Catatan Benny Sampir Wanto, 71 Hari Pimpin Trenggalek

Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jatim, Benny Sampirwanto yang pernah ditunjuk Gubernur menjadi Pjs Bupati Trenggalek menceritakan pengalamannya dalam sebuah buku berjudul Bupati 71 Hari.

Nyaman dengan Kultur Matraman, Kolaborasi Jadi Kunci
Pemprov, Bhirawa
Menjadi kepala daerah meski hanya dalam hitungan hari, memberi kesan tersendiri bagi Benny Sampirwanto. Pria yang kini menjabat Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur itu merasa mendapat anugerah luar biasa berupa kepercayaan dari amanah yang diberikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melaksanakan tugas sebagai Pjs Bupati Trenggalek. Bagaimana kisahnya?
Sore menjelang maghrib, Benny Sampirwanto masih aktif di ruang kerjanya, Senin (21/12). Beberapa berkas ia tandatangani kemudian beranjak dari mejanya untuk berbincang tentang pengalamannya sebagai Pjs Bupati Trenggalek. Pengalaman itu ia bukukan sebagai tanda mata, bahwa seorang anak kampung yang tidak pernah berandai-andai ternyata dapat mengecap jabatan sebagai kepala daerah. Meski, hanya sebatas 71 hari dengan status penjabat sementara.
“Buku ini saya buat dan dicetak secara terbatas untuk kenang-kenangan. Pengalaman ditugasi ibu gubernur sebagai Pjs Bupati Trenggalek adalah amanah yang luar biasa bagi orang biasa seperti saya,” ujar Benny sembari menunjukkan buku berjudul Bupati 71 Hari.
Benny mengakui, pengalaman berpindah-pindah tugas menjadi bekal penting dalam menjalankan tugasnya. Khususnya pengalaman saat menempati jabatan yang berkaitan dengan kewilayahan, antara lain Biro Pemerintahan Setdaprov Jatim, Kepala Bakorwil Malang dan Plt Kepala Bakorwil Madiun. “Termasuk pengalaman di Biro Humas Protokol dan Biro Kerjasama menjadi bekal kami dalam bekerja selama 71 hari membangun sinergi yang sangat penting untuk menjalankan tugas dengan maksimal,” jelas dia.
Selain totalitas menjalankan tugas, Benny mengaku dapat menikmati amanah Gubernur Khofifah tersebut karena latar belakangnya sebagai orang Kediri. Artinya, budaya matraman itu telah menancap dalam dirinya. “Jadi secara kultural saya pribadi sangat kental dan nyaman dengan budaya matraman yang ada di Trenggalek. Apakah budaya kromo madya atau kromo inggil di sana,” tutur dia.
Selama memimpin Trenggalek, lanjut Benny, kebersamaan dan kerjasama ya g dibangun bersama Forkopimda Trenggalek sangat kuat. Hingga Ketua DPRD Trenggalek mengapresisi kinerja Pjs Bupati Trenggalek selama 71 hari menjalankan tugasnya. “Sampai ada salah satu wartawan yang bilang, ternyata bupati tunjukan bu gubernur tidak kalah dengan bupati yang dipilih rakyat,” tuturnya sembali tertawa kecil.
Selama 71 hari itu, Benny mencatatkan beberapa pencapaiannya antara lain mengawal Pilkada serentak dengan lancar, aman dan damai bersama KPU, Bawaslu, TNi dan Polri. “Netralitas ASN benar-benar kami tegaskan. Ini yang memagari saya agar tidak ada yang bermain-main dengan kepentingan politik. Alhamdulillah, di Trenggalek nol pelanggaran ASN dalam Pilkada,” ujar Benny.
Selain itu, tugas utama yang selalu dipesankan Gubernur Khofifah ialah mencegah penularan Covid-19 kembali meluas. Terkait penangana covid-19 ini, Benny mengaku punya pengalaman yang sangat berkesan. Saat itu setelah dia menjabat 1,5 bulan, Trenggalek yang semula sudah menguning masuk menjadi zona oranye. “Waktu itu karena ada klaster baru dan kita langsung merapatkan barisan dengan TNI – Polri. Sampai kita lakukan rapat kordinasi di kecamatan sampai jam 02.00 pagi,” kenang dia.
Selain Pilkada dan Covid-19, catatan kinerja Benny Sampirwanto juga dioptimalkan dalam membahas perda Trenggalek. Di antaranya ialah Perda tentang Perubahan APBD 2020, Perda tentang Pendirian Perseroda PT Jwalita Energi Trenggalek dan Perda tentang Penambahan Penyertaan Modal pada Perumda Air Minum Tirta Wening Trenggalek. “Ada dua raperda lainnya yang sudah selesai pembahasan namun masih menunggu evaluasi di raperda apbd 2021 dan raperda perubahan susunan organisasi. Selain itu, ada dua raperda msh menunggu fasilitasi,” jelas dia.
Selanjutnya, Benny juga telah berhasil mengeksekusi rencana pembangunan waduk Bagong yang sudah dua tahun terakhir belum tersentuh progres pembangunannya. “Waduk itu sempat mandek dua tahun tidak dieksekusi pembangunannya. Tapi dari hasil komunikasi kami bersama pemangku kepentingan di wilayah tersebut, mulai dari BPWS, BPN, Polres maupun Kodim Trenggalek. [Adit Hananta Utama]

Tags: