Butuh 109 Ribu Ton Gula, Pemprov Jatim Dorong Percepatan Regulasi Impor

Gubernur Jatim Khofifah saat meninjau produksi gula di PT Kebun Tebu Mas Lamongan, Minggu (15/3).

Pemprov Jatim, Bhirawa
Kebutuhan pasokan gula di Jatim diperkirakan mencapai 109 ribu ton hingga pertengahan Juni mendatang. Angka kebutuhan tersebut bisa meningkat menyusul datangnya Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Tingginya kebutuhan ini dikhawatirkan akan terus mempengaruhi harga gula di Jatim jika tidak segera dilakukan percepatan impor.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menuturkan, setiap bulan kebutuhan gula di Jatim mencapai 37 ribu ton. Sementara musim giling produksi gula di Jatim baru dilakukan awal Juni. Sehingga, jika dirata-rata mulai pertengahan Maret hingga pertengahan Juni kebutuhan gula mencapai 109 ribu ton. “Jadi ada kekosongan pada pertengahan Maret, April, Mei sampai pertengahan Juni. Karena itu kita sudah bersurat dan berkordinasi dengan berbagai kementerian utk bisa memberikan percepatan terkait impor gula apakah dalam bentuk raw sugar atau bentuk gula konsumsi,” tutur Khofifah di sela kunjungannya ke pabrik gula PT Kebun Tebu Mas, Lamongan, Minggu (15/3).
Saat ini, Khofifah mengaku bahwa harga gula di pasaran telah mencapai Rp 16 ribu – Rp 18 ribu. Maka jika tidak dilakukan percepatan utk bisa menyuplai kebutuhan gula pihaknya khawatir harga gula menjelang puasa akan meningkat lagi. Tetapi Khofifah meastikan, pada posisi untuk bulan ini kecukupan gula masih aman.
“Untuk bulan ini cukup. Tapi harga di lapangan sudah mengalami koreksi terus. Oleh karena itu kita butuh ada percepatan untuk impor gula. Terutama dalam bentuk raw sugar atau apapun bentuknya. Karena pabrik gula di Jatim ini pabrik yang sudah memiliki pengalaman dan mesin berteknologi modern,” tutur gubernur perempuan pertama di Jatim tersebut.
Sebelumnya, pada tanggal 14 pagi Khofifah mengaku sudah masuk impor gula sebanyak 35 ribu ton raw sugar. Dari 35 ribu ton yang masuk, ke PT Kebun Tebu Mas sebanyak 10 ribu ton. “Jadi ada proses yang masih harus dikeluarkan dari kepabeanan sebanyak 25 rb ton,” tutur Khofifah.
Khofifah berharap, proses regulasi dapat terjadi percepatan dari pemerintah untuk menunjuk siapa yang melakukan impor. Sehingga, pemprov bisa mengukur percepatan raw sugar itu kapan sampai dan bisa terdistribusi di pasar. “Kalau tidak diimpor, sampai menjelang puasa tidak akan cukup stoknya. Tapi ini sudah impor dan kita akan terus berkordinasi bagaimana menjelang puasa, masyarakat akan tercukupi seluruh kebutuhan-kebutuhan pokoknya,” ungkap mantan Menteri Sosial RI tersebut.
Pemenuhan kebutuhan ini diakui Khofifah sudah dikordinasikan oleh tim Disperindag, Pemprov dan kementerian di pusat. “Mudah-mudahan segera ada penunjukan siapa importirnya, kuotanya berapa dan kita bisa melakukan inspeksi pabrik gula mana yg akan melakukan produksi,” pungkas Gubernur Khofifah. [tam]

Tags: