Capres Poros Ketiga

Dua koalisi besar partai politik (parpol), hingga kini belum menghasilkan kesepakatan bakal calon wakil presiden. Bahkan cenderung terjadi polarisasi koalisi. Pada kedua kubu terdapat parpol yang mengajukan kadernya sebagai bakal calon wakil presiden dengan “harga mati.” Menyebabkan dua kubu koalisi bagai terguncang gempa. Serta berpotensi melahirkan “poros” ketiga, dengan kekuatan 24,28% suara kursi di DPR-RI.
Sampai H-2, koalisi dua kubu masih menyepakati nama bakal calon wakil presiden. Masing-masing dengan alasan, dan argumentasi yang dibangun. Termasuk “sejarah” koalisi, mengungkit pada struktur koalisi di parlemen, sejak tahun 2014. Yakni, Koalisi Indonesia Hebat (KIH), atau Koalisi Merah Putih (KMP). Argumentasi ke-sejarah-an koalisi, dianggap strategis. Karena menunjukkan loyalitas pertemanan politik. KIH, menguasai 337 kursi parlemen (60%).
Pada kubu incumbent, telah terbentuk kubu KIH, dengan kekuatan 337 kursi (60% anggota parlemen). Sisanya, sebanyak 162 kursi (29%) milik kubu KMP, dan sebanyak 61 kursi (11%) tergolong “netral.” Namun peta kekuatan di parlemen dua kubu, KIH maupun KMP, bisa berubah. Hal itu akan terjadi manakala banderol “harga mati” nama bakal calon wakil presiden, diajukan sebagai syarat koalisi. Konon “harga mati” bukan sekadar gertak sambal.
Penentuan nama bakal calon wakil presiden, menjadi perdebatan paling sengit koalisi parpol. Bahkan tidak dapat ditengahi bakal calon presiden. Diperkirakan, keputusan bakal calon wakil presiden, akan dilakukan secara voting parpol koalisi. Namun pasti, Pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019 diperkirakan tidak akan berlangsung dengan calon tunggal. Andai terjadi deadlock (kebuntuan), penentuan bakal calon wakil presiden bisa memicu ketidak-puasan. Dus berujung pembentukan poros lain.
Poros lain, bisa mengusung bakal pasangan baru calon preisden dan wakil presiden. Sebelumnya, partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) telah mencalonkan Ketua Umumnya menjadi bakal calon presiden dalam pilpres (pemilihan presiden) tahun. Namun Partai Gerindra masih harus mencari teman koalisi agar memenuhi persyaratan 20% suara DPR. Sebelumnya, beberapa parpol dengan total dukungan lebih dari 50% telah mencalonkan Jokowi, maju lagi dalam pilpres mendatang.
Dua bakal calon presiden (Bacapres) sudah di-jago-kan oleh parpol. Bahkan sejak tahun (2017) lalu Partai Golkar melalui Musyawarah Nasional (Munas) di Bali, telah menetapkan Jokowi, sebagai calon presiden. Berturut-turut kemudian beberapa parpol juga men-capres-kan Jokowi. Diantaranya Partai Nasdem, PPP (Partai Persatuan Pembangunan), Hanura (Partai Hati Nurani Rakyat), dan PDIP. Kuat diduga, parpol lain (PKB, Partai Kebangkita Bangsa) juga telah mendukung Jokowi.
Berdasar hasil pemilu legislatif tahun 2014, terdapat 10 fraksi perwakilan parpol memiliki kursi di parlemen. Enam parpol telah mendukung capres incumbent. Sehingga kekuatan dukungan terhadap Bacapres Jokowi sudah mencapai 60%. Toh, tiada yang bisa memastikan hasil coblosan pilpres. Dalam hajatan demokrasi, dukungan yang sangat besar, tidak inharent dengan kemenangan (terpilih). Hal itu terjadi pada beberapa pilkada di Indonesia. Antaralain pilkada gubernur DKI Jakarta tahun 2012.
Hasilnya, dukungan mayoritas keok oleh dukugan minoritas. Hal yang sama (kekalahan mayoritas) terulang lagi pada pilgub Jakarta (tahun) 2017. Bahkan dengan kekalahan yang lebih telak. Incumbent kalah dengan terpaut 15%. Maka koalisi parpol dengan dukungan pas-pasan, tidak bisa diremehkan. Walau diperlukan usaha ekstra keras, dan menghindari upaya pencitraan kontra-produktif.
Pada H-2 pendaftaran calon presiden dan wakil presiden, elit parpol terkesan bekerja pontang-panting membangun koalisi. Membuktikan altar demokrasi tidak terikat ideologi, maupun ke-agama-an. Altar demokrasi, selalu nampak elok pada pandangan luar (pengamat politik), dan menjadi pendidikan politik masyarakat.

——– 000 ——–

Rate this article!
Capres Poros Ketiga,5 / 5 ( 1votes )
Tags: