Capaian Hattrick yang Tak Membanggakan

Aan EffendiOleh:
A’an Efendi
Dosen Fakultas Hukum Universitas Jember

Hattrick juga ditulis hat-trick atau hat trick adalah kosa kata bahasa Inggris yang populer digunakan di dunia olah raga terutama sepak bola. Dalam sepak bola hattrick berarti seorang pemain yang mencetak tiga gol dalam satu pertandingan.
Hattrick juga biasa digunakan untuk menyebut sebuah klub bola yang mampu menjuarai liga sepak bola tiga musim beruntun tanpa jeda. Misalnya Juventus hattrick scudetto karena menjuarai Liga Seri A Italia tiga musim beruntun yaitu 2011/2012, 2012/2013, dan 2013/2014. Hattrick menunjukkan kebahagiaan sekaligus kebanggaan. Perkembangannya hattrick tidak hanya domeinnya sepak bola.
Hattrick digunakan bidang lain yang tidak terkait dengan sepak bola sama sekali. Misalnya, pasca ditangkapnya Gubernur Riau, Annas Maamun, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) media ramai menulis berita “Hattrick KPK Tangkap Gubernur Riau”. Pemberitaan media itu menunjuk pada tiga Gubernur Riau yang ditangkap KPK secara beruntun yang dimulai dari Saleh Djasit, Rusli Zainal, dan terbaru Annas Maamun. Hattrick dalam pengertian ini pun suatu kebanggaan. Kita bangga terhadap kerja baik KPK dalam pemberantasan korupsi. Berbanding terbalik dengan hattrick pemain atau klub bola, hattrick yang ini tidak membanggakan bahkan menyedihkan.
Pertama peringkat minat baca. Menyedihkan itulah satu kata untuk menggambarkan minat baca masyarakat Indonesia. Menurut studi tiga tahunan The OECD Programme for International Student Assessment (Pisa) 2012 yang dirilis tahun 2014 minat baca orang Indonesia ada diurutan ke-65 dari 66 negara. Pada 2012 UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Artinya tiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Sebelumnya, Human Development Report 2009 yang dipublikasi United Nations Development Programme melaporkan minat baca masyarakat Indonesia ada pada urutan ke-111 dari 182 negara. Perpustakaan Nasional (18/11/2014) menyebutkan bahwa jumlah buku yang wajib dibaca murid di Indonesia per tahunnya 0-1 buku. Tertinggal dari Brunei Darussalam 7 buku, Malaysia dan Singapura 6 buku, sementara Thailand 6 buku.
Mirisnya lagi, budaya malas baca tak hanya dimonopoli golongan awam. Penyakit malas baca pun menjangkiti kaum intelektual kampus. Dosen yang harusnya akrab dengan dunia baca tak sedikit yang tak mengacuhkan. Tak pelak hal itu memunculkan beragam anekdot yang bernada sindiran. GBHN atau guru besar hanya nama untuk menyebut dosen bertitel profesor tapi jarang publikasi. Doktor pohon pisang bagi dosen bergelar doktor yang hanya melakukan penelitian satu kali ketika menyusun disertasinya saja. Dosen dangdut untuk dosen yang sekedar memenuhi kewajibannya ke kampus untuk datang-ngajar-duit (terima gaji). Dosen malas baca berimbas pada rendahnya publikasi. Tanpa baca dari mana dapat ide untuk menulis. Mana mungkin bisa menulis tanpa suka baca. Membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan. Bisa menulis pasti karena gemar membaca. Tidak dapat menulis pasti tidak membaca. Begitu dosennya begitu pula mahasiswanya. Peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari” benar adanya. Mahasiswa lebih suka membeli pulsa dan menghabiskan waktu di kantin dibandingkan dengan membeli buku dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Perpustakaan menjadi tempat asing dan tak lebih hanya sekedar formalitas kelengkapan kampus. Hanya segelintir mahasiswa yang ke perpustakaan, itu pun biasanya dilakukan saat menyusun skripsi. Terpaksa harus ke perpustakaan karena di rumah tidak punya literatur untuk bahan membuat skripsi. Tentu tidak semua dosen dan mahasiswa malas baca. Banyak dosen yang rajin publikasi buku, jurnal atau artikel di media massa. Banyak mahasiswa berprestasi dari tingkat kampus sampai tingkat internasional. Tetapi jumlah mereka tidak sebanding dengan dosen dan mahasiswa malas baca. Persoalan malas membaca harus menjadi perhatian serius dan tak boleh dipandang enteng. Kemajuan suatu bangsa bergantung pada minat rakyatnya untuk membaca. Tanpa membaca keinginan untuk berubah dari negara berkembang alias negara tertinggal menjadi negara maju bagai mimpi di siang bolong.
Kedua peringkat sepak bola. Pada Kamis (18/12/2014) FIFA merilis peringkat negara sepak bola dan Indonesia menempati posisi 159 dengan 123 poin satu tingkat di bawah Singapura yang menempati posisi 158 dengan 131 poin. Indonesia tertinggal dari seteru abadinya, Malaysia, yang menempati peringkat 154 dengan 138 poin. Filipina menjadi yang terbaik di kawasan ASEAN dengan menempati posisi 130 dengan raihan 220 poin. Rendahnya ranking Indonesia menambah kelam persepakbolaan nasional. Mimpi Timnas U-19 untuk tampil di Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru kandas di babak penyisihan group tanpa mendapatkan poin. Setali tiga uang, Timnas senior harus mengubur mimpi dalam-dalam untuk tampil sebagai juara Piala AFF 2014 di Vietnam. Alih-alih juara, Timnas senior bahkan harus tersisih pada fase group dan menanggung malu karena kalah telak 4-0 dari Filipina. Satu-satunya pelipur lara adalah saat Timnas senior mengalahkan Laos dengan skor besar 5-1. Sebelumnya wajah persepakbolaan nasional pun telah tercoreng akibat skandal sepak bola gajah PSS Sleman versus PSIS Semarang dalam laga semifinal Divisi Utama 2014 yang sangat memalukan. PSSI sebagai pemegang otoritas sepak bola nasional harus bekerja lebih keras untuk mengangkat kembali prestasi sepak bola Indonesia yang terus terpuruk. Sepak bola tidak sekedar permainan, tapi hiburan, bisnis, dan kebanggaan.
Ketiga, peringkat indeks persepsi korupsi. Transparency International pada Rabu (3/12/2014) merilis indeks persepsi korupsi 2014 dari 175 negara seluruh dunia dan Indonesia berada di peringkat 107 atau naik 7 peringkat dari tahun 2013. Indonesia meraih skor 34 atau naik dua digit dari skor tahun sebelumnya 32. Dengan skor 34 tingkat korupsi di Indonesia tidak tertinggi tetapi tidak bersih dari korupsi. Korupsi masih tinggi. Skor tertinggi menjadi miliknya Denmark yaitu 92 yang berarti Denmark adalah negara bebas korupsi. Skor terendah 8 untuk Somalia dan Korea Utara yang artinya korupsi di dua negara itu yang tertinggi. Menurut Anti Corruption Clearing House (ACCH) dalam kurun waktu 2004-2014 total perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK adalah penyelidikan 658 perkara, penyidikan 402 perkara, penuntutan 314 perkara, inkracht 277 perkara, dan eksekusi 287 perkara. Ini hanya korupsi yang ditangani KPK, tidak termasuk yang berada dalam penanganan Kepolisian dan Kejaksaan. Tentu jumlahnya akan semakin besar. Rezim pemerintahan terus berganti tetapi korupsi terus bergulir. Harapan kini ada di Kabinet Kerja di bawah komando Jokowi-JK untuk serius kerja kerja mencegah dan memberantas korupsi.
Lalu, kapan negeri ini hattrick prestasi membanggakan? Manusianya gemar membaca, pemerintahannya nol korupsi, dan Timnasnya juara level internasional. Kita sangat berharap.
Happy New Year 2015.

                                                  ————————– *** ————————–

Tags: