Cerita Subhan, 22 Tahun Menjadi Petugas Kamar Jenazah RSU Situbondo

Subhan bersama lima orang koleganya saat bertugas memakamkan jasad pasien meninggal akibat terpapar Covid-19. [sawawi]

Mendapat Sebutan Pocong Satu, Paling Ingat saat Memandikan Jasad Bupati
Kab Situbondo, Bhirawa
Subhan, mulai diterima sebagai karyawan RSU dr Abdoer Rahem sejak 1997 silam. Pertama kali menjadi bagian dari rumah sakit milik Pemkab Situbondo tersebut, Subhan ditempatkan di bagian kamar jenasah. Pertama kali saat bekerja, Subhan mengaku masih ada perasaan takut bertemu dengan jasad orang meninggal. Bahkan perasaan itu terbawa hingga pulang ke rumah. Seperti apa kisahnya ?
Begitu sampai di rumahnya yang beralamat di Lingkungan Karangasem, RT 3 RW 1, Kelurahan Patokan Kecamatan Kota Situbondo, Subhan masih terngiang dengan jasad orang meninggal yang baru ia tangani bersama koleganya.
Perasaan itu sulit Subhan hilangkan, karena baru pertama kali ia bersentuhan langsung dengan orang meninggal. “Semua yang ada di kamar mayat teringat di pikiran. Itu terpatri hingga beberapa lama,” kenang Subhan, saat menceritakan kisahnya, Senin (28/12).
Namun perasaan takut itu lambat laun mulai menghilang. Bahkan, hingga kini Subhan dikenal sebagai ikon karyawan kamar jenasah di RSU dr Abdoer Rahem. Sifatnya yang luwes dan penampilannya yang kalem, menyatu dalam keseharian Subhan, tatkala menangani proses penanganan jasad pasien setempat.
Mulai pemandian dan mengkafani kini Subhan sudah sangat mahir. “Semua saya sudah paham. Namun kadang yang menyulitkan saat ada keluarga pasien yang nekat nerobos masuk ke kamar jenasah,” ujar Subhan.
Dengan ketekunan yang dimiliki itu, Subhan mendapatkan julukan baru di internal RSU dr Abdoer Rahem Situbondo. Lelaki yang dikenal suka berpetualang (off road) dengan mobil tercintanya itu dikenal dengan sebutan Pocong Satu.
Ya, begitu sebutan nama sandi Subhan, seorang petugas pemulasaran jenazah pasien Covid di Rumah Sakit Umum Abdoer Rahem Situbondo. “Saya sekarang sudah berusia 45 tahun. Saat ini saya dipercaya menjadi Koordinator Pemulasaran Jenazah Pasien Covid-19. Selain memandikan, saya juga kebagian tugas memakamkan jenazah,” aku Subhan.
Mulai 2007, akhirnya Subhan diangkat sebagai salah satu ASN di lingkungan Pemkab Situbondo. Dengan status baru itu, Subhan kini mengaku sangat terkesan dan bangga menjadi petugas pemulasaran jenazah.
Ada satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan ketika ikut memandikan jazad Bupati Situbondo, Dadang Wigiarto yang wafat karena terpapar Covid-19 beberapa hari lalu. “Begitu saya dapat amanah, langsung saya terima untuk mengurus jasad Bupati Dadang. Meski proses pemakaman dilakukan melalui protokol kesehatan,” jelas suami Ernawati itu.
Masih kata Subhan, ia mengaku sangat berkesan karena ikut memandikan dan memakamkan orang nomor satu di Situbondo. Saat mengurus jasad Bupati Dadang Wigiarto, Subhan mengaku tak kuasa menahan tangis, karena sosok yang ia mandikan merupakan bupati berpretasi dan pimpinan yang punya perhatian kepada staf RSU. “Beliau itu orangnya sangat baik. Suka membantu kepada stafnya. Saya tidak menyangka beliau dipanggil cepat oleh Yang Maha Kuasa,” jelas pecinta olahraga uji nyali trail.
Lebih detail Subhan mengaku bertugas di kamar jenazah RSUD Abdoer Rahem Situbondo selama 22 tahun. Kata dia, menjadi petugas kamar jenazah, tugasnya sanagt berat setelah terjadi pandemi corona. Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 ini sudah sekitar 100 pasien Covid yang ia mandikan dan makamkan.
“Kami di sini (bagian pemulasaran) ada enam personil yang bertugas memandikan, mengkafani dan memakamkan jenazah. Ada juga kolega saya yang bertugas mendokumentasi dan menjadi sopir mobil ambulance sampai ke lokasi pemakaman,” ujarnya.
Menurut Subhan, dirinya memberlakukan semua pasien Covid sama yaitu memandikannya secara syar’i sekaligus melalui protokol kesehatan. Semua proses pemulasaran jenazah terdokumentasi dengan baik. Ini untuk menjaga jika sewaktu waktu ada komplain dari pihak keluarga. Subhan menuturkan, menjadi petugas pemulasaran jenazah pasien Covid memang tidak mudah. “Selain kerapkali diprotes juga tak jarang menjadi sasaran kemarahan keluarga pasien,” ujar Subhan.
Untuk itu Subhan selalu konsisten menjaga imunitas diri agar selalu sehat dan tetap bisa memberikan pelayanan kemanusian bagi masyarakat Situbondo. Setiap hari Subhan, sehabis memandikan jenazah dan pulang ke rumah kondisi tubuhnya sudah harus steril karena di rumah ada dua orang anak dan istri. “Kalau tidak steril saya khawatir mereka ikut tertular Covid-19,” pungkas alumni Ponpes Nurul Jadid Probolinggo tahun 1994 itu.
Suwarno, salah satu warga asal Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Kota Situbondo mengakui sosok Subhan cukup cekatan dan memiliki kinerja yang bagus saat menangani tahapan jazad orang meninggal. Baik itu meninggal karena penyakit biasa, jelas dia, maupun orang meninggal karena terpapar Covid-19.
Dalam pandangan Suwarno, tidak mudah menjalani tugas seperti Subhan, yang mampu bertahan selama 22 tahun mengabdi sebagai petugas kamar mayat RSU dr Abdoer Rahem Situbondo. “Saya angkat topi,” papar Suwarno. [sawawi]

Tags: