Cerita Fathorrahman, Kasi Dinas Perikanan Situbondo yang Tak mengenal WFH

Fathorrahman bersalaman dengan Presiden Soeharto saat mengikuti program Cerdas Tangkas P-4 tingkat nasional di Istana Negara pada 2 Oktober 1989 silam. [Fathorrahman for Bhirawa]

Tetap Terapkan Prokes Ketat, Teringat Wejangan Presiden Soeharto di Istana Negara
Kab Situbondo, Bhirawa
Di tengah pandemi Covid-19 saat ini, hampir seluruh OPD di Kabupaten Situbondo menerapkan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah. Namun di tengah penerapan WFH itu, ada salah satu Kepala Seksi Pengawasan Usaha dan Hasil Perikanan pada Dinas Perikanan Kabupaten Situbondo, bernama Fathorrahman yang tetap menerapkan work from office (WFO) atau bekerja dari kantor.
Sebagai salah satu ASN, Fathor-panggilan akrab Fathorrahman, setiap pagi sudah berada di tempat kerjanya, di Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Situbondo, di Jalan Basuki Rahmad, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo.
Pria yang aktif di kepengurusan PCNU Situbondo itu paling tidak suka menerapkan WFH. “Saya anti WFH. Setiap hari harus bekerja dari kantor. Tetapi harus mematuhi protokol kesehatan (prokes),” tegas Fathor, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (25/1) lalu.
Ada alasan logis bagi Fathor kenapa menolak WFH. Pertama, di ruang kerjanya setiap hari selalu ada tamu atau nelayan yang datang sehingga harus ditemui. Kedua, sejak Januari 2021 lalu, Fathor mendapat tambahan amanah sebagai Kasi Pemasaran dan Pengolahan HP dan Kasi Pengendalian SDP. “Nah dengan tambahan dua jabatan itu, mau tidak mau saya harus setiap hari datang ke kantor. Sejak pandemi Covid-19 saya tidak pernah WFH,” tegas Fathor.
Konsistensi sikap yang dimiliki Fathor ini bukan baru berkembang, melainkan sudah mendarah daging sejak masik sekolah SDN Inpres Desa Klatakan Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo. Kata dia, keteguhan sikap itu terlahir dari tempaan penderitaan saat dalam perjalanan hidupnya. Dimulai menjadi siswa SD hingga pindah ke SDN Binor Kecamatan Paiton Kabupaten Proboinggo. “Tapi yang lucu, saya kembali lagi ke SDN Inpres Desa Klatakan dan baru rampung di SDN II Mangaran,” beber Fathor.
Memasuki pendidikan di tingkat menengah pertama, pria yang mendapatkan julukan RBH Fathorrahman itu menjadi alumni II SMPN I Arjasa Kabupaten Situbondo. Kemudian setelah itu, ia melanjutkan ke SMAN 1 Situbondo dan lulus tahun 1987. Dengan memperoleh tiket PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) dari Dirjen Dikti, Fathor lalu memperoleh tiket menjadi mahasiswa di IKIP Malang Fakultas MIPA Jurusan Matematika.
“Ternyata di Malang tak selamanya menjadi tempat menimba Iptek. Keadaan yang mengharuskan saya melintasi Samudera Jawa ke Bumi Khatulistiwa, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Saya sempat mengabdi di Yayasan Kemajuan Islam sebagai staf pengajar di SMA YKI Ketapang,” ingat Fathor.
Baru pada 1988 RBH Fathorrahman mewakili Provinsi Kalbar berhasil lolos dalam lomba Tingkat Nasional Pidato Pertanian Koperasi dan Keluarga Berencana Pertasi Kencana. Di tahun berikutnya 1989, kenang Fathor, atas petunjuk Sang Ilahi, RBH Fathorrahman memperoleh berkah karena mampu mewujudkan mimpinya masuk Istana Negara, Jakarta. “Saat saya bisa masuk Istana Negara masih tertegun karena berada antara sadar dan tidak sadar. Saya mikir, berkah ini karena jasa besar Jenderal Besar Soeharto,” kupas Fathor.
Fathor menceritakan, ia bisa masuk ke Istana Negara karena berhasil lolos mengikuti program Cerdas Tangkap P-4 tingkat Nasional pada 2 Oktober 1989 silam bersama perwakilan daerah lain di Tanah Air. Perasaan Fathor bertambah bungah, setelah bisa bertemu dan bersalaman langsung dengan Presiden kedua RI, Soeharto.
“Berkat ilmu di Istana Negara itulah, saya lalu diberi amanat untuk memberikan arahan kepada seluruh peserta dari tingkat SD sampai mahasiswa serta kalangan organisasi masyarakat (ormas),” jelas Fathor.
Kelebihan yang dimilik itu, kata Fathor, ternyata menurun kepada puteranya yang bernama Zukhruf Athoillah, alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, jurusan Ilmu Hukum. Dalam prestasi akademiknya, ananda Zukhruf berhasil meraih nilai A dan nilai B pada 36 mata kuliah yang di tempuh. “Ananda Zukhruf ini seperti menyimpan titisan ilmu dari saya. Dari seluruh nilai mata kuliahnya bagus bagus,” kupas Fathor.
Disisi lain, Kepala Dinas Perikanan Sopan Efendi, membenarkan jika saat ini Fathorrahman menempati Kasi Pengawasan Usaha dan Hasil Perikanan. Karena dua koleganya memasuki pensiun dan kekurangan staf ASN, terang Sopan, maka Fathor diminta untuk membantu Kepala Bidang pad dua Kasi tersebut.
Bahkan, kata Sopan, ada Bidang yang hanya memiliki staf satu ASN. “Pak Fathor ini hanya membantu Kepala Bidangnya saja saat menjabat dua Kasi tambahan. Tidak serta merta full mengcover. Disamping itu kami mengalami keterbatasan staf dan ASN,” pungkas mantan Camat Sumbermalang itu. [sawawi]

Tags: