Bupati Probolinggo Kagumi Usaha Madu Lebah Hutan

Usaha madu lebah hutan memiliki prospek besar jika dikembangkan dengan baik.

Usaha madu lebah hutan memiliki prospek besar jika dikembangkan dengan baik.

Probolinggo, Bhirawa.
Usaha madu lebah hutan memiliki prospek besar jika dikembangkan dengan baik. Hal ini dirasakan Sapik, pengusaha madu lebah hutan di Desa Tigasan Wetan Kecamatan Leces yang  merintis usahanya pada 2013 silam, sentra usaha madu lebah hutan yang dijalaninya. Mendapat perhatian dari pemerintah daerah kabupaten Probolinggo, perlu untuk terus ditingkatkan dan dilestarikan.
Menurut Bupati Probolinggo Hj P. Tantriana Sari SE saat mengunjungi sentra usaha madu lebah hutan tersebut,  di sela-sela bhakti gotong-royong. “Ini merupakan upaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat. Semoga dengan usaha ini, pendapatan masyarakat meningkat dan kesejahteraan hidupnya lebih baik,” ungkap Bupati Tantri, Senin 17/11.
Sapik sendiri sehari-harinya berprofesi sebagai kuli bangunan. Usaha madu lebah hutan yang dikelolanya merupakan usaha sampingan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Bibit lebah ini saya peroleh dari hasil usaha sendiri di hutan. Selanjutnya bibit lebah itu saya taruh di tempat khusus berupa kotak yang terbuat dari kayu,” ungkapnya.
Kotak tersebut digunakan sebagai sarang tempat perkembangbiakannya sarang lebah hingga mencapai waktu sekitar 15 hari. Hingga akhirnya mampu mencapai tujuh kotak hingga lebih. Namun perkembangan lebah ini tergantung dari situasi dan kondisi lingkungan yang memadai.
Sedangkan, kotak-kotak yang berisi satu kerajaan lebah ini akan semakin banyak dan berkembang. Sebab kotak sangat mempengaruhi kenyamanan lebah yang tinggal di dalamnya. “Suhu lingkungan harus diperhatikan karena lebah tidak suka dengan tempat yang panas dan banyak asap,” jelasnya.
Hasil madu dari setiap kotak lebah tidak bisa ditargetkan. Karena lebah sangat bergantung musim yang sedang terjadi dan bunga-bunga di sekitarnya. “Lebah ini sangat luas jangkauannya dalam mencari makananya. Sebab sumber makanan lebah hutan lebih beranekaragam nektar atau sari bunga yang diisap oleh lebah hutan,” terangnya.
Menurut Sapik, hasil panen madu sudah banyak dipesan masyarakat. Salah satunya pemesan dari Desa Kerpangan dan Pondokwuluh Kecamatan Leces. Bahkan ada juga yang berasal dari Kelurahan Sumbertaman Kecamatan Wonoasih Kota Probolinggo. “Harganya saya bandrol Rp 50 ribu per botol,” tegasnya.
Yang menjadi kendala, kata Sapik, faktor pemerasannya yang lebih efisien dan lebih cepat dengan pemakaian alat pemeras. Dengan menggunakan alat peras madu tentunya akan lebih cepat dan lebih higienis dalam pengerjaannya serta tidak membutuhkan waktu yang lama.
“Saya mengharapkan supaya usaha ini lebih berkembang lagi, baik dari hasil tempat ternak sarang lebah maupun hasil panennya, sehingga dapat menjadi tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya di hadapan bupati Tantri. [wap]

Tags: