Cerita Pilu Aisyah, Bocah 9 Tahun yang Lumpuh Setelah Imunisasi

Aisyah perempuan 9 tahun yang mengalami lumpuh akibat badannya panas setelah diimunisasi saat usianya 6 bulan. [wiwit agus pribadi]

Dimarahi Petugas Puskesmas Kedopok, Lantaran Menyebut Kejang Usai Imunisasi
Kota Probolinggo, Bhirawa
Nasib malang menimpa Aisyah Fira Dila, putri kedua dari Suyitno dan Sholehatin. Perempuan berusia 9 tahun ini memiliki perkembangan fisik dan syaraf yang tidak normal. Hal itu terjadi setelah Aisyah mengalami demam akibat imunisasi yang diikutinya saat usia 6 bulan, sesuai anjuran dari pihak dinas kesehatan. Seperti apa ceritanya?.
Saat lahir, Aisyah lahir dengan normal. Anak kedua dari tiga bersaudara itu lahir sempurna. Seperti bayi pada umumnya, dia lucu dan menggemaskan. Namun, di usianya yang saat ini 9 tahun, fisik Aisyah tidak berkembang sempurna. Dia mengalami gangguan pada saraf otaknya. Tubuhnya kurus untuk anak seusianya. Beberapa bagian tubuhnya juga tidak bisa digerakkan.
Untuk makan, Aisyah harus disuapi. Minum pun harus perlahan. Untuk membantu minum, dia kadang minum dari dot. Kemarin misalnya, dia gendong ibunya, Sholehatin, sambil minum dari dot. Bukan susu, melainkan air gula. Sholehatin mengaku tidak mampu membeli susu. Keluarga mereka hanya mengandalkan gaji dari Suyitno yang bekerja sebagai buruh selep jagung.
Keluarga yang tinggal di RT 3/RW 10, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, itu mendapatkan bantuan PKH. Namun bantuan itu tak mampu mencukupi kebutuhan anak keduanya. Mulai dari susu, bubur, diapers, dan lainnya.
Kondisi Aisyah ini berubah sejak berusia 6 bulan. Saat itu, ibunya membawa Aisyah untuk imunisasi Difteri, Pertusis, dan Tetanus (DPT) kedua. Salah satu efeknya, menurut petugas, Aisyah bisa panas. “Saat imunisasi petugasnya bilang nantinya panas. Sehingga diberikan obat penurun panas juga,” kata ibu tiga anak itu, Senin (29/3).
Benar saja, malamnya badan Aisyah panas. Bahkan Aisyah sempat kejang-kejang. Akhirnya Sholehatin bersama Suyitno, suaminya membawanya ke RSUD Moh Saleh. “Saat diperiksa, kata petugas rumah sakit, anak saya ini tidak tahan panas, akhirnya step,” tuturnya.
Sepekan setelah itu, Aisyah kembali step. Namun tidak lama. Beberapa kali step, Aisyah pun kembali dibawa ke RSUD. Kali ini, Aisyah dirontgen. Saat itulah diketahui, saraf otak kirinya rusak akibat step tersebut.
Sejak saat itu, Aisyah sempat menjalani 15 kali pemeriksaan di rumah sakit. Bahkan, sempat tidak sadar atau koma selama seminggu. “Waktu keluar masuk rumah sakit yang terakhir, yang ke-15 itu, anak saya tidak sadar di ruang ICU selama seminggu,” tandasnya.
Ia bersyukur akhirnya Aisyah sadar. Namun saraf yang rusak di otak kirinya membuat perkembangan otaknya juga tidak nornal. “Kata dokter, syarat otak kirinya lebih kecil. Berkembangnya tidak normal,” bebernya.
Pihak rumah sakit sebenarnya kala itu merujuk Aisyah ke rumah sakti di Malang. Sebab, di sana ada dokter spesialis saraf. Namun, lantaran tidak ada biaya, Aisyah pun tidak dirujuk ke Malang. “Biaya wira-wiri ke Malang tidak ada. Akhirnya tidak diperiksa ke Malang,” ungkapnya.
Saat melihat tumbuh kembang anak keduanya tak jarang ia menitikkan air mata. Sebab, di usia 9 tahun, Aisyah berat badannya tidak normal, tidak bisa bicara dan berjalan. Bahkan, tangan kirinya tidak bisa digerakkan. “Kadang melihat anak seperti ini, tak terasa air mata jatuh sendiri,” lanjutnya.
Belajar dari kejadian tersebut yang mengakibatkan anak keduanya lumpuh, Muhamad Rafi, anak ketiganya yang saat ini berusia 7 tahun tidak diimunisasi oleh Sholehatin. “Karena anak kedua seperti ini, jadi anak ketiga tidak saya imunisasi. Dan Alhamdulillah sehat hingga saat ini,” katanya.
Hanya penglihatannya yang kini kembali berfungsi, setelah rutin ke pengobatan alternatif. Menurut Sholehatin, putrinya bisa kembali melihat sekitar satu tahun lalu. “Dulu diginikan tidak respon. Sekarang sudah respon melihat tangan saya,” sebut Sholehatin seraya menggerak-gerakkan tangannya di atas kedua mata putrinya.
Tak hanya sekali, Aisyah dirawat dan opname di RSUD sampai tiga kali. Mulanya opname selama seminggu, lalu 9 hari, dan 2 minggu. “Katanya saraf. Otak kirinya. Sudah discan,” ujar Sholehatin.
Saat disinggung BPJS, perempuan beranak tiga ini mengatakan, perawatan putrinya tidak mungkin dibiayai BPJS. Alasannya BPJS Aisyah sudah tidak aktif karena iuran bulanannya tidak dibayar. Putri kedua dari tiga bersaudara tersebut ikut BPJS mandiri. “Mau diikutkan BPJS program UHC yang gratis itu tidak bisa. Disuruh melunasi iurannya yang belum dibayar,” jelasnya.
Sedangkan Sholehatin dan suami serta kedua anaknya, sudah terdaftar di BPJS yang dibayar pemkot. Aisyah tidak ikut BPJS kedua orang tuanya, karena saat ngamar di RSUD didaftarkan BPJS mandiri.
Selama ini Sholehatin dapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan dapat 2 PKH. Satu khusus putrinya dan satunya untuk Sholehatin. Namun satu bulan yang lalu, PKH dirinya sudah tidak aktif lagi. “Kalau PKH untuk anak saya masih berjalan. Bantuan pengobatan dari pemkot tidak pernah dapat,” tandasnya.
Sholehatin berharap, pemkot membantu kebutuhan susu dan pampers putrinya. Alasannya, kedua barang tersebut dibutuhkan setiap hari. Aisyah tidak mau makan ikan dan daging, sehingga kebutuhan atau asupan gizinya dipenuhi susu. “Kami butuh pampers banyak setiap hari. Aisyah minum susu setiap hari. Ikan dan daging tidak mau,” tutur Sholehatin.
Ia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah untuk kebutuhan anaknya. Paling tidak dapat mengurangi beban anaknya, harapnya.
Sholehatin mengaku sempat dimarahi petugas Puskesmas Kedopok, lantaran menyebut anaknya kejang-kejang usai imunisasi. Itu terjadi saat ditanya petugas di RSUD dr Moh. Saleh ketika Aisyah dirawat di RSUD. “Kan saya bilang terus terang. Malah saya dimarahi sama petugas puskesmas,” katanya.
Kepala Dinas Sosial Kota Probolinggo Rey Suwigtyo berjanji akan melakukan verifikasi lapangan terlebih dahulu. Sehingga, akan ditemukan solusi terbaik. “Coba saya cek lokasi dengan Dinkes nanti. Cari solusinya, semoga bisa segera tertangani,” singkatnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Probolinggo dr Nurul Hasanah Hidayati belum bisa memberikan banyak penjelasan. Sebab, ia harus mencari data pendukung. Lebih lagi jika berkaitan dengan imunisasi.
“Saya perlu data pendukung dulu sebelum menjawab. Apalagi berkaitan dengan imunisasi dan terjadi 9 tahun yang lalu,” tambah dr Ida, panggilannya. [wiwit agus pribadi]

Tags: