Buku dan Harkat Pendidikan Bangsa

Oleh :
Andis Erika, S.Pd
Guru SMP Negeri 29 Gresik

Hari buku nasional ini di peringati setiap tanggal 17 Mei. Peringatan hari buku ini berdasarkan berdirinya Perpusnas (Perpustakaan Nasional) yang didirikan pada 17 Mei 1980. Guna ditentukan Hari Buku Nasional ini adalah bertujuan untuk meningkatkan dan menyadarkan masyarakat Indonesia atas pentingnya literasi Indonesia atau membaca sebuah buku.

Peringatan hari buku nasional dilatarbelakangi oleh kondisi bangsa Indonesia yang pada saat itu masih lebih banyak mempertahankan tradisi lisan dibanding menjawab tuntutan informasi dengan banyak membaca. Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi rendah. Peringatan hari buku nasional menjadi upaya pemerintah Indonesia untuk mendorong meningkatkan minat baca masyarakat dan menaikkan penjualan buku nasional.

Sehingga kecenderungan yang mengemuka adalah bahwa peringatannya kerap dikaitkan dengan minat baca, yang di Indonesia masih tergolong rendah. Dari data studi ‘Most Littered Nation in the World’ yang pernah dirilis Central Connecticut State University, 2021 lalu, Indonesia berada di peringkat ke-51 dari 61 negara yang disurvei dengan sitem random. Posisi itu persis di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Unesco, setahun sebelumnya mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01 persen, yang artinya dari 100 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. Rendahnya minat baca atau literasi di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku, banyak daerah tak memiliki perpustakaan dan toko buku, serta kebiasaan membaca yang tak dibentuk di bangku sekolah.

Padahal -diakui atau tidak- membaca membawa banyak manfaat. Di antaranya, membaca merupakan aktivitas politik paling sederhana yang bisa seseorang lakukan. Dengan membaca kita melawan kedangkalan pikiran. Dengan membaca kita menolak untuk sekadar hanyut pada pendapat kebanyakan orang. Dengan membaca kita berpikir kritis.

Membaca karya-karya sastra Indonesia telah mengubah banyak hal dalam dirinya, terutama akan cara pandang dalam melihat sesuatu. Membaca karya-karya Pramoedya membangkitkan kesadaran kita bahwa sebuah buku, sebuah cerita, semestinya didedikasikan untuk menyuarakan persoalan ketidakadilan dalam masyarakat.

Namun, di tataran anak sekolah, bidang membaca buku sastra berada dalam kondisi memprihatinkan. Tak mengherankan kala Taufik Ismail memunculkan istilah Tragedi Nol Buku. Tiga kata ini muncul berawal dari keprihatinannya, 1997 silam. Simpulan bernada miris ini diambilnya sesaat setelah menyelesaikan penelitiannya tentang tidak adanya kewajiban dalam pembelajaran di tataran SD hingga SMA untuk membaca buku sastra Indonesia.

Ia benar-benar prihatin dengan hasil penelitian yang dilakukan di 13 negara. Indonesia berada di peringkat 13. Berikut hasil lengkapnya. Amerika Serikat mewajibkan siswa SMA nya untuk membaca 32 judul buku sastra dalam setahun, Belanda (30), Perancis (30), Jerman (22), Swiss (15), Jepang (15), kanada (13), Soviet (12), Brunei (7), Singapura (6), Malaysia (6) Thailand (5). Sementara Indonesia (0).

Sementara, buku-buku Umar Kayam mengajari kita semua untuk merefleksikan setiap hal kecil dalam kehidupan. Buku-buku Mangunwijaya mengajari kita makna humanisme dan religiusitas. Tentu banyak lagi karya lain yang juga memiliki sumbangan besar bagi perkembangan kesadaran dan pemikiran pembacanya.

Setiap peradaban dunia memiliki satu buku yang berpengaruh. Sebut saja, buku Multituli buah karya Max Havelar. Buku ini mampu membunuh kolonial Belanda karena membangkitkan kesadaran masyarakat untuk merdeka.

Siapa seorang Kartini tanpa literasi? Memang sangat menarik kalau kita menarik benang merah tentang keterkaitan antara sosok R.A Kartini dengan literasi baca. Sebuah buku dapat berperan menjadi sebuah penerangan di tengah kegelapan. Seperti pepatah yang disampaikan oleh R.A Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Meski raganya sudah terkubur di tanah, tetapi idenya masih terkenang hingga saat ini. Menurut Suherman, hal yang membuat Kartini menjadi abadi sangat sederhana. Karena dia menulis. Kenapa harus Kartini yang dijadikan tokoh sentral wanita? Padahal ada banyak wanita-wanita hebat lainnya di Indonesia seperti Dewi Santika atau Cut Nyak Dien. Mereka tidak menjadi tokoh sentral karena tidak menulis. Mengutip kata-kata Imam Ghazali, kalau mau abadi, menulislah! Itulah kekuatan literasi!

Sosok perempuan bangsawan Jawa ini membuat iklan di surat kabar pada 15 Maret 1899. Suratnya berisi perkenalan diri dan pencarian teman pena wanita untuk keperluan korespondensi. Dengan spesifik menyebut bahwa yang ia cari adalah seorang gadis sebaya dari Belanda yang juga peduli terhadap zaman modern dan perubahan demokrasi di Eropa.

Ajakan sahabat penanya tersebut pun disambut oleh Estelle Zehandellar atau yang akrab dipanggil Stella. Ia seorang aktivis feminisme angkatan pertama di Belanda dan seorang anggota partai sosial-demokrat Belanda (Sociaal-Democratische Arbeiders Partij (SDAP).

Kartini juga menggoreskan penanya di media massa. Kartini telah membukakan pintu-pintu kebebasan melalui guratan katanya di kertas. Sebagian tulisan itu pula yang belakangan tercetak sebagai buku. Buku itu pula yang telah menginspirasi kaum wanita Indonesia.

Minat Baca Rendah dan Efek Dominonya
Rendahnya angka literasi atau minat baca masyarakat Indonesia membuat penerbit tak bisa memproduksi dan menjual banyak buku. Akibatnya harga buku mahal karena biaya produksi tinggi. Belum lagi soal pajak dan biaya lain-lain. Sehingga penulis pun terpaksa harus mengambil peran tambahan. Kerap kali penulis buku di Indonesia harus mengawasi dan dibuat ketar-ketir oleh keberadaan buku bajakan jelas tak dibenarkan.

Buku bajakan merugikan penulis, merugikan penerbit, merugikan seluruh rantai yang terlibat dalam industri. Kita harus melihat semua masalah perbukuan secara komprehensif. Buku bajakan hanya salah satu dampaknya saja, ada lingkaran yang saling terkait. Jadi, mengatasi buku bajakan juga harus dibarengi dengan upaya menyelesaikan probelm akarnya.

Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dirasa belum cukup untuk membuat Indonesia menjadi negara maju. SDA tidak dapat menjadi satu-satunya modal negara. Kurangnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan alasan utamanya. Cara meningkatkan kualitas SDM adalah dengan literasi baca. Masyarakat harus sadar kalau membaca itu kewajiban bukan tuntutan.

Sebenarnya tidak ada alasan seseorang tidak bisa membaca. Jika tidak mampu membeli buku cetak di toko buku, maka bisa pinjam di perpustakaan. Jika tidak suka membawa buku cetak ke mana-mana, maka bacaan tersebut dapat disimpan di telepon genggam. Karena sejatinya istilah literasi memang tak hanya berkutat pada buku. Kita bisa memaknai secara luas.

Kata literasi baru masuk ke Indonesia pada tahun 2010-an. Sebagai sebuah kata serapan, makna kata literasi itu sendiri hingga saat ini belum bisa ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sehingga pemaknaannya masih beragam di tengah masyarakat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), secara akademis literasi adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk mencari informasi lalu mengelolanya kemudian mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Tak terbantahkan, buku dapat mengubah dunia pendidikan karena pengaruh baik serta buruk bisa didapatkan dari pengalaman membaca. Buku memang mampu memengaruhi kondisi psikologis pembacanya. Secara makro, keberadaan buku dapat memotivasi pembacanya untuk berbuat yang terbaik guna meninggikan harkat dan martabat bangsa.

———- *** ————

Rate this article!
Tags: