Buku dan Keterpurukan Martabat Pendidikan

Oleh:
Agus Setiawan,MPd
Guru SMAN 1 Driyorejo, Gresik

Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Peringatannya kerap dikaitkan dengan minat baca maupun literasi, yang di Indonesia masih tergolong rendah. Unesco, Desember tahun lalu merilis temuan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. Rendahnya minat baca atau literasi di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku, banyak daerah tak memiliki perpustakaan dan toko buku, serta kebiasaan membaca yang tak dibentuk di bangku sekolah.

Padahal -diakui atau tidak- membaca membawa banyak manfaat. Di antaranya, membaca merupakan aktivitas politik paling sederhana yang bisa seseorang lakukan. Dengan membaca kita melawan kedangkalan pikiran. Dengan membaca kita bisa menolak untuk sekadar hanyut pada pendapat kebanyakan orang. Dengan membaca kita berpikir kritis.

Membaca karya-karya sastra Indonesia telah mengubah banyak hal dalam dirinya, terutama akan cara pandang dalam melihat sesuatu. Membaca karya-karya dalam buku yang ditulis penulis-penulis hebat, sering kali membangkitkan kesadaran kita bahwa sebuah buku, sebuah cerita, bisa didedikasikan untuk menyuarakan persoalan ketidakadilan dalam masyarakat.

Namun, di tataran anak sekolah, bidang membaca buku sastra berada dalam kondisi memprihatinkan. Tak mengherankan kala Taufik Ismail memunculkan istilah Tragedi Nol Buku. Tiga kata ini muncul berawal dari keprihatinannya. Simpulan bernada miris ini diambilnya sesaat setelah menyelesaikan penelitiannya tentang tidak adanya kewajiban dalam pembelajaran di tataran SD hingga SMA untuk membaca buku sastra Indonesia.

Ia benar-benar prihatin dengan hasil penelitian yang dilakukan di 13 negara. Indonesia berada di peringkat 13. Berikut hasil lengkapnya. Amerika Serikat mewajibkan siswa SMA nya untuk membaca 32 judul buku sastra dalam setahun, Belanda (30), Perancis (30), Jerman (22), Swiss (15), Jepang (15), kanada (13), Soviet (12), Brunei (7), Singapura (6), Malaysia (6) Thailand (5). Sementara Indonesia (0).

Sementara, buku-buku Umar Kayam mengajari kita semua untuk merefleksikan setiap hal kecil dalam kehidupan. Buku-buku Mangunwijaya mengajari kita makna humanisme dan religiusitas. Tentu banyak lagi karya lain yang juga memiliki sumbangan besar bagi perkembangan kesadaran dan pemikiran pembacanya.

Setiap peradaban dunia memiliki satu buku yang berpengaruh. Sebut saja, buku Multituli buah karya Max Havelar. Buku ini mampu membunuh kolonial Belanda karena membangkitkan kesadaran masyarakat untuk merdeka.

Siapa seorang Kartini tanpa literasi? Memang sangat menarik kalau kita menarik benang merah tentang keterkaitan antara sosok R.A Kartini dengan literasi baca. Sebuah buku dapat berperan menjadi sebuah penerangan di tengah kegelapan. Seperti pepatah yang disampaikan oleh R.A Kartini, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Meski raganya sudah terkubur di tanah, tetapi idenya masih terkenang hingga saat ini. Mengutip kata-kata Imam Ghazali, kalau mau abadi, menulislah! Itulah kekuatan literasi!

Minat Baca Rendah dan Efek Dominonya

Rendahnya angka literasi atau minat baca masyarakat Indonesia membuat penerbit tak bisa memproduksi dan menjual banyak buku. Akibatnya harga buku mahal karena biaya produksi tinggi. Belum lagi soal pajak dan biaya lain-lain. Sehingga penulis pun terpaksa harus mengambil peran tambahan. Kerap kali penulis buku di Indonesia harus mengawasi dan dibuat ketar-ketir oleh keberadaan buku bajakan jelas tak dibenarkan.

Buku bajakan merugikan penulis, merugikan penerbit, merugikan seluruh rantai yang terlibat dalam industri. Kita harus melihat semua masalah perbukuan secara komprehensif. Buku bajakan hanya salah satu dampaknya saja, ada lingkaran yang saling terkait. Jadi, mengatasi buku bajakan juga harus dibarengi dengan upaya menyelesaikan problem akarnya.

Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) dirasa belum cukup untuk membuat Indonesia menjadi negara maju. SDA tidak dapat menjadi satu-satunya modal negara. Kurangnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan alasan utamanya. Cara meningkatkan kualitas SDM adalah dengan literasi baca. Masyarakat harus sadar kalau membaca itu kewajiban bukan tuntutan.

Sebenarnya tidak ada alasan seseorang tidak bisa membaca. Jika tidak mampu membeli buku cetak di toko buku, maka bisa pinjam di perpustakaan. Jika tidak suka membawa buku cetak ke mana-mana, maka bacaan tersebut dapat disimpan di telepon genggam. Karena sejatinya istilah literasi memang tak hanya berkutat pada buku. Kita bisa memaknai secara luas.

Kata literasi baru masuk ke Indonesia pada tahun 2010-an. Sebagai sebuah kata serapan, makna kata literasi itu sendiri hingga saat ini belum bisa ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sehingga pemaknaannya masih beragam di tengah masyarakat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), secara akademis literasi adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk mencari informasi lalu mengelolanya kemudian mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Tak tersangkalkan, buku dapat mengubah dunia karena pengaruh baik serta buruk bisa didapatkan dari pengalaman membaca. Buku memang mampu memengaruhi kondisi psikologis pembacanya. Secara makro, keberadaan buku dapat memotivasi pembacanya untuk berbuat yang terbaik guna meninggikan martabat pendidikan bangsa.

——— *** ————

Tags: