiga siswa itu dirasa tidak mampu, makanya cukup US saja,” ungkapnya.
Hal serupa juga terjadi ketika Dindik Jatim mengunjungi SMKN 1 Surabaya. Sejumlah siswa juga mengalami keterlambatan ketika memasuki sesi dua UN CBT. Melihat peristiwa ini, Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof  Zainudin Maliki mengakui ada tanda-tanda siswa mulai meremehkan UN. Ini diakuinya sebagai hasil pendidikan yang selama ini dimotivasi dengan ancaman lulus dan tidak lulus. Begitu ancaman itu ditiadakan, kepribadiannya terlihat yang sebenarnya.
“Dulu tidak ada ceritanya siswa terlambat ujian. Mereka takut nggak lulus. Kalau pun ada paling satu dua,” tutur Zainudin.
Menurutnya, pendidikan yang mengandalkan ancaman (lulus atau tidak lulus) tidak dapat membangun kepribadian siswa. Sekarang baru terbukti, dulu siswa disiplin mengikuti UN bukan karena disiplin, tetapi karena takut tidak lulus.
Selain keterlambatan siswa, hari pertama pelaksanaan UN CBT di Surabaya juga terdapat sejumlah kendala teknis. Seperti yang terjadi di SMA Al Hikmah Surabaya. Siswa sekolah tersebut sempat terlambat mengerjakan soal UN selama 11 menit karena menunggu distribusi token dari pusat. Sesuai jadwal, hari pertama UN CBT siswa mengerjakan mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. Gelombang pertama dimulai pukul 07.30-09.30. Yang terjadi di SMA Al Himah, token atau kode aktivasi baru diterima siswa pukul 07.41.
Menurut Andik, keterlambatan itu tak membuat siswa panik. Sebab, sesuai aturan, jika keterlambatan tak lebih dari 60 menit, maka ujian tetap bisa dilakukan pada saat itu. Namun jika lebih, ujian akan ditunda sampai pada sesi berikutnya. Meski terlambat, hal ini juga tidak memotong jatah siswa dalam mengerjakan soal UN. Karena, waktu mulai start selama 120 menit ketika siswa berhasil login. “Jadi kalau gelombang pertama dimulai 07.41, selesainya ya 09.41,” ungkapnya.
Kendala teknis juga terlihat di SMKN 1 Surabaya. Beberapa siswa pesarta UN CBT di sekolah ini sempat terganggu dengan masalah pergantian soal yang lambat. Kepsek SMAN 1 Surabaya Bahrun mengakui, ada siswa yang mengalami loading saat mengerjakan soal. Misalnya, siswa akan mengerjakan soal ke nomor enam, akan tetapi soal nomor enam tersebut tidak kunjung terbuka. Akhirnya, pengawas meminta siswa pindah PC . “Tidak usah mengulang soal, langsung mengerjakan soal selanjutnya,” jelas Bahrun.
Sementara di SMAN 1 Surabaya, kendala teknis UN CBT juga terjadi. Sejumlah siswa mengaku harus berulang kali login karena sebab yang tidak diketahui. Hal ini terulang hingga dalam satu waktu lima kali. “Di tengah-tengah mengerjakan tiba-tiba diminta masukan token. Itu sampai lima kali. Tapi tidak semua siswa juga demikian,” tutur salah satu peserta di SMAN 1 Surabaya.
Merespons persoalan teknis yang terjadi saat UN CBT, Kepala Dindik Jatim Dr Saiful Rachman menganggapnya sebagai musibah kecil. Karena secara umum pelaksanaan UN CBT maupun PBT relatif tidak ada masalah. Apalagi UN CBT ini baru pertama kali digelar dan Jatim kedapatan yang paling banyak se-Indonesia. “Tidak masalah ini dan ini proses yang harus dijalani. Nanti akan ada evaluasi dan perbaikan,” ujarnya.
Saiful mengakui, dengan adanya UN CBT ini terjadi efisiensi pelaksanaan. Baik dari segi dana, pengawasan, dan lain sebagainya. Ini dapat menjadi masa depan UN di Indonesia. Pihaknya yakin, Jatim dapat menyelenggara dengan jumlah lebih besar tahun depan.
Terpisah, Kepala Dindik Surabaya Ikhsan juga mengakui telah terjadi persoalan teknis di beberapa sekolah saat UN CBT gelombang pertama dimulai. Diantaranya login terlambat. Namun, ketika proses sudah berjalan, semua lancar kembali. Hal ini terjadi hampir di semua sekolah. Secara logika, ini pasti terjadi karena antri. Tapi yang penting jedanya tidak lama dan tidak merugikan siswa.
“Kalau mengerjakan telat 10 menit sekalipun, jatah waktu mengerjakannya tetap 120 menit. Tapi bukan berarti boleh datang telat,” kata dia.
Ikhsan menyatakan, sekolah penyelenggaran UN tingkat SMA, baik PBT maupun CBT, di Kota Pahlawan sebanyak 230 lembaga. Rinciannya,132 SMA/MA dan 98 SMK. Dari 132 SMA/MA itu, 24 diantaranya penyelenggaran UN CBT. Sementara, untuk jenjang SMK ada 30 lembaga penyelenggara UN CBT.
Sementara itu hari pertama sidak pelaksanaan UN online, Komisi E DPRD Jatim mendadak menemukan sejumlah kekurangan. Seperti yang terjadi di  SMAN 4 Kota Malang, komisi yang membidangi Kesra ini sempat dikagetkan lampu mati, meski hanya dua menit saja. Namun kondisi ini membuat peserta UN kaget dan tidak konsentrasi dikarenakan mereka khawatirkan jawaban yang sudah dipilih hilang.
Geri Amanda, siswa kelas 3 IPA SMAN 4 Kota Malang misalnya, mengaku hari pertama pelaksanaan UN, server sempat error karena lampu mati walaupun sebentar, tapi sempat bikin panik siswa. “Untuk saat ini mending UN berbasis paper, karena persiapan UN online kurang matang. Mungkin juga masih baru jadi masih penyesuaian,” ujarnya ditemui usai ujian.
Sedangkan Alif Pradi Ananda, siswi SMAN 4 ini juga menyesalkan persiapan yang kurang matang, sehingga saat pelaksanaan UN masih terjadi permasalahan teknis walaupun sebentar.
Melihat kondisi tersebut, anggota Komisi E DPRD Jatim Agus Dono Wibawanto menegaskan dalam hari pertama pelaksanaan UN online tidak ada kendala berarti karena sudah ada sosialisasi dari pemerintah. Selain itu siswa lebih santai dan orangtua tidak terlalu takut dan khawatir, karena hasil UN bukan menjadi dasar penentu kelulusan siswa. “Lihat  wajah mereka (siswa, red)  terlihat segar-segar dan tidak tegang. Mereka semua tahu kalau UN hanya untuk mapping saja dan tidak dijadikan dasar kelulusan, yang menentukan kelulusan adalah sekolah masing-masing,”papar politisi asal Partai Demokrat Jatim, Senin (13/4).
Meski tak menemui kendala dalam sidak UN,  politisi yang juga pengusaha ini mengkritik pihak PLN yang tidak tanggap atas adanya pelaksanaan UN. “Tadi sempat mati lampu meski hanya beberapa menit. Walaupun pihak panitia menjamin kalau ada back up dari server sehingga jawaban siswa tidak hilang. tapi secara otomatis menganggu konsentrasi siswa saat mengerjakan,” tegasnya.
Sedang Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Hery Sughiono menambahkan pemerintah kabupaten/kota dan Pemprov Jatim harus memback-up penuh pelaksanaan UN. Dari hasil sidak ini diketahui berbagai hal yang terjadi misalnya lampu mati  dan ini akan menjadi bahan evaluasi pelaksanaan UN ke depan. “Ini penting dan Pemprov Jatim maupun Pemkab khususnya agar bisa lebih siap. Dan yang terpenting dengan UN online tersebut banyak efesiensi anggaran. Di antaranya mulai kertas soal dan jawaban, percetakan hingga distribusi soal tanpa harus menyertakan aparat kepolisian,”paparnya.
Tapi terlepas dari itu semua, hasil UN kali ini bukan satu-satunya penentu kelulusan. Dengan begitu sudah tidak ada lagi para orangtua yang mencari kunci jawaban, berikut munculnya joki-joki UN.
Terpisah, Pengawas IT Nasional  Sa’at Patmantara mengaku pihaknya terus turun untuk memantau pelaksanaan UN online yang baru kali ini dilakukan di Indonesia. Secara nasional baru 840 sekolah, sementara Jatim sendiri ada 168 sekolah  yang menggunakan sistem online. Sedang sisanya yang mencepai ribuan sekolah menggunakan paper (kertas). “Kami akan memantau kekurangan dari sistem online ini dan akan menjadi evaluasi bagi kami untuk pelaksanaan UN tahun depan. Yang pasti Diknas akan menambah jumlah sekolah peserta UN online,”paparnya.

UN CBT Lebih Cepat
Meski baru pertama kali, UN dengan model CBT ternyata cukup disenangi siswa. Seperti yang diungkapkan Fajar Wahyu Wicaksono. Siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMKN 1 Surabaya ini mengaku UN CBT lebih praktis. “Tak perlu lagi mengisi di kertas, jadi praktis. Dan semuanya berjalan lancar,” ujarnya saat ditemui usai mengikuti UN CBT gelombang pertama.
Selain itu, dia juga dapat mengerjakan lebih cepat dari jatah waktu yang diberikan. “Rata-rata teman-teman selesai mengerjakan 90 menit. Jadi 30 menit lebih cepat dari waktu yang diberikan,” kata dia.
Hal yang sama diutarakan siswa SMA Al Hikmah Nadira. Perempuan perparas manis ini lebih senang memakai CBT dibanding PBT. Alasannya, tak perlu lagi melingkari jawaban di kertas, sehingga pengerjaannya bisa lebih cepat. Meski demikian, kata Nadira, ada kekurangan  dari segi pelaksanaan UN CBT yang lebih lama dibandingkan PBT. “Kalau CBT kan UN-nya dilakukan enam hari, sementara PBT tiga hari. Nah, itu kekurangannya UN CBT,” ungkap siswa jurusan IPA ini sambil tersenyum. [tam,cty]

Tags: