Cetak Talenter Profesional Melalui MJC, Sosialisasikan East Java Super Corridor

Khoirul Bachtiar Tim MJC Jatim saat memberikan materi dalam Rakor Identifikasi Potensi Milenial Job Centre (MJC) di wilayah Bakorwil V Jember, Kamis (7/11).

Jember, Bhirawa
Bakorwil V Jember optimalkan Mellenial Job Centre (MJC) untuk mencetak talenter profesional dan mandiri. Ini salah satu cara untuk menciptakan lapangan kerja baru dan membawa keunggulan ekonomi diera digitalisasi.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bakorwil V Jember R.Tjahjo Widodo saat membuka Rakor Identifikasi Potensi Milenial Job Centre (MJC) di wilayah Bakorwil V Jember, Kamis (7/11). “Dengan MJC ini, bagaimana kita mendorong milenial menjadi menjadi tenaga profesional dalam dunia kerja berbasis freelance, mefasilitasi startup, membangun akses jam kerja dan keuangan. Dengan begitu, mereka (milenial) dapat bekerja secara mandiri tanpa bergantung pada perusahaan lain,” katanya.
Tjahjo mencontohkan pelaksanaan Job Market Fair (JMF) yang digelar beberapa waktu lalu. Dari 35 ribu tenaga kerja yang dibutuhkan, hanya 20 persen pelamar yang memenuhi spesifikasi perusahaan.” Ini artinya anak-anak kita kembali harus difasilitasi untuk pelatihan secara profesional diera sekarang. Mungkin dulu perusahaan butuh jurusan pembukuan, atau jurusan perkantoran, tapi sekarang tidak lagi membutuhkan itu. Yang dibutuhkan sekarang digital ekonomi,” terangnya.
Dengan MJC ini, kira pertemukan perusahaan (klien) dengan para talent yang mempunyai kemampuan sesuai dengan spesifikasi perusahaan. ” Kalau ini terjadi, program Jatim Bekerja akan berjalan secara optimal,” harapnya. Tjahjo juga berharap keberadaan gedung East Java Super Corridor yang ada di Bakorwil V Jember untuk dimanfaatkan sebagai secara optimal.
Hal senda juga disampikan oleh Tim MJC Jatim Khoirul Bachtiar saat memberikan materi kepada kaum milenial, mahasiswa dan perusahaan yang hadir dalam Rakor Identifikasi Potensi Milenial Job Centre (MJC) di wilayah Bakorwil V Jember kemarin. Menurut Khoirul, MJC ini wadah bertemunya milenial potensial, mentor dan perusahaan (klien) untuk melakukan pekerjaan digital.
“Mereka (talent) akan discreening, di kurasi untuk melakukan pekerjaan yang diberikan oleh klein tapi tetap dimentori oleh mentor yang kredible. Sehingga pekerjaan itu selesai secara maksimalsesuai dengan haraoan klien didampingi mentor. Para telent itu berasal dari SMK, komunitas, mahasiswa dan pelaku-pelaku freelance yang sudah bekerja dibidangnya,” ungkapnya.
Disinggung muasal mentor, Khoirul mengaku berasal dari mentor yang sudah expert. Sedang kliennya berasal dari perusahan besar maupun kecil dan UMKM. ” Pekerjaanya bisa web developer, desaign grafis, contain writer dan sebagainya. Program ini sudah berjalan, tinggal lounching gedung EJSC yang ada di Bakorwil V Jember. Kedepan MJC akan koordinasi dengan OPD,” jelasnya.
Keberadaan MJC ini direspon positif oleh Umar Sawawi Tashar dari Yayasan Matahati Kita Indonesia yang ada di Jember. Menurut Umar, keberadaan MJC ini sangat dibutuhkan bagi para talent. Karena, ia melihat ada missinglist antara talent dengan perusahaan. Ilmu yang didapat di akademis berbeda dengan dunia kerja profesional sesungguhnya.
“Ilmu yang didapat di akademisi, ladang jauh berbeda dengan industri profesional maupun industri kreatif. Sangat jauh antara kebutuhan pasar kerja dengan ilmu yang ditempa disekokah. MJC ini diharapkan sebagai jembatan tejadinya miss tadi. MJC bisa melihat kebutuhan pasar, sehingga MJC ini mencetak talent sesuai dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Keberadaan MJC bisa mampu menciptakan ekosistem talent yang kreatif dan bisa mengarahkan. Selain itu, MJC ini harus mampu sebagai penghubung. ” MJC ini memiliki jaringan dan kebijakan dan talent punya wadah yang bisa menjawab tantangan. Sebagai startup, biasanya kalah saing dengan freelancer yang sudah lama. Sehingga, MJC ini perlu memberikan pelatihan lebih kepada para talent, sehingga tidak minder dan terkoneksi dengan kebutuhan,” pungkasnya.(efi)

Tags: