Cerita Suwandi, Perajin Mebel yang Layani Pesanan Peti Mati

Pembuatan peti mati di tempat usaha mebel milik Suwandi di Dusun Rembug Wangi, Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. [arif yulianto]

Mulai Terima Pesanan Peti Mati Sejak Pandemi, Tak Mau Tinggalkan Usaha Mebel
Kab Jombang, Bhirawa
Banyaknya masyarakat yang meninggal dunia akibat terpapar virus corona atau Covid-19 mendongkrak penjualan peti mati di Kabupaten Jombang. Seperti yang dialami salah seorang perajin mebel yang kini ‘nyambi’ melayani pesanan peti mati, Suwandi. Menurut dia, selama pandemi ini dirinya banyak menerima pesanan peti mati.
Siang itu, Suwandi yang merupakan warga Dusun Rembug Wangi, Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang tengah disibukkan dengan membuat peti mati di tempat usaha mebelnya, yang berada di sisi timur fly over Tol Jombang-Mojokerto.
Dengan telaten, Suwandi tampak memaku di bagian penutup peti mati yang dikerjakannya. Diambilnya paku dari kaleng bekas cat, kemudian ditancapkan paku itu di bagian atas penutup peti mati. Sesekali, penutup peti mati itu pun dibolak balik oleh Suwandi untuk melihat kekurangan-kekurangan pengerjaannya.
Sementara, dua orang karyawannya tampak mengambil peran berbeda. Seorang mengangkat penutup-penutup peti mati dari dalam di bawa keluar untuk dikerjakan lebih lanjut. Seorang lagi mengerjakan bagian utama dari beberapa peti mati. Tampak, karyawan itu tengah menghaluskan bagian utama peti, kemudian dipelitur.
Rupanya, pembuatan peti mati yang dilakukan Suwandi ini berdasarkan pesanan dari seseorang untuk kebutuhan di daerah Surabaya dan Sidoarjo. Usaha utama Suwandi membuat mebel tetap berjalan, meski sekarang banjir pesanan peti mati.
Suwandi mengaku, ia melayani pesanan pembuatan peti mati sejak awal Pandemi Covid-19. “Ada yang memesan untuk daerah Surabaya. Kalau untuk Jombang tidak ada,” kata Suwandi.
Pada awalnya, lanjutnya, pesanan peti mati ini tidak begitu banyak seperti sekarang. Saat itu, rata-rata dalam satu minggu, hanya menerima pesanan empat buah peti mati. “Namun akhir-akhir ini meningkat. Pada Januari 2021 ini, satu minggu bisa sekitar enam sampai delapan peti mati,” jelasnya.
Soal harga pesanan peti mati ini, lanjut Suwandi, awalnya harga cukup mahal. Namun, karena adanya persaingan, sehingga harga dari pemesannya pun diturunkan. “Sekarang harganya Rp700 ribu per peti,” ucapnya.
Untuk bahan pembuatan peti mati ini, Suwandi menggunakan bahan-bahan dari hard board, triplek maupun dari kayu maoni hingga kayu jati atau sesuai pesanan. “Pesanan terbanyak dari Surabaya. Akhir-akhir ini ada dari Porong, Sidoarjo. Mereka datang sendiri,” tambah dia.
Selain karena adanya pesanan membuat peti mati ini, Suwandi menyebutkan, juga karena faktor kasihan. “Kalau tidak ada yang berani buat bagaimana peti mati, nanti bagaimana. Kan kasihan juga jika harus kesulitan pesan peti mati,” tuturnya.
Suwandi berencana akan tetap membuat peti-peti mati selama masih ada pesanan yang masuk. Sementara, usaha utamanya membuat mebel juga tetap berjalan. “Mebel masih tetap berjalan meski pesanan peti mati banyak. Karena usaha mebel ini yang utama,” tandasnya. [arif yulianto]

Tags: