Cermin

Oleh :
Raeditya Andung Susanto

Cermin

Aku melihat diriku sendiri di dalam cermin
Kami saling menatap, ia menatap penuh
bahagia. Aku menatap penuh bahaya.

Ia pandai sekali tersenyum, tertawa dan tahu
Bagaimana cara merayakan hidup dengan
Segala sesuatu yang disebut cukup.

Ia mendekat, cermin melangkah pelan
menjabat tanganku yang dingin dan
kemudian memberi pelukan.

Cikarang, 2021

DISKON

Sejak pandemi, para pengusaha rela
Menurunkan harga barang jualannya
Dengan diskon dan promo besar-besaran.

Ada yang beli dua gratis satu, hingga potongan
Harga lebih dari seratus ribu asal habis
Dan cepat laku.

Baru-baru ini Negara juga ikutan memberikan
Diskon sampai dengan enampuluhpersen
Kepada warganya lewat salah satu toko cabang
di Ibukota.

Cikarang, 2021

SEPERTI APA MALAM MINGGUMU?

Malam mingguku seperti hujan yang
Jatuh di halaman, dibawakannya bau
Tanah, gigil dan basah ke tanganku
yang sedang kusyuk berdoa

Cikarang, 2021

PPKM

Waktu menguap menjadi tempat tidur yang nyaman
Untuk mengistirahatkan kicau burung di kepala
Kipas kecil duduk di samping colokan memantau
Setiap sudut kontrakan.

Suara air galon, membawa keheningan. Malam tengah
Bersiap pulang ke barat, pagi sedang mandi
Mempersiapkan diri.
//
Siang nangkring di pohon mangga yang sedang ranum buahnya
Tukang es, ojek pengkolan dan pekerja proyek nongkrong di bawahnya.
Pada kesempatan yang baik untuk melakukan ibadah makan siang,
Aku telah selesai berdoa semoga rejeki mereka secerah cuaca.

Cikarang, 2021

PPKM 2

Warung, toko dan angkringan boleh padam
Namun doa akan tetap menyala

Cikarang, 2021

PPKM 3

Pada akhirnya mimpi dan cita-cita hilang
Di pasaran, pun kalau ada, harganya naik dua
Kali lipat dari biasanya

Cikarang, 2021

PPKM 4

Mereka yang kecil kelaparan, melamun
Di pagi buta, merenung saat sore tiba

Mimpiya tidak ada yang laku, bahkan
dijual seribupuu tak ada yang mau

Ia menawarkan mimpinya kepada Tuhan,
‘Tuhan, beli ya, buat hari ini makan.’

Cikarang, 2021

PAPA

Papa sedang nongkrong di kafe, pakai
Baju warna hijau kesukaannya

Telepon genggam bolak balik mampir
ke tangannya, banyak pesan dan kerjaan
yang musti Papa selesaikan.

Meski begitu, Papa adalah orang yang sangat patuh
Protokol kesehatan. Buktinya papa sendiri yang jaga
Jarak sementara ketiga rekannya berdempatan

Dilihat dari matanya Papa terlihat lelah, tapi
Bibirnya tetap tersenyum seraya di Negeri yang
Penuh sedap dan ngeri, tidak ada hal buruk
Yang sedang terjadi

Cikarang, 2021

SEBELUM GEMA TAKBIR

Ayam dan kerbau tengah asik menghirup bau kopi, gurih singkong
dan segar senja yang terpampang di jendela. Kambing dan sapi
hendak mampir, tapi hari ini mereka sedang sibuk mondar mandir

‘’Pi, mbing, sini lho mampir’’, tegur ayam
‘’Waduh, kami sedang repot, yam”
‘’Iya yam, besok kami pindah ke Surga, kami
Dibuatkan rumah disana sama pemilik baru yang
Ikhlas dan Lillahi Ta’ala.” Tegas kambing

‘’Oalah besok sudah sudah tanggal 10 Dzulhijjah toh,
Wah bulan depan aku dong’’ kata kerbau
“Lho kok kamu?’’ tanya ayam
‘’Lha iya, kan bulan depan 1 Muharram, yo aku
Harus siap-siap pindahan juga.’’

Ayam melamun. Ia bakal ditinggal sahabat
Karibnya selama di peternakan
Ayam sedih dan galau, karena cuma dia
Yang tidak punya hari raya

Dari kejauhan seorang anak kecil berteriak
Kepada Ibunya, “Bu, besok buatin opor ya.’’

Cikarang, 2021

Tentang Penulis
Raeditya Andung Susanto
Penyair kelahiran Bumiayu Brebes. Sedang menyelesaikan studinya di Cikarang, Bekasi. Anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF). Penulis puisi anak Balai Bahasa Jawa Tengah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku pertamanya berjudul, Sorai (FAM Publishing, 2019).

———— *** ————-

Rate this article!
Cermin,5 / 5 ( 1votes )
Tags: